YOGYAKARTA, Berita Joglo — Stasiun Klimatologi Kelas II Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sedang memetakan tren cuaca beberapa waktu ke depan.
Berdasarkan analisis terkini, curah hujan di provinsi ini pada bulan ketiga Oktober 2026 diperkirakan masih dalam kategori rendah.
“Curah hujan Basian III pada bulan Oktober 2026 diperkirakan masuk kategori rendah berkisar 10-50 mm/dasarian dengan sifat hujan sebagian besar di bawah normal,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II DIY Mamenun, Rabu (21/9/2026).
Ternyata tren serupa akan berlanjut hingga bulan depan. Mamenun mengatakan, prediksi curah hujan di DIY pada November 2026 juga diperkirakan masih dalam kategori rendah yakni pada kisaran 10-50 mm/hari dengan seluruh curah hujan di bawah normal.
BACA JUGA: Sultan Dorong Kolaborasi Penelitian Sejarah antara DIY dan Batang, Ungkap Jejak Peradaban Jawa
Kondisi tersebut baru mulai bergeser sedikit saat memasuki titik terbawah berikutnya.
Namun volumenya masih didominasi skala ringan hingga sedang.
Sedangkan curah hujan Basis II pada November 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah-sedang antara 20-75 mm/dasarian dengan seluruh karakteristik curah hujan di bawah normal, jelasnya.
Adapun jika dihitung secara bulanan secara keseluruhan, curah hujan wilayah DIY pada bulan Desember 2026 diperkirakan berkisar antara 151-500 mm/bulan atau masuk dalam kriteria rendah, dengan sifat hujan bervariasi dari bawah normal hingga di atas normal.
Menyikapi prediksi terlambatnya awal musim hujan, BMKG memberikan perhatian khusus dan menghimbau kepada pemerintah provinsi, instansi terkait, dan seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman kekeringan.
Potensi kebakaran hutan atau lahan (karhutla) dan penurunan kualitas udara yang buruk juga menjadi catatan penting.
Selain itu, Mamenun mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada masa peralihan atau fase akhir musim kemarau saat ini yang biasanya ditandai dengan fenomena cuaca ekstrem.
“Juga meningkatkan kewaspadaan pada masa peralihan atau akhir musim kemarau yang ditandai dengan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, petir, angin kencang, angin puting beliung, dan hujan es,” tegasnya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














