2 Tahun Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, gelombang penilaian tajam datang dari kekuatan partai oposisi. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melontarkan kritik keras dan memberi rapor merah terkait kinerja Kabinet Merah Putih.
Dikutip Rabu (21/10/2026) Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Mohamad Guntur Romli, terang-terangan mengatakan, realitas penyelenggaraan negara saat ini sangat jauh dari narasi sukses yang sering digaungkan Istana.
Baca juga: Gara-gara Jokowi sendiri, Roy Suryo yakin bisa lolos dari penjara
Ia memaparkan kinerja pemerintah dengan menguraikan lima kegagalan mendasar yang terjadi dalam 24 bulan terakhir. Guntur menegaskan, pihaknya menolak keras model evaluasi basa-basi yang hanya bertujuan untuk menyenangkan telinga penguasa atau sekadar sekedar basa-basi Selama kamu bahagia (ABS).
Menurutnya, sikap kritis tersebut merupakan perwujudan Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat. Ia mengklaim PDIP menuntut penilaian yang jujur, obyektif, dan berdasarkan realita terhadap situasi krisis nasional saat ini.
Guntur merinci lima sektor yang menjadi bukti nyata kegagalan tata kelola pemerintahan. Faktor kegagalan pertama yang mendapat sorotan tajam adalah lumpuhnya sistem mitigasi bencana ekologis.
Pemerintah dinilai gagap dan tidak siap menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat fenomena El Nino yang saat ini telah melumpuhkan sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Kegagalan kedua dan ketiga erat kaitannya dengan tata kelola program populis andalan pemerintah. Guntur mengecam keras kisruhnya pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Kedua megaproyek ini dinilai kurang memiliki perencanaan akademis, sangat rawan penyelewengan anggaran, dan terindikasi hanya menjadi sarana menyalurkan proyek senilai triliunan rupiah untuk segelintir elite, tanpa memberikan dampak kesejahteraan yang terukur bagi masyarakat kelas bawah.
Sedangkan poin kegagalan keempat dan kelima terdapat pada ranah stabilitas makroekonomi dan penegakan hukum di Indonesia.
PDIP menyoroti badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang memicu lonjakan angka pengangguran di berbagai sektor industri. Hal ini diperparah dengan sentimen negatif di pasar modal yang menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok. Di sisi lain, tekanan juga terjadi pada nilai tukar rupiah yang kini telah mencapai ambang batas psikologis Rp 18.000/Dolar AS.
Rentetan keterpurukan ekonomi ini sayangnya dibarengi dengan meningkatnya kasus korupsi di kalangan penyelenggara negara.
Baca juga: Kubu Jokowi Imbau Masyarakat Tak Terlibat Polemik Ijazah Gibran: Ini Bukan Isu Rakyat
PDIP berharap evaluasi kritis yang disampaikan tidak sekedar dianggap sekedar pemikiran sepintas atau serangan politik belaka. Catatan lima kegagalan fatal ini patut menjadi tamparan keras sekaligus bahan introspeksi serius bagi pemerintah guna memperbaiki tata kelola negara, menyelamatkan perekonomian yang terpuruk, dan mengembalikan orientasi kebijakan pada kesejahteraan rakyat secara nyata di sisa masa jabatannya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














