PENDAPAT (Lentera) – Banyak hal yang bisa diingat dari seorang pemimpin. Namun, bagi kami insan pers di Jatim, Mayjen TNI Rudy Saladin, mantan Pangdam V/Brawijaya bukan sekedar pemimpin militer yang meninggalkan jejak dalam tugas teritorialnya.
Beliau merupakan sosok yang mampu memberikan kesan mendalam tentang bagaimana seorang pemimpin membangun hubungan yang hangat, akrab, terbuka, dan saling menghormati dengan orang lain, termasuk insan pers.
Kini, saat Jenderal Rudy mendapat amanah baru sebagai Wakil Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (Wadansesko TNI), banyak catatan dan kenangan yang patut disampaikan sebagai ungkapan terima kasih, persahabatan, dan rasa hormat.
Sebagai Ketua PWI Jatim, saya merasa Rudy Saladin memahami pers bukan sekedar sebagai lembaga penyampai berita, namun juga paham bahwa pers adalah bagian penting dalam kehidupan demokrasi, berperan mencerahkan, mendidik, sekaligus menjadi jembatan strategis antara kebijakan dan masyarakat.
Pemahaman seperti ini merupakan modal penting bagi terjalinnya hubungan yang sehat antara TNI dan pers. Bukan hubungan yang dibangun atas dasar kepentingan sesaat, namun atas kesadaran bahwa keduanya mempunyai ruang yang sama dalam mengabdi kepada bangsa dan negara.
Satu hal yang membuat Rudy Saladin begitu mengesankan adalah gaya komunikasinya yang santai, lancar, dan egaliter. Sebagai seorang jenderal, ia tentu memiliki martabat dan wibawa.
Namun dalam berkomunikasi, Rudy tidak menjadikan pangkat sebagai penghalang. Bersama jurnalis, dengan publik, dan dengan publik, ia mampu menampilkan dirinya secara terbuka dan rendah hati. Inilah potret kepemimpinan yang menunjukkan bahwa kewibawaan tidak harus dibangun melalui jarak, namun bisa tumbuh melalui kedekatan dan rasa hormat terhadap orang lain.
Ada pun momen yang menjadi catatan tersendiri dalam hubungan PWI Jatim dengan Kodam V/Brawijaya. Saat Rudy Saladin menjabat Pangdam, untuk pertama kalinya ada penghargaan bagi jurnalis. Sebuah ide yang terasa unik dan bermakna.
Selama ini jurnalis lebih sering berada pada posisi pemberi penghargaan kepada pemangku kepentingan melalui pemberitaan dan berbagai penghargaan.
Namun, Rudy Saladin membalikkan pandangan tersebut. Jurnalis yang selama ini memberikan apresiasi kepada banyak pihak ini justru mendapat penghargaan dari seorang Panglima Militer, dari institusi militer. Pesan sederhana namun sangat kuat: jurnalis juga berhak dihormati atas kerja, dedikasi, dan pengabdiannya.
Dari segi teritorial, kepemimpinan Rudy Saladin juga meninggalkan kesan yang kuat. Tugas seorang Panglima Militer tidak hanya menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga membangun persatuan antara TNI dan rakyat, serta mendorong kehidupan sosial masyarakat yang lebih baik.
Di ruang pelayanan, Rudy Saladin menunjukkan bahwa pendekatan teritorial tidak cukup hanya dengan kehadiran petugas, namun harus dibarengi dengan kepedulian, komunikasi dan keterlibatan nyata dalam kehidupan masyarakat. Dimensi kepemimpinan inilah yang menjadikan dinas militer memiliki makna yang lebih luas bagi kehidupan bermasyarakat.
Peralihan tugas ke Wadansesko TNI tentunya merupakan bagian dari perjalanan pengabdian seorang prajurit. Bagi Rudy Saladin, amanah baru ini juga membuka ruang untuk berbagi pengalaman, wawasan, dan nilai-nilai kepemimpinan kepada generasi TNI berikutnya.
Kami yakin pengalamannya membangun komunikasi dengan berbagai kalangan, termasuk pers, akan menjadi bekal berharga dalam menjalankan tugas barunya. Sebab, kepemimpinan yang baik bukan hanya kemampuan memberi perintah, namun juga kemampuan memahami orang lain, membangun kepercayaan, dan menjaga kebersamaan.
Saya atas nama PWI Jatim menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Mayjen TNI Rudy Saladin atas persahabatan, keterbukaan dan keteladanan yang telah diberikan selama bertugas di Kodam V/Brawijaya. Namun, izinkan saya mengatakan sesuatu yang lebih pribadi.
Bagi saya, Rudy Saladin bukan sekedar panglima militer yang mempunyai hubungan baik dengan insan pers. Beliau adalah sahabat yang membuat kami merasa dihargai, didengarkan dan diterima tanpa hambatan pangkat atau profesi.
Semoga sukses di posisi baru Anda, Jenderal. Jawa Timur mungkin bukan lagi tempat tugas Anda, namun silaturahmi yang telah terjalin tentu tidak berhenti dengan adanya perubahan posisi.
Saya yakin, di mana pun Anda mengemban amanah, nilai-nilai kepemimpinan yang rendah hati, keterbukaan, dan kepedulian terhadap sesama akan tetap menjadi bagian dari diri Anda. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan dan keberkahan dalam setiap langkah pengabdian anda.
Penulis: Ketua PWI Jatim, Lutfil Hakim/Editor: Ais
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency













