JAKARTA, investor.id – MNC Sekuritas menilik kondisi riil saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM). GGRM menguat 1,19% ke 16.950 pada Jumat (23/10/2026), didukung dominasi volume pembelian dan pergerakan harga di atas MA20.
“Kami perkirakan posisi GGRM berada pada bagian wave B dari wave (B),” tulis MNC Sekuritas dalam ulasannya, Senin (26/10/2026).
Broker sekuritas merekomendasikan perdagangan beli GGRM pada kisaran 16.850-16.925. Dengan target harga : 17.425, 17.850. Stoploss: di bawah 16.750.
Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) justru terdorong angin saat pasar bergejolak akibat pengumuman MSCI terkait kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia.
IKLAN
Sejak 15 Oktober hingga 23 Oktober 2026, saham emiten rokok ini selalu mencatatkan aksi beli bersih alias net buy. pembelian bersih dari investor asing.
Termasuk pada 16 Oktober 2026 saat pasar ambruk 11,57% (indeks harga saham gabungan/IHSG), saham Gudang Garam disapu pembelian bersih investor asing Rp 24,37 miliar.
Saat itu, saham GGRM juga turun 12,07%.
Namun kini GGRM sedang naik daun. Sepanjang pekan ini, 19 – 23 Oktober, harga saham Gudang Garam naik 10,78% ke Rp 16.950 dengan angka pembelian bersih investor asing Rp 17,54 miliar.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi tersebut membeli Saham GGRM di harga wajar Rp 22.000.
Risiko utama saham GGRM, tulis Phintraco, adalah masih adanya penjualan rokok ilegal, melemahnya daya beli masyarakat, dan ketidakpastian cukai rokok.
Gudang Garam (GGRM) sendiri mencatatkan pemulihan profitabilitas yang signifikan pada semester I 2026, dari laba usaha menjadi laba bersih.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, laba kotor perseroan mencapai Rp5,99 triliun atau meningkat 58% pada semester I 2026, terutama didorong oleh penurunan beban pendapatan sebesar 13% menjadi Rp35,19 triliun. Penurunan ini terutama berasal dari biaya pita cukai, PPN, dan pajak rokok yang turun sebesar 14% sehingga mampu menopang ekspansi margin di tengah penurunan pendapatan.
Pada level operasional, laba usaha GGRM meningkat 659,6% menjadi Rp3,9 triliun per Juni 2026, seiring dengan penurunan beban usaha sebesar 33,9% dan peningkatan pendapatan lain-lain sebesar 28,5%. Peningkatan profitabilitas tersebut kemudian tercermin pada laba bersih yang tumbuh signifikan sebesar 2.440% menjadi Rp 2,98 triliun.
Namun secara triwulanan, pertumbuhan laba mulai menunjukkan normalisasi, laba bersih turun 6,5% pada triwulan II dari Rp 1,54 triliun pada triwulan sebelumnya, tulis Phintraco.
Sedangkan volume penjualan GGRM pada semester I-2026 mencapai 20,5 miliar batang, turun 13,6%, dimana mayoritas berasal dari segmen SKM HT sebesar 17,4 miliar batang atau 85,2% dari total produksi, sedangkan SKT & SKL mencapai 3 miliar batang dan SKM LT 0,09 miliar batang. Penurunan volume mendorong penurunan pendapatan penjualan sebesar 7,2%.
(tipe semat=stok)GGRM(/embed
Editor: Theresa Sandra Desfika
Menambahkan
![]()
sebagai pilihan
sumber di Google
+
Ikuti Saluran Telegram Resmi kami akan mengupdate artikel investor.id
Mengikuti
Baca berita lainnya di Google Berita
Baca Sekarang
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














