EXPOSKALTIM, Jakarta – Aktivitas atmosfer yang dinamis secara spasial mengintai sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Pulau Kalimantan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di wilayah Kalimantan untuk mewaspadai potensi hujan lebat akibat dampak tikungan angin dan fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), setelah curah hujan ekstrem hingga 349 milimeter terbukti memicu banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Jawa.
Kepala Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi GGul Wulung Cilacap, Teguh Wardoyo menjelaskan, hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem melanda sejumlah wilayah mulai Jumat (30/10/2026) malam hingga Sabtu (31/10/2026) pagi.
Berdasarkan data curah hujan pada Sabtu pagi, di Bandara Nggul Wulung Cilacap tercatat 241 milimeter, Rawalo Banyumas 117 milimeter, Bendungan Piasa Kulon Somagede Banyumas 141 milimeter, dan DPU Banyumas 138 milimeter, kata Teguh di Cilacap, Sabtu.
Selain itu, curah hujan di Pos Pengamatan Dayeuhluhur tercatat 79 milimeter, Jeruklegi/Jambusari 349 milimeter, Rembang Purbalingga 158 milimeter, Maos 196 milimeter, dan Jeruklegi 107 milimeter.
Sebagai acuan teknis BMKG, kategori hujan ringan mempunyai intensitas 5-20 milimeter, hujan sedang 20-50 milimeter, hujan lebat 50-100 milimeter, hujan sangat lebat 100-150 milimeter, dan hujan ekstrem bila melebihi 150 milimeter per hari.
|
BACA JUGA Kekeringan Ekstrem di Kaltim Lumpuhkan Hulu Mahakam, Harga BBM Capai Rp 30 Ribu di Long Apari |
Tingginya curah hujan kemungkinan besar dipicu oleh aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) yang juga mempengaruhi dinamika atmosfer di Indonesia, jelas Teguh.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer BMKG per 31 Oktober 2026, indeks Southern Oscillation Index (SOI) tercatat minus 14,5, indeks ENSO di Niño 3.4 plus 2,88, dan Dipole Mode Index (DMI) plus 0,69. Ketiga indikator tersebut dinyatakan tidak berpengaruh langsung terhadap peningkatan pola konvektif di Indonesia.
Sedangkan MJO saat ini berada pada tahap 2 di Samudera Hindia, yang secara umum tidak banyak berkontribusi terhadap pembentukan awan hujan nasional. Namun tetap perlu diwaspadai dampak pergerakan spasialnya di wilayah lain, termasuk wilayah Kalimantan.
Namun secara spasial, aktivitas tersebut diperkirakan terjadi di sejumlah wilayah antara lain Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua, jelasnya.
Teguh menambahkan, dinamika atmosfer lainnya seperti tikungan angin dan daerah konvergensi juga berpotensi mendukung pertumbuhan awan hujan secara intensif. Kondisi ini meningkatkan potensi cuaca buruk yang perlu diantisipasi sejak dini oleh masyarakat.
“Kami menghimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak hujan lebat dan memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG,” tutup Teguh.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














