Bsinews.id, JakartaPotensi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mengancam Kota Palembang, Sumatera Selatan, karena angin dominan dari arah timur dan tenggara dapat membawa asap dari kawasan sumber api. Risiko tersebut diingatkan BMKG pada Selasa (27/10/2026), terutama saat peluang pertumbuhan awan hujan diperkirakan menurun, dilansir Detikcom.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG wilayah Sumsel Siswanto menyebut wilayah Ogan Komering Ilir (OKI), sebagian Banyuasin, dan Ogan Ilir (OI) sebagai wilayah yang berpotensi menyumbang asap ke Palembang.
Siswanto menjelaskan, arah angin saat ini mendukung pergerakan asap dari kawasan menuju ibu kota Sumsel.
Angin dominan saat ini datang dari arah timur dan tenggara. Dari arah tersebut tentunya akan mendorong kabut asap hingga ke wilayah Palembang, kata Siswanto, Kepala Stasiun Meteorologi BMKG wilayah Sumsel.
BMKG juga memperkirakan potensi pertumbuhan awan di sejumlah wilayah Sumsel akan berkurang pada periode 31 Oktober hingga 4 November 2026. Kondisi ini mengkhawatirkan karena hujan yang turun dalam beberapa hari terakhir tidak menandakan seluruh wilayah telah memasuki musim hujan.
Berdasarkan pantauan BMKG selama dua hari terakhir, jumlah titik api atau hotspot di OKI tercatat ada dua. Siswanto menyatakan, jumlah tersebut mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
Berdasarkan pantauan titik panas BMKG dalam dua hari terakhir, di kawasan OKI hanya ada dua titik. Jumlah ini menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan kondisi sebelumnya, jelas Siswanto.
Meski titik panas semakin berkurang, BMKG memperkirakan awal musim hujan di Sumsel umumnya baru terjadi pada paruh kedua bulan November, yakni setelah tanggal 10 November 2026. Oleh karena itu, risiko kebakaran lahan tetap perlu diwaspadai pada masa peralihan musim.
Siswanto mengingatkan, hujan yang turun di beberapa lokasi bisa membuat masyarakat mengira ancaman karhutla sudah berakhir. Padahal, penyiapan lahan pertanian jelang musim hujan juga berpotensi memicu pembakaran lahan dan hutan.
“Jangan sampai kita mengira ini sudah memasuki musim hujan, malah mereka melakukan upaya pembukaan lahan dan hutan dengan cara membakar,” kata Siswanto.
Untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, BMKG bersama pihak terkait meningkatkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca (OMC). Operasi ini dilakukan dengan menyemai awan yang memenuhi persyaratan, menggunakan natrium klorida (NaCl) atau bahan lain sesuai kebutuhan.
Upaya modifikasi cuaca ini bertujuan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah sasaran, terutama wilayah yang memerlukan dukungan mitigasi kebakaran hutan dan lahan. BMKG terus mengingatkan, hujan sporadis bukanlah alasan untuk menghentikan upaya pencegahan kebakaran lahan.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














