Jakarta, Beritasatu.com – Popularitas di media sosial seringkali dijadikan tolak ukur keberhasilan komunikasi. Faktanya, konten yang viral belum tentu benar adanya, sedangkan perhatian publik yang besar tidak serta merta menjadikan seseorang bisa dipercaya.
Praktisi komunikasi Devie Rahmawati menilai ungkapan tersebut publisitas buruk tetaplah publisitas atau publisitas buruk tetaplah publisitas yang perlu ditinjau. Sebab, dikenal luas tidak berarti memiliki kredibilitas dan reputasi yang baik.
“Perhatian tidak selalu sukses, viral tidak selalu kemenangan, dan terkenal bukan berarti bisa dipercaya,” kata Devie kepada Beritasatu.com.
Dijelaskannya, komunikasi memiliki tiga unsur yang perlu dibedakan, yaitu visibilitas, kredibilitas, dan reputasi. Visibilitas membuat seseorang dikenal, kredibilitas melahirkan kepercayaan, sedangkan reputasi menentukan bagaimana seseorang tetap dihargai dalam jangka panjang.
IKLAN
Di tengah berkembangnya media sosial, popularitas bisa terbentuk dalam waktu singkat. Namun kepercayaan membutuhkan proses yang lebih panjang melalui bukti, konsistensi, dan integritas.
“Sensasi menarik perhatian, substansi membangun kepercayaan, konsistensi menjaga reputasi,” ujarnya.
Devie meyakini publisitas yang buruk tidak selalu berdampak negatif. Kritik bisa menjadi peluang untuk memperbaiki keadaan, sedangkan kontroversi bisa membuka persoalan yang sebelumnya luput dari perhatian publik.
Namun kondisi tersebut berbeda dengan upaya sengaja untuk menciptakan sensasi melalui kebohongan atau manipulasi.
Menurutnya, mengungkap kebenaran yang tidak mengenakkan bisa mendorong perubahan. Sebaliknya, sensasi yang dibangun secara tidak bertanggung jawab berisiko meninggalkan masalah reputasi dalam jangka panjang, jelasnya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














