Bisnis.comJAKARTA — Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengganggu jarak pandang di sejumlah wilayah di Indonesia. Kondisi ini juga berdampak pada operasional penerbangan, meski belum ada laporan penutupan total bandara akibat kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan jarak pandang di sejumlah bandara di bawah 1 kilometer. Kondisi tersebut bersifat situasional dan dapat berubah setelah hujan turun.
“Kalau soal jarak pandang, ada beberapa bandara yang jarak pandangnya kurang dari 1 kilometer. Ini sangat situasional. Setelah hujan tentu jarak pandangnya akan lebih jauh,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (24/9/2026) malam.
Menurut Faisal, jarak pandang di sejumlah bandara lain berkisar antara 1.000 meter hingga 5.000 meter. BMKG memantau kondisi cuaca dan jarak pandang di hampir seluruh bandara di Indonesia untuk mendukung keputusan operasional penerbangan.
“Ada yang jarak pandangnya 1.000 sampai 5.000 meter, jadi BMKG ada di semua bandara, hampir di seluruh bandara di Indonesia, jadi kami juga memberikan masukan kepada AirNav untuk menentukan operasional bandara,” jelasnya.
Penerbangan Bisa Tertunda
Faisal mengatakan, kondisi jarak pandang yang berkurang bisa membuat operasional penerbangan menjadi disesuaikan. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah penundaan penerbangan untuk memastikan aspek keamanan dan keselamatan terpenuhi.
“Jadi terkadang ada penundaan, untuk memastikan keamanan dan keselamatan penerbangan bisa dijaga dengan baik oleh semua maskapai,” ujarnya.
Dia menegaskan, gangguan operasional akibat jarak pandang tidak selalu berujung pada penutupan bandara. Keputusan operasional akan menyesuaikan dengan kondisi aktual di masing-masing daerah.
Penutupan Mungkin Bersifat Sementara
Faisal mengatakan hingga saat ini dirinya belum mendapat informasi terkait penutupan total bandara akibat karhutla seperti yang terjadi pada kondisi lainnya. Namun penutupan sementara dapat dilakukan apabila jarak pandang tidak memenuhi syarat penerbangan.
“Kalau penutupan karena karhutla seperti yang terjadi kemarin ya, total ada 8 bandara yang ditutup saat terjadi erupsi Anak Krakatau, itu bukan saya, kami, dari informasi yang kami dapatkan,” ujarnya.
Menurut dia, pihak bandara dapat menghentikan sementara aktivitas penerbangan selama beberapa jam hingga kondisi jarak pandang kembali memungkinkan pesawat untuk lepas landas atau mendarat.
Tapi kalau penutupannya dalam jangka waktu tertentu, misalnya pagi hari selama 3 jam sampai ada jarak pandang yang memungkinkan take off atau landing, itu kadang diterapkan juga. Tergantung situasi, kata Faisal.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














