Nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terpuruk pada perdagangan Senin (26/10/2026). Rupiah ditutup pada Rp. 18.135 per dolar AS terkoreksi 0,30 persen, sedangkan IHSG turun 1,22 persen atau 66,17 poin menjadi 5.373,09. Koreksi indeks tersebut mengakhiri tren penguatan selama empat hari perdagangan sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan berlapis pada pasar keuangan Indonesia. Investor masih mencermati ancaman penurunan status pasar saham Indonesia yang dilakukan Morgan Stanley Capital International (MSCI) akibat isu transparansi kepemilikan saham dan dugaan transaksi terkoordinasi. Hingga 23 Oktober, penjualan bersih investor asing di pasar saham mencapai Rp 94,87 triliun sejak awal tahun. Ketidakpastian global, termasuk kenaikan harga minyak dan arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, juga menjadi kekhawatiran para pelaku pasar. Di tengah tekanan tersebut, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyebut volatilitas rupiah merupakan volatilitas yang biasa terjadi di pasar. BI, kata dia, terus memantau pergerakan nilai tukar dan menelusuri akar permasalahannya. Sementara itu, Bursa Efek Indonesia bersiap memperkuat pengawasan terhadap saham-saham yang konsentrasi kepemilikannya tinggi dan diduga ada transaksi terkoordinasi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya memulihkan kepercayaan investor di tengah tuntutan perbaikan tata kelola pasar modal. BACA BERITA LENGKAP, KLIK DI SINI
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














