Payakumbuh – Sebanyak 171 Posyandu aktif dan 47 Unit Pelayanan Kesehatan Desa/Kelurahan (UPKDK) menjadi basis penguatan layanan kesehatan primer di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.
Penguatan itu diarahkan untuk memastikan pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga menjangkau upaya promotif dan preventif bagi masyarakat melalui pendekatan siklus hidup.
Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman mengatakan pembangunan kesehatan merupakan investasi mendasar untuk membentuk sumber daya manusia yang unggul, produktif dan berdaya saing.
“Pembangunan kesehatan merupakan investasi paling mendasar dalam mewujudkan sumber daya manusia yang unggul, cerdas, produktif, dan berdaya saing,” kata Elzadaswarman di Payakumbub, Selasa (22/09/2026).
Ia mengatakan perubahan paradigma pembangunan kesehatan sejalan dengan arah RPJMN 2025-2029 dan transformasi kesehatan nasional yang mendorong penguatan pelayanan primer.
Pemerintah daerah, menurut dia, perlu memastikan masyarakat tetap sehat sebelum mengalami sakit melalui penguatan pencegahan, promosi kesehatan, kualitas SDM kesehatan, transformasi digital dan pembiayaan kesehatan yang berkelanjutan.
“GERMAS bukan sekadar program milik pemerintah, melainkan gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Elzadaswarman mengatakan budaya hidup sehat harus dimulai dari keluarga melalui aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, tidak merokok, pemeriksaan kesehatan berkala serta menjaga kebersihan lingkungan.
Pendekatan tersebut diperkuat melalui Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), Integrasi Layanan Primer (ILP) serta Posyandu yang kini memberikan pelayanan berdasarkan seluruh siklus kehidupan.
“Posyandu sekarang tidak hanya melayani ibu dan anak, tetapi bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat untuk deteksi dini penyakit dan edukasi kesehatan,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Payakumbuh dr. Yanti mengatakan transformasi layanan primer merupakan salah satu dari enam pilar transformasi kesehatan Kementerian Kesehatan.
Menurut dia, UU Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan PP Nomor 28 Tahun 2024 memperkuat struktur pelayanan kesehatan primer melalui Puskesmas dengan dukungan tenaga kesehatan dan kader.
“Transformasi pelayanan kesehatan primer bertujuan memberikan pelayanan yang berkualitas, komprehensif dan setara bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata Yanti.
Ia menjelaskan 171 Posyandu aktif di Payakumbuh pada 2026 telah diarahkan menjadi Posyandu siklus hidup.
Pelayanan mencakup ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita, anak prasekolah, usia sekolah dan remaja, usia dewasa hingga lanjut usia.
Selain Posyandu, 47 Pustu dan Pos Kesehatan Kelurahan di Payakumbuh bertransformasi menjadi UPKDK. Jumlah tersebut sesuai dengan 47 kelurahan yang ada di kota itu.
Yanti mengatakan kader menjadi penghubung antara masyarakat dan layanan kesehatan. Mereka menjalankan fungsi promotif, preventif serta pemantauan kondisi kesehatan warga.
“Kader kesehatan memiliki peran penting sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan primer. Mereka menjadi penghubung antara masyarakat dan layanan kesehatan,” ujarnya.
Untuk memperkuat kapasitas kader, Dinas Kesehatan Payakumbuh juga menggelar penilaian Kader dan Posyandu Bidang Kesehatan Berprestasi Tingkat Kota Payakumbuh 2026.
Posyandu Tapak Dara Kelurahan Koto Tuo Limo Kampung dengan kader Afridawati dari Kecamatan Payakumbuh Selatan meraih peringkat pertama.
Peringkat kedua diraih Posyandu Delima 1 Kelurahan Koto Baru Payobasung dengan kader Putri Retno Intan dari Kecamatan Payakumbuh Timur.
Peringkat ketiga diraih Posyandu Manggis 3 Kelurahan Talang dengan kader Rahmi Yulianty dari Kecamatan Payakumbuh Barat.
Posyandu Tapak Dara selanjutnya mewakili Kota Payakumbuh pada tingkat Provinsi Sumatera Barat.
Yanti mengatakan penilaian tersebut tidak hanya menjadi ajang penghargaan, tetapi juga mendorong pertukaran praktik baik dalam pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan.
“Semoga dengan ini dapat menginspirasi kita semua untuk berbuat lebih baik dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan penguatan Posyandu membutuhkan dukungan sumber daya manusia, sarana dan prasarana serta anggaran yang memadai.
Pelaksanaannya juga perlu terintegrasi dengan kegiatan RT/RW sehat, Dasa Wisma, PKK, Karang Taruna dan berbagai kegiatan masyarakat lainnya.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Pelatihan Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat di Payakumbuh itu juga bertujuan membangun komitmen pemangku kepentingan tingkat kota, kecamatan dan kelurahan dalam penerapan Posyandu siklus hidup.
Elzadaswarman menegaskan penguatan layanan kesehatan membutuhkan keterlibatan lintas sektor, mulai dari pemerintah, kecamatan, kelurahan, tokoh agama, tokoh adat, organisasi wanita, dunia usaha, media hingga kader kesehatan.
“Kita ingin setiap keluarga di Payakumbuh menjadi keluarga sehat, setiap kelurahan menjadi kelurahan sehat, hingga akhirnya Payakumbuh siap berkontribusi mewujudkan Sumatera Barat yang unggul serta Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (red)
Editor : Rachmail Gucci
Sumber Berita: Dinas Kesehatan Payakumbuh














