Artikel Terbaru | Ganto.co

- Redaksi

Senin, 5 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala PAUD Anarvani Eva Suryani menunjukkan buku pribadinya “Secercah Cahaya di Lorong Panjang” di PAUD Anarvani, Jumat (10/2/2026). Buku tersebut menceritakan tentang perjalanan hidup Eva.

Oleh:

Nurul Fauzah

“Kalau sekolah ini tutup, anak-anak kita tidak akan bersekolah, Bu,” kata Bu Eva menirukan orang tua yang anaknya pernah bersekolah di PAUD “žAnarvani”Ÿ. Kata-kata sederhana itu membekas begitu dalam, menjadi nafas bangunan dua lantai berwarna putih yang berdiri tegak di tepi pantai Kota Padang. Di tengah deru ombak yang memecah pantai, rumah tetap setia menjembatani impian anak-anak agar tidak kandas pada waktunya.

Berlokasi di Jalan Parkit 10 Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, sekitar 100 meter dari bibir pantai, berdiri rumah singgah Harapan, sebuah rumah pribadi milik Eva Suryani (58) yang akrab disapa Bu Eva. Rumah menjadi benteng harapan bagi masyarakat sekitar.

Tepat tiga belas tahun yang lalu, atas restu dan dukungan dari pihak camat setempat, Ibu Eva yang merupakan lulusan Sarjana Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Padang (UNP) berhasil mengetuk pintu perubahan dengan mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) “Anarvani”. Nama “Anarvani” merupakan singkatan dari Anak tentara Dan Eva Suryani, menggabungkan nama dia dan suaminya, Armi.

Pada awal berdirinya, yayasan ini merupakan gudang ilmu yang memberikan program seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), bimbingan belajar, dan pelatihan menjahit bagi warga. Sejak saat itu, Anarvani berdiri kokoh sebagai salah satu tonggak pendidikan yang tersembunyi di balik pesatnya kemajuan Kota Padang, terutama bagi kelompok masyarakat yang tidak mampu menyekolahkan anaknya.

Sebelum peletakan batu pertama, Bu Eva dihadapkan pada dua persimpangan antara gedung Lembaga Khusus dan Pelatihan (LKP) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Hatinya yang peka terhadap denyut masyarakat akhirnya menuntun langkahnya menuju jalur PKBM.

“Dulu antara LKP dan PKB, akhirnya ibu saya memilih PKB karena bekerja untuk sosial. Kalau LKP mungkin yang paling dicarinya adalah uang,” ujarnya.

Niat tersebut diwujudkan dengan menjadikan rumah pribadinya sebagai pusat Yayasan Anarvani. Bersama dengan kos-kosan pria di lantai dua, sekilas bangunan ini tampak seperti kos-kosan pada umumnya. Namun kehadiran mobil operasional program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berhenti di depan pintu gerbang, serta dua buah spanduk bertuliskan “Penerimaan Peserta Didik Baru dan Program Kesetaraan Anarvani PKBM” menjadi tanda bahwa gedung tersebut bukan sekedar tempat tinggal namun menjadi solusi masyarakat sekitar dalam mengenyam pendidikan.

Proses pembelajaran di PAUD Anarvani berlangsung dengan menggunakan ruang dan fasilitas sederhana, Jumat (02/10/2026).

Saat memasuki gerbang, suasana pusat Yayasan Anarvani belum terasa. Samar-samar terdengar suara langkah kaki berlari dan suara anak-anak bermain. Di sebelah ruang utama yang difungsikan sebagai ruang kerja Bu Eva sebagai kepala sekolah, terdapat ruangan berdinding kayu yang mengarahkan tamu ke bagian belakang. Disanalah mereka belajar: Berbekal satu ruang kelas, satu halaman, dua peralatan bermain yang terlihat kurang memadai, serta media dan fasilitas belajar yang minim.

Hingga saat ini, Anarvani Foundation telah mendukung tiga pilar kegiatan: Program Kesetaraan, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Bisnis. Toko bunga. Untuk memenuhi kebutuhan sekolah, operasional yayasan didukung penuh oleh dana Bantuan Operasional PAUD (BOP). Jadi sekolah ini hadir untuk menjadi wadah bagi masyarakat setempat, yang sebagian besar memperoleh penghasilan dari berjualan, memancing, dan bekerja serabutan.

“Siswa PAUD yang ada saat ini berjumlah 18 orang, berusia antara 3 sampai 6 tahun. Kami hanya mengumpulkan uang untuk seragam karena rata-rata orang tua siswa berjualan, membantu orang, menangkap ikan lalu dijual.

Begitu pula dengan program kesetaraan yang gratis untuk usia 25 tahun ke bawah. Saat ini terdapat 6 peserta yang melanjutkan pendidikannya disini. Waktu pelaksanaannya dirancang fleksibel, karena mayoritas dari mereka membagi waktu antara bekerja sebagai nelayan, buruh galon, dan bekerja di toko pakaian. Di balik itu, perjuangan Bu Eva pun memudar. Pada tahun 2025, Bu Eva berada di titik kelelahan dan ingin mengakhiri Yayasan Anarvani. Saat itu berlaku peraturan baru yang mewajibkan satuan pendidikan memiliki minimal 10 peserta didik. Apabila hal tersebut tidak terpenuhi maka sekolah tersebut harus digabung dengan sekolah lain. Namun harapannya masih belum pupus, ia kembali terjun ke masyarakat, melakukan sosialisasi kepada mereka yang memiliki anak usia Kelompok Bermain (KB) atau Taman Kanak-Kanak (TK) untuk bersekolah di sana.

“Hampir putus asa, ibu berpikir untuk mengubah rumah ini menjadi kos-kosan sepenuhnya, namun ayah selalu menyemangati, akhirnya ibu tetap bertahan dan mencari cara untuk menambah jumlah siswa yang bergabung di Anarvani. Ibu turun ke jalan, mampir di sebuah toko, di sana dia mensosialisasikannya,” ujarnya.

Tiga belas tahun bernafas, PAUD Anarvani menjadi batu loncatan bagi masyarakat putus sekolah dan orang tua yang tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga SD. Perjuangan Ibu Eva dan Yayasan Anarvani menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tidak selalu membutuhkan gedung yang megah. Selama niat ikhlas terus terpancar, tempat sederhana pun bisa menjadi naungan masa depan dan impian mereka yang membutuhkan.n Perjalanan hidup Eva.


Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

BGN Hentikan Sementara Operasional 6.100 Dapur MBG, Ini Alasannya
Demonstrasi Malioboro: Membongkar Klaim Polisi dan Represi terhadap Ormas
Jokowi Siap Hadir di Sidang Roy Suryo, Tunggu Panggilan Resmi Pengadilan
47 SPPG Sudah Dapat SLHS, Dinkes Cirebon Tekankan Pemeriksaan Pangan MBG di Sekolah
Lelucon! Video Ina Liem Pamer Ijazah Asli SMA Gibran Rakabuming Raka
BGN Tutup Sementara MBG Kitchens karena Tidak Melaporkan Dana Operasional
Apakah BSU 2026 sudah cair? Kementerian Ketenagakerjaan Memberikan Update Jadwal Pencairan
91 Kasus C3 Terungkap, Polsek Kampar Jelaskan Kamtibmas Kuartal III
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:40 WIB

BGN Hentikan Sementara Operasional 6.100 Dapur MBG, Ini Alasannya

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:20 WIB

Demonstrasi Malioboro: Membongkar Klaim Polisi dan Represi terhadap Ormas

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:00 WIB

Jokowi Siap Hadir di Sidang Roy Suryo, Tunggu Panggilan Resmi Pengadilan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:41 WIB

47 SPPG Sudah Dapat SLHS, Dinkes Cirebon Tekankan Pemeriksaan Pangan MBG di Sekolah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 15:20 WIB

Lelucon! Video Ina Liem Pamer Ijazah Asli SMA Gibran Rakabuming Raka

Berita Terbaru