Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan di wilayah Jawa Timur (Jatim) hanya akan berlangsung selama empat bulan, yakni dimulai sekitar Desember hingga Maret 2026.
Pendeknya musim hujan disebabkan karena musim kemarau yang diperpendek, yaitu lebih lama atau tertinggal dua bulan dari kondisi normal.
Meski musim hujan berlangsung singkat, Kepala BMKG Kelas I Juanda Taufiq Hermawan mengatakan wilayah Jawa Timur diprediksi masih akan dilanda hujan dengan intensitas tinggi yang berpotensi memicu bencana di sejumlah wilayah rawan.
Untuk memitigasi dampak bencana hidrometeorologi, pemerintah daerah dan pihak terkait harus melakukan persiapan sejak dini, terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi.
“Karena curah hujannya pendek sekali. Ibarat dulu satu liter dengan dosis satu liter, sekarang dosisnya kecil atau empat bulan,” kata Taufiq, Kamis (29/10/2026).
Sementara sejumlah daerah yang perlu melakukan mitigasi sejak dini antara lain Malang, Bojonegoro, Jombang, dataran tinggi Nganjuk, dan Banyuwangi. Taufiq mengatakan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Februari 2026.
“Puncak musim hujan dominan terjadi pada Februari 2027,” ujarnya.
“Harus ada antisipasi, jangan sampai nanti kita bangun dan saling mencari arahan,” ujarnya. (Ym)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














