Denpasar, 14 September 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dan pengelola kawasan dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami. Upaya tersebut diwujudkan melalui sosialisasi dan simulasi gempa bumi dan tsunami yang dilakukan Stasiun Geofisika Denpasar bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Denpasar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur Bali, Senin (14/9).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00–15.00 WITA ini melibatkan petugas gedung di kawasan The Sanur. Tidak hanya memberikan pemahaman mengenai potensi bahaya gempa bumi dan tsunami, kegiatan ini juga menguji kesiapan prosedur, komunikasi, koordinasi, dan proses evakuasi jika terjadi bencana.
Kepala Stasiun Geofisika Denpasar Ma’muri menegaskan kesiapsiagaan perlu dibangun dalam kehidupan sehari-hari, terutama di wilayah yang memiliki aktivitas masyarakat dan wisata tinggi.
“Kegiatan ini dilakukan untuk membangun budaya keselamatan di kawasan The Sanur,” kata Ma’muri.
Menurutnya, sosialisasi dan simulasi merupakan sarana penting untuk memastikan pemahaman ancaman bencana tidak berhenti pada pengetahuan saja, namun dapat diterapkan dalam tindakan yang tepat ketika terjadi gempa atau tsunami.
Para peserta melakukan pre-test untuk mengukur pemahaman awal, sebelum menerima materi mengenai potensi bencana geofisika dan langkah mitigasinya. Setelah seluruh materi disampaikan, peserta mengikuti post-test, diskusi dan pembekalan sebagai persiapan pelaksanaan simulasi.
Kepala Divisi Keselamatan & Keamanan Sanur, Ni Luh, menyampaikan apresiasi atas kerja sama dengan BMKG dalam meningkatkan kapasitas kesiapsiagaan di daerah tersebut.
“Terima kasih kepada BMKG atas kerjasamanya dalam meningkatkan kapasitas daerah dalam menghadapi bencana gempa bumi dan tsunami,” kata Ni Luh.
Pada tahap simulasi, peserta dihadapkan pada skenario gempa kuat yang berpotensi memicu tsunami. Skenario tersebut menggambarkan gempa bumi berkekuatan 8,6 SR yang terjadi di selatan Bali pada pukul 13.40 WITA, dengan koordinat 10.46° LS dan 115.00° BT. Pusat gempa berada sekitar 136 kilometer selatan Kota Denpasar dengan kedalaman 30 kilometer.
Selain prosedur evakuasi, kejelasan integrasi informasi dan komunikasi menjadi faktor penting dalam memastikan respons dapat cepat dan terkoordinasi. Untuk itu, setiap penyewa perlu memiliki penanggung jawab yang jelas agar alur komunikasi dan koordinasi dapat berjalan efektif ketika menghadapi situasi darurat.
Melalui kegiatan tersebut, BMKG bersama BPBD Kota Denpasar mendorong kesiapsiagaan tidak hanya sekedar kegiatan sesaat, namun berkembang menjadi budaya keselamatan yang melekat pada seluruh elemen di kawasan Sanur.
Penguatan kapasitas, kejelasan prosedur, serta komunikasi dan koordinasi yang terintegrasi diharapkan dapat mendukung terciptanya respon yang cepat dan tepat dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami di Bali.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency













