MISKIN – Mengkritik kebijakan publik tidak cukup hanya sekedar menyampaikan penolakan atau ketidaksetujuan. Mahasiswa perlu memahami permasalahan, membaca data, dan membuat rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam MaFIA Institute 2.0 yang diselenggarakan oleh BEM Kementerian Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat), Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB).
Mengusung sebuah tema Kebijakan Publik di Era Kesetaraan atau kebijakan publik di tengah kesenjangan sosial, program ini dirancang sebagai wadah pengembangan kapasitas mahasiswa agar memiliki kemampuan berpikir kritis, analitis, dan tanggap terhadap berbagai permasalahan kebijakan publik dan administrasi.
Rangkaian MaFIA Institute 2.0 tidak hanya berupa seminar saja, namun juga mencakup kelas menulis dan drafting ringkasan kebijakan. Peserta kemudian melakukan audiensi dengan DPRD Kota Malang untuk menyampaikan rekomendasi kebijakan yang telah disusun melalui kelas tersebut.
Selain itu, Kastrat BEM FIA UB mengadakan lomba poster dan desain ringkasan kebijakan skala internasional. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup melalui seminar nasional pada Rabu (2/9/2026) di Auditorium Pandita Majapahit Brawijaya.
Pada acara tahun ini, MaFIA Institute 2.0 menghadirkan tiga pemateri dengan latar belakang berbeda yaitu Muhammad Al Fajar, Ketua BEM RDM FH UB 2026; Ahmad Jilul, Sekretaris Kabinet Bayangan; dan Anies Baswedan, mantan Gubernur DKI Jakarta.
Ketiganya membawa perspektif berbeda mengenai gerakan mahasiswa, pengawasan kebijakan publik, dan pengalaman kepemimpinan di sektor pemerintahan.
Pada sesi pemaparan materi, Ahmad Jilul menyoroti bahwa keabsahan hukum suatu kebijakan tidak serta merta menjamin keadilan bagi masyarakat. Ia mencontohkan proses legislasi seperti RUU Perampasan Aset dan RUU TNI merupakan persoalan yang perlu dilihat dari sisi keterlibatan masyarakat dalam pembentukan kebijakan.
Menurut Ahmad, kurangnya partisipasi masyarakat dapat menyebabkan kebijakan kurang mewakili kepentingan masyarakat, terutama kelompok yang memiliki sumber daya terbatas.
“Kebijakan yang sah secara prosedur belum tentu adil bagi masyarakat, karena dalam proses pembentukannya masyarakat tidak dilibatkan sepenuhnya,” kata Ahmad Jilul QF.
Ia menambahkan, pelajar sebagai kelompok yang mempunyai akses terhadap pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk memantau dan mengkritisi kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai dengan kenyataan atau janji pemerintah.
Cara pandang tersebut diperkuat oleh Muhammad Al Fajar yang menekankan pentingnya kajian berbasis data sebelum mahasiswa menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik.
Ia menjelaskan, kebijakan publik setidaknya harus memperhatikan tiga tujuan, yakni kepastian, keadilan, dan kemanfaatan. Ketiga tujuan tersebut tidak selalu mudah untuk dicapai secara bersamaan, sehingga perlu ditentukan skala prioritas yang tepat.
“Kita mengkritik bukan karena benci, tapi karena kita cinta. Lihat dulu datanya sebelum mengkritik,” ujar Muhammad Al Fajar dalam sesi diskusi bersama para peserta.
Sementara itu, Anies Baswedan menyoroti tantangan kepemimpinan di berbagai skala organisasi, mulai dari memimpin puluhan orang hingga jutaan warga negara. Menurutnya, kepemimpinan memerlukan kejelasan misi, nilai, dan strategi organisasi yang dijalankan secara konsisten.
Dalam pemaparannya, Anies juga mengingatkan pentingnya keberanian bertindak ketika menghadapi penyimpangan.
Penyimpangan ini terjadi bukan karena banyak orang jahat. Tapi karena banyak orang baik yang memilih bungkam dan bungkam, kata Anies Baswedan.
Dalam sesi tanya jawab, Anies juga menyampaikan pandangannya terkait komunikasi publik pemerintah dan peran pendidikan dalam membentuk pemimpin. Ia menekankan pentingnya orientasi kepemimpinan yang mengutamakan kebutuhan masyarakat, bukan kepentingan pribadi.
Melalui MaFIA Institute 2.0, Kastrat BEM FIA UB berharap mahasiswa tidak hanya memiliki kepekaan terhadap isu-isu kebijakan publik, namun juga mampu menghasilkan ide dan rekomendasi yang memberikan solusi terhadap permasalahan di tingkat regional dan nasional.
Kastrat BEM FIA UB berkomitmen untuk terus memantau permasalahan publik secara inklusif dan berbasis data melalui karya akademik yang dihasilkan mahasiswa.
Penyelenggaraan program ini juga diarahkan untuk mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-16 yaitu Lembaga Perdamaian, Keadilan dan Ketahanan.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














