Dengarkan artikel ini:
Audio ini dibuat menggunakan AI.
Dua mantan pembantu pertama Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang debut sebagai pemimpin negara, Widi Prasetijono dan Listyo Sigit Prabowo, menghadapi persimpangan jalan yang berbeda. Apakah ada pola di baliknya, atau hanya garis tangan yang tidak pernah bisa ditebak manusia?
PinterPolitik.com
Dalam perjalanan karirnya, ada orang yang tumbuh menjadi bintang, ada pula yang meredup ketika namanya begitu dekat dengan pusat perhatian.
Namun, bagaimana jika dua orang yang pernah menjalankan tugasnya sebagai ajudan Joko Widodo justru menghadapi persimpangan nasib yang berbeda dari apa yang masyarakat bayangkan?
Letjen TNI Widi Prasetijono tengah menghadapi kasus hukum terkait dugaan korupsi pengelolaan dana BUMD Cilacap, sedangkan Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo mengalami pergeseran jabatan dari Kapolri sebelum memasuki usia pensiun.
Keduanya memiliki riwayat kedekatan profesional dengan Jokowi saat masih menjabat Wali Kota Surakarta. Kini, perjalanan mereka masing-masing menunjukkan sisi kehidupan yang berbeda.
Widi menghadapi tuntutan hukum 10 tahun penjara dan pemecatan dari dinas militer, sementara Sigit meninggalkan jabatan yang pernah membawanya ke salah satu posisi terpenting di lembaga keamanan nasional.
Namun kesamaan sejarah tersebut tidak serta merta membuktikan bahwa ada hubungan antara pengalaman mereka sebagai ajudan dengan nasib mereka selanjutnya.
Tidak ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa keduanya mengalami konsekuensi politik akibat kedekatan di masa lalu.
Kasus hukum Widi harus dikaji melalui proses peradilan, sedangkan perjalanan Listyo menjabat perlu dipahami dalam konteks kelembagaan.
Padahal, di antara kedua cerita tersebut, ada ruang renungan yang lebih menarik, yakni garis tangan. Istilah ini hendaknya tidak dipahami sebagai keyakinan bahwa nasib ditentukan oleh kekuatan supranatural.
Keberadaannya dapat menjadi metafora tentang pertemuan antara pilihan, peluang, keadaan yang tidak terduga, dan keterbatasan manusia dalam mengendalikan jalannya kehidupannya.
Dalam politik, manusia terbiasa mencari pola di antara peristiwa-peristiwa. Namun, tidak semua kemiripan memiliki desain tersembunyi.
Terkadang, dua jalan berangkat begitu saja dari persimpangan yang sama sebelum berakhir di tempat yang berbeda.
Kebetulan Takdir
Filsuf Perancis, Jacques Monod, melalui gagasan peluang dan kebutuhanmelihat kehidupan melalui pertemuan antara kebetulan dan keniscayaan. Kehidupan tidak sepenuhnya bergerak sesuai rancangan yang dapat dipahami manusia.
Ada hukum, struktur, dan konsekuensi yang berlaku, namun ada juga peristiwa yang tidak dapat diprediksi sepenuhnya sebelumnya.
Kerangka ini menarik untuk dibaca tentang perjalanan Widi dan Sigit. Keduanya pernah menjalankan fungsi bodyguard untuk sosok yang sama, namun pengalaman tersebut tak lantas membuat keduanya memiliki masa depan yang seragam. Kesamaan masa lalu tidak menjamin kesamaan lintasan.
Widi menempuh perjalanan militer hingga mencapai posisi strategis sebelum menghadapi masalah hukum. Sigit membangun karir kepolisiannya hingga menduduki posisi Kapolri sebelum mengalami pergantian jabatan.
Kedua peristiwa ini mempunyai konteks, mekanisme, dan konsekuensi yang berbeda. Menggabungkannya sebagai satu cerita tentang nasib orang kepercayaan seorang pemimpin berisiko mengaburkan fakta.
Di sinilah metafora garis tangan mendapatkan relevansinya. Garis tangan bukanlah peta yang bisa dibaca untuk mengetahui masa depan secara keseluruhan. Analoginya lebih seperti gambaran yang baru muncul berpola setelah perjalanan berlangsung.
Jika menengok ke belakang, manusia seringkali menyusun peristiwa menjadi sebuah cerita yang terasa lengkap, seolah-olah setiap kejadian dari awal mengarah pada akhir tertentu.
Faktanya, akhir yang terlihat saat ini tidak dapat diprediksi kapan perjalanan dimulai.
Dalam psikologi kognitif, kecenderungan ini dikenal dengan istilah hindsight bias, yaitu kecenderungan menilai suatu peristiwa seolah-olah hasil akhirnya sudah bisa diprediksi sejak awal.
Ketika seseorang mengalami kemunduran, masyarakat mungkin tergoda untuk mengaitkannya dengan kedekatan di masa lalu, pilihan karier, atau konfigurasi politik tertentu.
Hubungan tersebut mungkin layak untuk ditelaah, namun tidak boleh dianggap benar hanya karena ceritanya masuk akal. Apalagi konteks permasalahan hukum dan dinamika politik yang abstrak berada di panggung depan.
Kesamaan riwayat Widi dan Sigit pun tak menjadi bukti bahwa nasib keduanya dikendalikan oleh satu tangan. Kemiripan tersebut nampaknya merupakan suatu kebetulan biografis yang menarik untuk direnungkan, sekaligus menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak selalu memberikan pola yang rapi bagi mereka yang ingin memahaminya.
Garis Tangan
Filsuf Stoa, Epiktetos, membedakan hal-hal yang berada dalam kendali manusia dan hal-hal yang berada di luar kendalinya.
Pilihan, penilaian, dan tindakan adalah area yang dapat dikerjakan, sementara reputasi, perubahan keadaan, dan banyak konsekuensi kehidupan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Ide ini membantu menempatkan kisah kedua mantan ajudan tersebut secara lebih proporsional.
Jabatan, ketertarikan profesional, dan rekam jejak mungkin menjadi bagian dari perjalanan seseorang, namun tidak menjamin hasilnya.
Setiap fase kehidupan menghadirkan variabel-variabel baru yang harus dihadapi dengan tanggung jawab individu.
Kasus hukum Widi memerlukan penilaian berdasarkan bukti dan proses peradilan, bukan semata-mata berdasarkan sejarah kedekatannya dengan Jokowi.
Sementara itu, karier Listyo di kantor tak perlu dijadikan tanda bahwa hubungan profesi masa lalu menentukan nasibnya saat ini.
Kisah tokoh lain seperti Try Sutrisno, Kunarto, Dibyo Widodo, Sutarman, Sutanto, dan Budi Gunawan juga menunjukkan bahwa pengalaman menjadi ajudan tidak menghasilkan pola karier yang seragam.
Masing-masing bergerak melalui peluang, kompetensi, keputusan, dan keadaan yang berbeda.
Mungkin itulah hikmah paling menarik dari garis tangan Widi dan Sigit. Dua orang mungkin memulai dari kedekatan profesional yang serupa, namun hidup tidak wajib menuliskan akhir yang sama untuk keduanya.
Kita mungkin mencari makna secara kebetulan, namun tidak perlu mengubahnya menjadi tuduhan. Kita mungkin melihat pola, namun kita tetap harus membedakan pola dari bukti.
Sebab, garis tangan paling mudah terbaca setelah perjalanan selesai. Sebelumnya, garis besarnya hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang belum menemukan bentuknya.
Dan manusia, betapapun dekatnya kekuasaannya, masih berjalan antara hal-hal yang dapat ia kelola dan peristiwa-peristiwa yang tidak pernah sepenuhnya berada dalam genggamannya. (J61)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














