Diterpa isu ijazah, Gibran tetap bertahan di bursa calon presiden berdasarkan hasil survei

- Redaksi

Kamis, 22 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (kanan). (MI/Usman Iskandar)

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai posisi Gibran yang menempati peringkat teratas dalam berbagai survei tak lepas dari tingkat popularitasnya yang menjangkau mayoritas masyarakat Indonesia. Dalam beberapa survei, Gibran berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan, serta mengungguli sejumlah tokoh nasional lainnya, termasuk Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Kita tahu, popularitas Mas Wapres juga cukup signifikan ya, di atas 90%. Kalau dibandingkan yang lain, masih 80-70%, itu belum pemerataan pengetahuan masyarakat,” kata Adi, dikutip dari siaran pers yang diterima, Rabu (21/10).

Menurut Adi, tingkat pengakuan masyarakat menjadi faktor penting dalam survei elektabilitas, terutama ketika masyarakat diminta menyebutkan calon presiden secara spontan.

Tokoh yang dikenal luas cenderung lebih mudah disebutkan oleh responden dibandingkan tokoh politik lain yang tingkat popularitasnya tidak merata.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa nama Gibran masih muncul di peringkat teratas survei meski terus mendapat berbagai kritik politik.

Diakui Adi, intensitas penyerangan terhadap Gibran relatif menonjol dibandingkan sejumlah tokoh politik lainnya. Namun, menurutnya, fenomena tersebut bukanlah hal baru.

“Iya kalau penyerangannya terkesan mengarah ke Gibran, itu bukan hal yang aneh ya. Karena sejak pencalonan tahun 2024, penyerangan terus menerus,” ujarnya.

Di sisi lain, Adi mengingatkan, tingkat popularitas seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat seleksi dalam survei. Ia menilai meski tingkat pengakuan terhadap Gibran sudah melampaui 90%, namun angka elektabilitas yang diperoleh menunjukkan masih ada tantangan dalam mengubah popularitas menjadi dukungan politik.

“Jadi wajar kalau Wapres masuk lima besar. Tapi kalau dilihat dari popularitasnya yang tinggi, lima besar, maksudnya apa? Yang kenal Wapres ternyata bukan yang dominan yang memilih, kira-kira begitu,” jelas Adi.

Menurut dia, berbagai isu dan sentimen politik yang berkembang, termasuk kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK), bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi preferensi masyarakat.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih menempati posisi empat besar survei elektabilitas calon presiden (capres) di tengah berbagai kritik dan polemik politik yang terus mengiringi perjalanan politiknya sejak Pilpres 2024.

Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis Minggu (18/10) menempatkan Gibran di peringkat keempat dengan elektabilitas 6,9% dalam simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind.

Hasil serupa juga terlihat pada survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Sabtu (17/10). Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas 8,4% dan menduduki peringkat keempat, di belakang Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei dilakukan pada 1–10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden. (Fal) Wapres Gibran Tetap Masuk Empat Besar Survei Capres Meski Diterpa Banyak Kritik

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai posisi Gibran yang menduduki peringkat teratas dalam berbagai survei tidak lepas dari tingkat popularitasnya yang menjangkau mayoritas masyarakat Indonesia.

Dalam beberapa survei, Gibran berada di bawah Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, dan Anies Baswedan, serta mengungguli sejumlah tokoh nasional lainnya, termasuk Ganjar Pranowo dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

“Kita tahu, popularitas Mas Wapres juga cukup signifikan ya, di atas 90%. Kalau dibandingkan yang lain, masih 80-70%, itu belum pemerataan pengetahuan masyarakat,” kata Adi, dikutip dari siaran pers yang diterima, Rabu (21/10).

Menurut Adi, tingkat pengakuan masyarakat menjadi faktor penting dalam survei elektabilitas, terutama ketika masyarakat diminta menyebutkan calon presiden secara spontan.

Tokoh yang dikenal luas cenderung lebih mudah disebutkan oleh responden dibandingkan tokoh politik lain yang tingkat popularitasnya tidak merata.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menjelaskan mengapa nama Gibran masih muncul di peringkat teratas survei meski terus mendapat berbagai kritik politik.

Diakui Adi, intensitas penyerangan terhadap Gibran relatif menonjol dibandingkan sejumlah tokoh politik lainnya. Namun, menurutnya, fenomena tersebut bukanlah hal baru.

“Iya kalau penyerangannya terkesan mengarah ke Gibran, itu bukan hal yang aneh ya. Karena sejak pencalonan tahun 2024, penyerangan terus menerus,” ujarnya.

Di sisi lain, Adi mengingatkan, tingkat popularitas seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat seleksi dalam survei. Ia menilai meski tingkat pengakuan terhadap Gibran sudah melampaui 90%, namun angka elektabilitas yang diperoleh menunjukkan masih ada tantangan dalam mengubah popularitas menjadi dukungan politik.

“Jadi wajar kalau Wapres masuk lima besar. Tapi kalau dilihat dari popularitasnya yang tinggi, lima besar, maksudnya apa? Yang kenal Wapres ternyata bukan yang dominan yang memilih, kira-kira begitu,” jelas Adi.

Menurut dia, berbagai isu dan sentimen politik yang berkembang, termasuk kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK), bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi preferensi masyarakat.

Diberitakan sebelumnya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka masih menempati posisi empat besar survei elektabilitas calon presiden (capres) di tengah berbagai kritik dan polemik politik yang terus mengiringi perjalanan politiknya sejak Pilpres 2024.

Hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dirilis Minggu (18/10) menempatkan Gibran di peringkat keempat dengan elektabilitas 6,9% dalam simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind.

Hasil serupa juga terlihat pada survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dirilis pada Sabtu (17/10). Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama calon presiden, Gibran memperoleh elektabilitas 8,4% dan menduduki peringkat keempat, di belakang Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Survei dilakukan pada 1–10 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.213 responden. (Jatuh/P-3)

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Bongkar Korupsi MBG, Jaksa Agung Didorong Jerat Korporasi dan Pelaku Miskin Pakai TPPU
BMKG prediksi curah hujan rendah di DIY hingga November, warga diminta mewaspadai cuaca ekstrem
Anggota DPR Puji Polisi Kawal Demo Mahasiswa, Minta Jadi Teladan Nasional
Jamaah Umroh Wajib Tahu, Masjid Nabawi Rilis Jadwal Terbaru Kunjungan Raudhah
Demo Revolusi 2 Pontianak Berakhir Ricuh, Mahasiswa Kecewa Tak Ditemukan Gubernur
Soal IKN: Mantan Ketua MK Puji Jokowi ‘Presiden Gila’, Profesor NTU Singapura Sebut Prabowo Lebih Suka Jakarta
Jabodetabek berpotensi diguyur hujan hari ini, siapkan payung sebelum bepergian
Jeep Renegade Generasi Terbaru Bersiap Lahir Kembali, Ini Bocorannya
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Bongkar Korupsi MBG, Jaksa Agung Didorong Jerat Korporasi dan Pelaku Miskin Pakai TPPU

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:01 WIB

BMKG prediksi curah hujan rendah di DIY hingga November, warga diminta mewaspadai cuaca ekstrem

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Anggota DPR Puji Polisi Kawal Demo Mahasiswa, Minta Jadi Teladan Nasional

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Jamaah Umroh Wajib Tahu, Masjid Nabawi Rilis Jadwal Terbaru Kunjungan Raudhah

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Diterpa isu ijazah, Gibran tetap bertahan di bursa calon presiden berdasarkan hasil survei

Berita Terbaru