Pemerintah Indonesia akhirnya menyoroti aksi demonstrasi yang dilancarkan sejumlah organisasi masyarakat (ormas) di kawasan pabrik mobil listrik raksasa BYD di Subang, Jawa Barat.
Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji menyikapi polemik tersebut dengan nada cukup santai. Alih-alih melihatnya sebagai krisis lapangan kerja atau ancaman terhadap iklim investasi, ia berpendapat bahwa gesekan antara produsen asing dan penduduk lokal semata-mata disebabkan oleh pertentangan sudut pandang (sudut pandang).
Baca juga: Gibran Ladeni Tantang Denny Indrayana, Siap Turun Gunung ke PTUN
“Terkadang perspektif itu Sudut pandangIni berbeda antar industri. Industri merasa sudah (menyerap tenaga kerja), sedangkan masyarakat merasa belum berbuat cukup. “Ini yang harus dipertemukan,” jelas Sarmuji, dikutip Sabtu (31/10/2026).
Guna meredam polemik, ia menekankan pentingnya pemerataan “frekuensi” komunikasi antara korporasi dan warga sekitar. Ia pun membuka opsi turun gunung untuk mengecek langsung ke lokasi jika permasalahan ini gagal diselesaikan secara bipartit di tingkat daerah.
“Penjelasannya harus sama frekuensinya. Jangan beda frekuensi, kalau beda frekuensi nanti jadi masalah,” tutupnya.
Respons diplomatis Menkeu ini berbeda dengan peringatan keras yang sebelumnya dikeluarkan DPR terkait bahaya premanisme terhadap investasi di Indonesia.
Sebelumnya, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno mengungkapkan gangguan dari ormas bukanlah kejadian baru di BYD.
Ia mendesak pemerintah bertindak agresif terhadap aksi premanisme berkedok ormas yang mengganggu pembangunan fasilitas produksi.
Baca Juga: Denny Indrayana Cs Pusing, Gibran: Saya Tidak Marah Kepada Siapa Pun, Bantu Saja…
Bagi parlemen, jaminan keamanan fisik merupakan landasan paling mendasar yang tidak bisa ditawar jika pemerintah serius menarik investor asing masuk ke negaranya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














