tirto.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total terjadi 2.188 kejadian bencana di seluruh Indonesia selama 1–22 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, dua laporan terbaru adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Cilacap dan Boyolali, Jawa Tengah.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, mayoritas kejadian bencana nasional masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi, baik basah maupun kering.
“Hari ini laporan bencana di seluruh Indonesia pada tanggal 1 hingga 22 Oktober 2026 saat ini berjumlah 2.188 kejadian. Selain itu, hari ini terdapat 2 kejadian bencana kebakaran hutan dan lahan di Cilacap dan Boyolali,” kata Berton dalam konferensi pers di Studio Graha BNPB, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Di Jawa Tengah, penanganan karhutla juga menghadapi tantangan berat, terutama di daerah pegunungan dengan medan terjal. Kabupaten Karanganyar merupakan salah satu wilayah dengan luas wilayah terluas di luar enam provinsi prioritas penanganan karhutla, yaitu mencapai 490 hektar.
Berton mengatakan, api sudah mencapai Pos 2 Cemoro Kandang, Gunung Lawu. Kabut asap, angin yang tidak menentu, dan lereng yang curam juga mempersulit upaya pemadaman.
“Paling banyak yang bisa kami sampaikan di Karanganyar, Jawa Tengah seluas 490 hektare yang perlu kami tangani saat ini. Api sampai ke Pos 2 di Cemoro Kandang,” ujarnya.
Selain Gunung Lawu, kebakaran di lereng Gunung Sumbing dilaporkan menghanguskan lahan seluas 316 hektare.
Kasus kebakaran di Kalimantan masih menjadi yang tertinggi
Di antara wilayah yang menjadi fokus penanganan, Kalimantan mencatat total luas lahan terbakar mencapai 11.202 hektare. Angka tersebut tersebar di tiga provinsi, dengan Kalimantan Tengah menjadi wilayah terdampak terluas yakni 7.938 hektare.
Disusul Kalimantan Selatan dengan luas terbakar 1.974 hektar, sedangkan Kalimantan Barat tercatat 1.290 hektar. BNPB menyatakan penanganan masih berlangsung di tiga provinsi tersebut.
“Kami menemukan luas lahan yang terbakar mencapai 11.202 hektare di tiga provinsi tersebut dan ini terus dilakukan penanganan,” kata Berton.
Untuk mempercepat pemadaman, BNPB mengerahkan 38.772 personel gugus tugas darat di Kalimantan. Jumlah ini meningkat hingga empat kali lipat dibandingkan pengerahan biasanya.
Sebanyak 16.387 personel ditempatkan di Kalimantan Tengah, 14.458 personel di Kalimantan Barat, dan 7.927 personel di Kalimantan Selatan.
Penanganan juga diperkuat 34 unit alutsista udara untuk mendukung patroli, pemadaman melalui water bombing, dan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Sebanyak 14 unit berpusat di Kalimantan Selatan, sedangkan Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat masing-masing 10 unit.
Namun bukan berarti setiap provinsi akan langsung mematok angka tersebut. Karena dari Kalimantan Selatan misalnya, alutsista ini bisa kita kerahkan untuk membantu Kalteng, mengingat kebutuhan yang ada, jelasnya.
Kualitas Udara di 4 Wilayah Sumatera Statusnya Sangat Tidak Sehat
Di Sumatera, luas lahan yang ditangani dalam operasi karhutla tercatat seluas 7.219 hektar. Luas wilayah ini merupakan keseluruhan Sumatera Selatan dan Jambi.
“Luas lahan yang ditangani seluas 7.219 hektare. Dan sebagian besar berasal dari Sumsel sebesar 5.194 hektare dan di Jambi sebesar 2.025 hektare,” jelas Berton.
BNPB melaporkan pengerahan 33.106 personel gabungan untuk penanganan karhutla di Sumatera, 12.285 personel di antaranya disiagakan di Sumsel dan 5.984 personel di Jambi.
Untuk operasi udara, BNPB menyiagakan 17 unit alutsista yang mendukung patroli, water bombing, dan OMC.
Sedangkan untuk Provinsi Riau, Berton menyatakan penanganan fisik karhutla saat ini tercatat nihil karena tidak ada lagi laporan baru karhutla yang masuk.
Operasi modifikasi cuaca di provinsi tersebut juga telah berakhir sejak akhir September, karena hujan turun secara alami.
“Saat ini di Riau sudah tidak ada lagi penanganan karhutla karena tidak ada lagi laporan yang masuk ke kami. Untuk di Riau, OMC berakhir pada 25 September 2026 karena di sana turun hujan alami,” kata Berton.
Meski demikian, personel di Riau masih bersiaga di lapangan. Mereka dapat kembali bertugas bila diperlukan pemadaman listrik atau dialihkan untuk membantu penanganan di wilayah lain.
Meski penanganan kebakaran di darat dilaporkan nihil, namun kondisi udara di Riau belum sepenuhnya bersih.
Direktur Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Kemudian Suyanti mengungkapkan, data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) masih menunjukkan kualitas udara sangat tidak sehat di empat wilayah di provinsi tersebut.
Untuk Riau, kita melihat data di sini ada empat daerah yang masuk kategori sangat tidak sehat, kata Suryani dalam kesempatan yang sama.
Es Kering Berhasil Membuka Visibilitas di Kalimantan Tengah
Guna mengurangi kabut asap tebal yang mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan, BNPB menggencarkan OMC dengan menggunakan dry ice di Kalimantan Tengah.
Pada 21 Oktober, operasi ini meliputi lima sorti penyemaian es kering dan lima sorti garam (NaCl) dari posko Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Berton mengatakan, penyemaian tersebut diikuti dengan penurunan konsentrasi partikel halus PM2.5 sekitar 19 persen, dari 668,7 pada pukul 09.00 WIB menjadi 540,3 pada pukul 14.00 WIB.
Peningkatan juga terlihat pada jarak pandang di Landasan Udara Iskandar, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat.
Berdasarkan pantauan BNPB, jarak pandang meningkat dari 200 meter menjadi 2.500 meter pada pukul 14.00 WIB.
Berton menegaskan, cara utama pemadaman karhutla masih mengandalkan pemadaman sumber api dengan gugus tugas darat.
“Untuk dry ice ini bukan kegiatan pemadaman yang utama. Kegiatan utama tetap satgas darat yang lebih efektif memadamkan sumber masalahnya yaitu kebakaran,” jelasnya.
Penyemaian es kering, kata dia, dimaksudkan untuk membantu meningkatkan visibilitas dengan memecah asap.
“Jadi mekanismenya, es kering ditaburkan antara 5.000 hingga 7.000 m di bawah lapisan asap. Nah karena dinginnya es kering ini, maka ia akan berusaha membubarkan asapnya agar matahari bisa muncul, terlihat, dan asap dari bawah semakin naik. Sehingga jarak pandang bisa terlihat,” jelas Berton secara rinci.
Bantuan Luar Negeri untuk Pengadaan Alat dan Teknologi
Menyusul tawaran dukungan dari sejumlah negara, termasuk Jepang dan Singapura, Berton mengatakan bantuan tersebut akan diprioritaskan untuk beberapa kebutuhan yang belum tersedia di dalam negeri.
Terkait wacana dukungan internasional terhadap penanganan karhutla di Indonesia, sejumlah negara telah menawarkan bantuan kepada Indonesia, antara lain Jepang dan Singapura. Kami mengapresiasi dan menghormati seluruh tawaran dari berbagai negara yang telah disampaikan kepada Indonesia, kata Berton.
Namun, pemerintah akan memetakan terlebih dahulu jenis bantuan yang dibutuhkan agar dukungan internasional dapat digunakan secara tepat. Pengadaan alat dan teknologi yang belum dimiliki Indonesia menjadi salah satu fokus perlunya bantuan dari luar negeri.
“Pemerintah akan menginventarisasi jenis bantuan yang dibutuhkan agar bantuan dari luar negeri benar-benar efektif dan tepat sasaran. Kebutuhan bantuan dari luar negeri lebih mengarah pada pengadaan alat dan teknologi yang saat ini belum dimiliki Indonesia,” pungkas Berton.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














