ARUSBAWAH.CO – David Orange awalnya bukanlah orang yang tertarik terjun ke dunia politik.
Sebelum menjadi Ketua DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Samarinda, ia lebih banyak berkiprah sebagai wirausaha.
Politik, menurut David, bukanlah dunia yang ingin ia masuki sejak awal.
Namun, satu nama perlahan mengubah pandangannya.
Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
David mengaku mulai tertarik dengan Jokowi pada 2019.
Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2020, ia memutuskan bergabung dengan PSI secara online.
Saat itu, David bahkan mengaku tak mengenal siapa pun di PSI.
Ia hanya tertarik pada Jokowi dan sejumlah gagasan yang menurutnya diusung PSI.
Keinginan saya bergabung dengan PSI karena Jokowi, kata David saat berbincang dengan Arusdunia.co, Jumat (18/9/2026).
Apalagi, David melihat ada kesamaan latar belakang antara dirinya dan Jokowi, yakni sama-sama berasal dari dunia bisnis sebelum terjun ke dunia politik.
Ketertarikan ini bukan hanya karena Jokowi adalah presiden.
David mengatakan, perjalanan politik Jokowi sejak menjadi wali kota, gubernur, dan presiden menarik minatnya.
Ia melihat pola politik yang berbeda dari tokoh tersebut.
“Saya kagum dengan kiprahnya di kancah politik, dari bawah. Dari wali kota, gubernur, hingga presiden. Dan cara berpolitiknya yang sangat populis,” ujarnya.
Bagi David, kekaguman tersebut kemudian berjumpa dengan pengalamannya sendiri sebagai warga Samarinda.
David tinggal di Samarinda sejak 2007. Ia datang bersama istrinya.
Pengalamannya tinggal dan berwisata ke sejumlah daerah, termasuk ke luar negeri, membuatnya membandingkan kondisi Samarinda dengan kota lain.
Salah satu hal yang paling dirasakannya saat pertama kali menetap di Samarinda adalah masalah konektivitas.
Saat itu Samarinda belum memiliki bandara.
Jika ingin bepergian dengan pesawat, David harus ke Balikpapan terlebih dahulu.
Dari Balikpapan, perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Samarinda.
Ia masih ingat bagaimana perjalanan Balikpapan ke Samarinda melalui jalur kiloan saat itu bisa memakan waktu berjam-jam.
“Saat saya harus tinggal di Samarinda, saya sedih sekali karena ibu kota provinsi tidak memiliki bandara,” ujarnya.
Menurut David, kondisi jalan saat itu tidak seperti sekarang.
Jalan menuju Samarinda masih tergolong sempit dan belum didukung jalan tol.
Ia pun mempertanyakan bagaimana kota yang berstatus ibu kota provinsi dan juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang besar belum memiliki infrastruktur dasar seperti bandara.
Oleh karena itu, ketika melihat pembangunan infrastruktur di era Jokowi, David merasakan ada perubahan yang nyata.
Bandara APT Pranoto mulai beroperasi disusul pembangunan Tol Balikpapan-Samarinda yang memperkuat konektivitas Samarinda dengan Balikpapan
“Di tangan Jokowi, dalam beberapa tahun saja kita sudah punya bandara, kita sudah punya jalan tol. Semua infrastruktur kita dapat di bawah Pak Jokowi,” tuturnya.
Bukan hanya pembangunan fisik.
Tag
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














