Demo Revolusi 2 Pontianak Berakhir Ricuh, Mahasiswa Kecewa Tak Ditemukan Gubernur

- Redaksi

Kamis, 22 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

RRI.CO.ID, Pontianak – Aksi unjuk rasa bertajuk Revolusi Gen Z 2 yang digelar mahasiswa bersama elemen masyarakat di Kota Pontianak, Rabu 21 Oktober 2026, berakhir ricuh pada malam hari. Massa menyuarakan 20 tuntutan terkait kesejahteraan masyarakat, penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta penyelesaian berbagai persoalan di Kalbar.

Aksi dimulai dari Bundaran Taman Digulis menuju Kantor Gubernur Kalbar pada sore hari. Para pengunjuk rasa menyampaikan aspirasinya melalui orasi dan mendesak pemerintah menghadirkan solusi konkrit atas berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Aksi tersebut diwarnai ketegangan saat massa aksi menurunkan bendera setengah tiang di halaman Kantor Gubernur Kalbar. Usai menyampaikan aspirasinya, massa kembali bergerak menuju Bundaran Digulis untuk melanjutkan aksi hingga malam hari.

Perwakilan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) IAIN Pontianak, Fiqi, mengatakan para mahasiswa merasa kecewa karena tidak ada perwakilan pemerintah, khususnya Gubernur Kalimantan Barat, yang menemui mereka untuk menanggapi tuntutan mereka.

“Tindakan kita hari ini mungkin bisa sedikit melegakan kawan-kawan ketika aspirasi kita sudah kita sampaikan, sudah kita sampaikan. Tapi kita kecewa sekali karena hari ini tidak ada satu pun dari yang kita panggil gubernur kita yang muncul menjawab kekhawatiran kita,” kata Fiqi saat diwawancarai media saat aksi unjuk rasa.

Massa aksi hendak berpindah lokasi ke Bundaran Digulis Jl. Ahmad Yani Pontianak. (Foto: RRI/Gulista)

Fiqi menegaskan, mahasiswa bersama elemen masyarakat akan terus menyuarakan tuntutannya hingga diperoleh kepastian kesejahteraan dan kelangsungan hidup masyarakat Kalbar. Menurutnya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki daerah perlu dibarengi dengan kesejahteraan masyarakat dan penanganan permasalahan lingkungan yang lebih serius.

Ia juga menyoroti persoalan karhutla dan meminta transparansi terkait perusahaan yang diduga terlibat karhutla. “Aksi ini kami sampaikan hingga ada suara yang dapat memberikan kepastian kehidupan yang layak dan sejahtera di Kalimantan Barat,” kata Fiqi.

Sementara itu, Kapolres Pontianak Kompol Endang Tri Purwanto menjelaskan, aksi awalnya berlangsung damai, mulai dari Bundaran Digulis hingga Kantor Gubernur Kalbar. Polisi mengawasi aksi dan memberikan kesempatan kepada demonstran untuk menyampaikan aspirasinya sebelum massa kembali ke titik awal.

Namun keadaan berubah ketika massa masih bertahan hingga malam hari di Bundaran Digulis. Endang mengatakan, sejumlah benda yang dibakar antara lain pembatas jalan atau pembatas air, serta meja kayu.

“Kami izinkan, kami berikan keleluasaan menyampaikan aspirasi. Kami beri waktu sampai pukul 18.30, sebelum memberikan imbauan untuk bubar, kembali ke kampus masing-masing atau pulang ke rumah dengan selamat dan sehat,” kata Endang.

Karena massa masih tersisa, polisi akhirnya membubarkan dengan kekerasan sesuai prosedur pengendalian massa. Endang mengatakan, dalam proses tersebut ada petugas yang mengalami luka akibat terlempar. Ia juga mengatakan, empat orang dari kelompok mahasiswa telah ditangkap.

Setelah bernegosiasi dengan koordinator lapangan, keempat orang tersebut dibawa untuk berobat kemudian dipulangkan agar bisa bergabung kembali dengan rekannya.

Akibat aksi yang berlangsung hingga malam hari, arus lalu lintas di sekitar Bundaran Digulis sempat ditutup cukup lama. Kondisi ini juga berdampak pada aktivitas masyarakat dan pedagang kaki lima di sekitar kawasan Universitas Tanjungpura. Ia juga mengimbau mahasiswa menjaga situasi kondusif dan mengedepankan dialog dalam menyampaikan aspirasinya.

“Kami mengajak mahasiswa untuk menjaga situasi tetap kondusif. Saya mohon kepada mahasiswa saya, jangan seperti ini lagi. Semua bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Polisi tidak mau berkonfrontasi dengan masyarakat, karena polisi sebenarnya bekerja sama dengan masyarakat Pontianak,” kata Endang mengakhiri keterangannya.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Bongkar Korupsi MBG, Jaksa Agung Didorong Jerat Korporasi dan Pelaku Miskin Pakai TPPU
BMKG prediksi curah hujan rendah di DIY hingga November, warga diminta mewaspadai cuaca ekstrem
Anggota DPR Puji Polisi Kawal Demo Mahasiswa, Minta Jadi Teladan Nasional
Jamaah Umroh Wajib Tahu, Masjid Nabawi Rilis Jadwal Terbaru Kunjungan Raudhah
Diterpa isu ijazah, Gibran tetap bertahan di bursa calon presiden berdasarkan hasil survei
Soal IKN: Mantan Ketua MK Puji Jokowi ‘Presiden Gila’, Profesor NTU Singapura Sebut Prabowo Lebih Suka Jakarta
Jabodetabek berpotensi diguyur hujan hari ini, siapkan payung sebelum bepergian
Jeep Renegade Generasi Terbaru Bersiap Lahir Kembali, Ini Bocorannya
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:20 WIB

Bongkar Korupsi MBG, Jaksa Agung Didorong Jerat Korporasi dan Pelaku Miskin Pakai TPPU

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:01 WIB

BMKG prediksi curah hujan rendah di DIY hingga November, warga diminta mewaspadai cuaca ekstrem

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:40 WIB

Anggota DPR Puji Polisi Kawal Demo Mahasiswa, Minta Jadi Teladan Nasional

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Jamaah Umroh Wajib Tahu, Masjid Nabawi Rilis Jadwal Terbaru Kunjungan Raudhah

Kamis, 22 Oktober 2026 - 08:00 WIB

Diterpa isu ijazah, Gibran tetap bertahan di bursa calon presiden berdasarkan hasil survei

Berita Terbaru