SURABAYA (Lentera) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berhasil menduduki peringkat pertama dalam pemeringkatan Perguruan Tinggi Unggulan (PTNU) Nahdlatul Ulama Tahun 2026.
Unusa meraih nilai akhir sebesar 7,2323 dan menduduki posisi teratas Klaster Elit, dalam pemeringkatan yang diumumkan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) PBNU.
Bagi Unusa, hasil ini menjadi penyemangat untuk memperkuat peran perguruan tinggi NU dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sekretaris Jenderal LPTNU PBNU, Dr.rer. polisi. HM Faishal Aminuddin, M.Si. menjelaskan pemeringkatan tersebut bertujuan untuk memetakan perkembangan perguruan tinggi di ekosistem NU, serta mendorong peningkatan kualitas secara berkelanjutan.
Proses penilaian berlangsung lebih dari tiga bulan dengan melibatkan 284 perguruan tinggi yang tergabung dalam ekosistem Nahdlatul Ulama. Penilaian dilakukan berdasarkan tujuh variabel dengan bobot berbeda.
“Variabel tersebut antara lain jumlah mahasiswa aktif, aset dan ketahanan finansial, kinerja penelitian dan publikasi ilmiah, jumlah guru besar dan profesor madya, reputasi akademik, prestasi alumni, serta keterhubungan dengan organisasi NU dan badan otonomnya,” jelas Faishal, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, posisi Unusa ditopang oleh capaian pada sejumlah variabel dengan bobot penilaian yang besar. Jumlah mahasiswa aktif yang mencapai lebih dari 5.000 orang, kinerja penelitian dan publikasi di jurnal bergengsi, serta pemanfaatan luaran penelitian menjadi beberapa faktor pendukungnya.
Selain itu, keterlibatan Unusa dalam pengabdian kepada NU dan anggotanya juga menjadi pertimbangan dalam penilaian.
“Jumlah mahasiswa aktif Unusa lebih dari 5.000 orang, prestasi penelitian dan publikasi di jurnal bergengsi, reputasi akademik yang mengesankan melalui berbagai luaran penelitian yang dimanfaatkan, serta hubungan yang intensif dalam pengabdian kepada NU dan anggotanya menjadi sejumlah faktor penting yang mendukung prestasi tersebut,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua LPTNU PBNU periode khidmat 2022–2026, Prof Ainun Na’im juga menyampaikan ucapan selamat atas prestasi yang diraih Unusa. Pemeringkatan ini dirancang sebagai stimulus agar perguruan tinggi NU terus meningkatkan kinerja dan kualitasnya.
Dalam skema penilaian PTNU 2026, jumlah mahasiswa aktif dan kinerja penelitian serta publikasi ilmiah masing-masing mendapat bobot 20 persen. Sedangkan jumlah profesor dan associate professor serta reputasi akademik masing-masing berbobot 15 persen.
“Tiga variabel lainnya yakni aset dan ketahanan finansial, prestasi alumni, serta keterhubungan dengan organisasi NU dan badan otonom masing-masing memiliki bobot 10 persen,” ujarnya.
Rektor Unusa, Prof Tri Yogi Yuwono memaknai prestasi ini sebagai pengingat bahwa semangat perjuangan santri perlu diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, perkembangan teknologi dan pengabdian yang berdampak pada masyarakat.
Semangat tersebut ia kaitkan dengan warisan Resolusi Jihad yang digagas Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Menurutnya, bentuk perjuangan saat ini telah berkembang, dari perjuangan fisik melawan penjajah hingga upaya mengatasi kebodohan, keterbelakangan teknologi, kemiskinan, dan permasalahan moral.
“Jika dulu perjuangannya fisik melawan penjajah, maka jihad modern adalah jihad melawan kebodohan, keterbelakangan teknologi, kemiskinan dan degradasi moral. Jihad santri masa kini adalah angkat pena, menguasai ilmu pengetahuan, melakukan penelitian dan menguasai teknologi agar bermanfaat bagi umat,” ujarnya.
Tri Yogi meyakini perguruan tinggi NU mempunyai tanggung jawab untuk menerjemahkan semangat tersebut menjadi karya nyata. Kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan akademis yang baik, namun juga perlu membentuk karakter yang tekun, disiplin, berintegritas dan beradab.
“Dunia tidak kekurangan orang-orang pintar, tapi kekurangan orang-orang yang tekun, tekun, disiplin dan beradab. Kecerdasan akademis bisa terus dilatih, apalagi dengan bantuan teknologi dan kecerdasan buatan. Namun integritas moral, kedisiplinan dan semangat juang merupakan ciri penting yang membedakan seseorang dalam menghadapi persaingan,” tegasnya.
Dalam pengembangan kelembagaan, Unusa menerapkan nilai-nilai HEBAT yaitu Pertumbuhan, Reputasi, Pemberdayaan, Kemajuan, Transformasi dan Keberlanjutan. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan bagi pengembangan pendidikan, penelitian, inovasi dan pengabdian kepada masyarakat.
Bagi Unusa, posisi puncak pemeringkatan PTNU 2026 bukanlah akhir dari perjalanannya. Pencapaian ini merupakan tanggung jawab untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan memperluas manfaat bagi masyarakat.
“Momentum Hari Santri dapat menjadi pengingat bahwa keunggulan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari prestasi akademis saja, namun juga kontribusi nyata dalam menjawab permasalahan masyarakat dan membawa manfaat bagi umat dan bangsa,” tutupnya.
Reporter: Amanah/Editor: Ais
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency













