Sebaran potensi hujan tidak merata, kondisi kering dan panas masih perlu diwaspadai
Minimnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan masih menjadi ciri kondisi cuaca di sejumlah wilayah di Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. Situasi ini terjadi di tengah pengaruh cuaca buruk. El Niño sangat kuat dan Dipol Samudera Hindia (IOD) positif. Pada periode tersebut, suhu udara maksimum mencapai 39,2°C di Lampung dan 39°C di Jawa Barat pada 21 Oktober 2026. Sementara di Kalimantan Selatan, suhu maksimum tercatat 38,7°C pada 20 Oktober 2026. Kombinasi berkurangnya tutupan awan dan terbatasnya ketersediaan air hujan dapat meningkatkan pemanasan permukaan di siang hari dan mempercepat penurunan kandungan air vegetasi, yang pada akhirnya meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Kondisi panas dan relatif kering ini juga perlu diwaspadai terkait dengan berkembangnya titik panas (hotspot) di Indonesia. Selama 10 hari terakhir, jumlah titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi terbanyak terjadi di Kalimantan Tengah, yakni 3.794 titik. Jumlah berikutnya terpantau di Sumsel sebanyak 1.595 titik dan Papua Selatan sebanyak 1.516 titik. Sejalan dengan perkembangan tersebut, penyebaran asap masih terdeteksi di sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kondisi ini semakin memperkuat pentingnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di wilayah terdampak.
Di tengah kondisi kemarau yang masih terjadi di sejumlah wilayah, beberapa wilayah di Indonesia masih terus mengalami hujan lebat hingga ekstrem pada periode 19-21 Oktober 2026. Curah hujan harian tercatat sebesar 190,6 mm/hari di Sumatera Utara, 130,7 mm/hari di Sumatera Barat, 119,0 mm/hari di Aceh, 83,0 mm/hari di Kalimantan Barat, dan 78 mm/hari di Papua Tengah. Peristiwa ini dipicu oleh kegiatan MJO, Kelvin Waves, Waves Campuran Rossby-Gravity (MRG), angin yang melambat dan menyatu, serta suhu permukaan laut yang relatif hangat. Faktor-faktor tersebut dapat mendukung berkembangnya awan konvektif khususnya di wilayah Sumatera bagian utara dan barat serta sebagian Kalimantan.
Dinamika Atmosfer Minggu Depan
Prakiraan periode III Oktober hingga II November 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami curah hujan rendah hingga sedang, berkisar 0–150 mm/dasarian. Sejumlah wilayah yang diperkirakan masih berpotensi mengalami kondisi relatif kering antara lain sebagian Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan. Kondisi tersebut masih didukung oleh fenomena tersebut El Niño sangat kuat dan Indeks Mode Dipol (DMI) bernilai positif yang secara umum cenderung menurunkan aktivitas konvektif di Indonesia.
Namun dinamika atmosfer regional dan lokal masih dapat memicu terjadinya hujan di sejumlah wilayah. Dinamika atmosfer dalam sepekan ke depan diperkirakan masih akan ditandai dengan aktivitas MJO di sejumlah wilayah perairan dan darat, antara lain wilayah Samudera Hindia sebelah barat Aceh dan Kepulauan Nias, perairan sekitar Aceh, Selat Malaka bagian utara dan tengah, perairan Tamiang-Langsa, serta Samudera Pasifik utara Papua. Selain itu, Gelombang Rossby Khatulistiwa diperkirakan masih aktif di Laut Natuna Utara. Dinamika tersebut berpotensi mendukung tumbuhnya awan hujan, terutama di wilayah dengan kondisi atmosfer tidak stabil dan massa udara terkonsentrasi.
Tak hanya MJO dan gelombang atmosfer, sirkulasi siklon di perairan barat Aceh dan Samudera Pasifik utara Papua juga diperkirakan mempengaruhi pola angin regional. Sementara itu, berkumpul dan melambatnya angin berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua sehingga dapat mendukung pertemuan massa udara dan tumbuhnya awan hujan. Kondisi atmosfer yang cukup labil di sebagian wilayah Sumatera bagian utara hingga tengah, Jawa, Kalimantan, dan Papua juga memperkuat potensi terjadinya konveksi. Kombinasi tersebut berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Oleh karena itu, rendahnya akumulasi curah hujan dalam skala harian tidak menutup kemungkinan terjadinya curah hujan dalam skala harian yang signifikan, terutama karena pengaruh dinamika atmosfer regional dan lokal.
Potensi Hujan dalam Seminggu Kedepan
Periode 23 – 25 Oktober 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi cerah, berawan hingga hujan ringan. Membutuhkan Hati-Hati terjadi peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan potensi wilayah terjadinya sebagai berikut:
- Waspada (hujan lebat – sangat deras): Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat dan Kalimantan Utara.
- Angin kencang: Kep. Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.
Periode 26 – 29 Oktober 2026
Cuaca di Indonesia umumnya didominasi cerah, berawan hingga hujan ringan. Membutuhkan Hati-Hati terjadi peningkatan hujan intensitas sedang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, DI Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Pegunungan Papua, Papua dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan potensi wilayah terjadinya sebagai berikut:
- Waspada (hujan lebat – sangat deras): Riau, Jawa Barat dan Jawa Tengah.
- Angin kencang: Aceh, Banten, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan dan Papua Selatan.
Menarik
Masyarakat diimbau terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang semakin kering seiring berlanjutnya musim kemarau. Penggunaan tabir surya diperlukan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.
Ketika kondisi kekeringan semakin parah, masyarakat dan pemerintah daerah disarankan untuk menghemat penggunaan air dan meningkatkan kesadaran akan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat untuk tidak membakar sampah atau membuka lahan sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.
Meski musim kemarau masih dominan, namun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang mungkin terjadi.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman aplikasi InfoBMKG dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.
Catatan: Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pemutakhiran pada tanggal 22 Oktober 2026 pukul 18.00 WIB.
Jakarta, 22 Oktober 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG
– Klik link ini jika PDF diatas tidak muncul.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














