Fakfak – Ikan hasil tangkapan yang melimpah di Desa Saharey, Kabupaten Fakfak, selama ini hanya dijual dalam keadaan segar tanpa ada nilai tambah bagi masyarakat. Kini, melalui program bantuan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas), puluhan rumah tangga nelayan mengolah ikan hasil tangkapan menjadi bakso, pentol, nugget, sambal, kerupuk, dan suwiran daging. Dari usaha mandiri ini, mereka memperoleh penghasilan Rp400.000 hingga Rp800.000 per hari.
Pendampingan ini bermula dari temuan lapangan mengenai besarnya potensi perikanan di Distrik Weri-Saharey, khususnya ikan pelagis kecil dan ikan demersal. Jika dimanfaatkan secara optimal, potensi tersebut dapat memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan perekonomian warga.
“Selain peluang, kami juga melihat sejumlah tantangan, mulai dari kurangnya kemampuan pengolahan pasca panen, kurangnya teknologi tepat guna, hingga terbatasnya akses pemasaran. Akibatnya, nelayan tidak berani menangkap ikan dalam jumlah banyak karena takut membusuk, dan pendapatannya menjadi tidak menentu,” kata Adnan, anggota TEP UNHAS, pada Senin, 26 Oktober 2026.
Pelatihan yang diikuti oleh 20 rumah tangga nelayan dari kelompok Seir Saharey ini tidak hanya mencakup teknik pengolahan ikan hasil tangkapan, namun juga pengemasan dan pelabelan produk, sanitasi, manajemen usaha dan pemasaran.
Istri-istri nelayan dilatih cara memproduksi ikan olahan tanpa bahan pengawet dan mengoperasikan peralatan produksi seperti alat pengasapan dan penyegel vakum, sedangkan para nelayan mempelajari penanganan pascapanen melalui penggunaan cold storage yang mampu menyimpan hasil tangkapan selama 5-7 hari.
Dengan modal Rp. 100.000-Rp. 300.000 per hari, kelompok nelayan Seir Saharey memperoleh pendapatan sebesar Rp. 400.000-Rp. 800.000, atau sekitar tiga kali lipat modal.
Mama Nayu Ohoibor salah satu peserta pendampingan mengungkapkan perubahan yang dirasakannya. “Alhamdulillah, sekarang kita bisa mengelola abon, bakso, nugget, dan keripik berbahan dasar ikan. Dulu kita hanya makan dan menjualnya dengan harga murah. Dengan kegiatan ini kita bisa mengubah pendapatan kita dari sebelumnya mungkin sedikit, kita bisa menambah perekonomian dalam kehidupan kita ke depan,” ujarnya pada 26 Oktober 2026.

Upaya kemandirian pangan di Weri-Saharey sejalan dengan arahan pemerintah pusat. “Di dunia sekarang yang penuh konflik dan peperangan di mana-mana, kita harus swasembada pangan dan energi. Kita tidak boleh bergantung pada negara lain,” kata Presiden RI Prabowo Subianto pada Resepsi Syukuran HUT ke-100 Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada 19 September 2026.
Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Daerah Agus Harimurti Yudhoyono berpesan kepada TEP untuk memetakan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan mencari solusi terbaik untuk memajukan perekonomian masyarakat.
“Karena permasalahannya kan konteksnya lokal. Jadi kita bisa berpikir besar, sering kita pakai istilah think globally tapi act locally. Ultimately local,” kata Menko AHY dalam acara dinner dialog bersama Tim Ekspedisi Patriot di Jayapura, 17 September 2026.
Pesan serupa juga disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. “Transformasi transmigrasi saat ini bukan sekadar memindahkan orang, tapi memastikan tumbuhnya kesejahteraan di daerah,” ujarnya pada 27 April 2026. (GWK)
Sumber: Tim Kementerian Transmigrasi
Nomor : B.333/HM/00.00/X/2026
Biro Perencanaan, Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat
Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia
Untuk informasi lebih lanjut, hubungi:
Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia
Jl. TMP Kalibata No.17 Jakarta Selatan 12750Kementerian Transmigrasi Siapkan Anggaran 2027 yang Berdampak Langsung pada Masyarakat
(021) 7994372
(dilindungi email)
www.transmigrasi.go.id
7
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














