Update Demo 20 Oktober 2026 di Jakarta: Tuntutan Mahasiswa dan Situasi Terkini Malam Ini

- Redaksi

Selasa, 20 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, Aktualita.co – Aksi demonstrasi mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat sipil yang terjadi di Jakarta pada Selasa (20/10/2026) mulai berakhir menjelang malam. Massa yang sebelumnya berkumpul di kawasan Tugu Tani dan sekitar Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, berangsur-angsur bubar setelah menyampaikan berbagai tuntutan kepada pemerintah.

Demonstrasi tersebut digelar bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Momentum ini dimanfaatkan mahasiswa untuk menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari penanganan karhutla hingga kondisi perekonomian nasional.

Berdasarkan laporan lapangan hingga Selasa malam, situasi di sejumlah titik utama demonstrasi berangsur kondusif. Arus lalu lintas yang sebelumnya mengalami gangguan juga mulai kembali normal setelah peserta aksi meninggalkan lokasi.

Meski demikian, mahasiswa menegaskan berakhirnya aksi demonstrasi hari ini bukan berarti tuntutan mereka terselesaikan. Sejumlah perwakilan massa bahkan menyatakan rencana menggelar aksi nasional lanjutan pada 28 Oktober 2026.

Situasi Demo Jakarta Malam Ini, Massa Mulai Bubar Sendiri

Demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Menteng, Jakarta Pusat, berlangsung sejak sekitar pukul 15.00 WIB.

Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Komite Penyelamatan Kedaulatan Rakyat (SADAR), serta berbagai organisasi kemahasiswaan dan masyarakat sipil menyampaikan orasi secara bergantian.

Menjelang malam, sebagian peserta aksi terlihat memanjat Patung Pahlawan atau Tugu Tani untuk membentangkan spanduk berisi tuntutan kepada pemerintah.

Spanduk-spanduk tersebut antara lain menyoroti isu lingkungan hidup, kebijakan ekonomi, pendidikan, dan pemberantasan korupsi.

Massa pun sempat menyalakan suar atau suar dan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka sebelum mengakhiri demonstrasi.

Berdasarkan pantauan di lapangan, massa mulai meninggalkan lokasi sekitar pukul 18.30 hingga 18.50 WIB.

Sebelum bubar, sejumlah mahasiswa terlihat membawa kantong sampah dan membersihkan lokasi demonstrasi.

Petugas polisi kemudian menertibkan kendaraan yang melintas di sekitar Tugu Tani. Kondisi lalu lintas berangsur lancar setelah konsentrasi massa berkurang.

Demonstrasi di Monas diwarnai aksi pembakaran

Selain di Tugu Tani, aksi demonstrasi juga terjadi di kawasan IRTI Monas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Sejak sore, mahasiswa berkumpul sambil membawa spanduk, bendera, dan sejumlah atribut demonstrasi.

Mereka menyampaikan aspirasinya terkait permasalahan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup. Salah satu permasalahan yang mendapat perhatian adalah kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia.

Dalam perkembangannya, demonstrasi diwarnai dengan pembakaran benda-benda di area aksi.

Petugas polisi yang bertugas kemudian memadamkan api. Sempat terjadi adu mulut antara aparat dengan beberapa peserta demonstrasi, namun situasi tidak berlangsung lama dan kembali terkendali.

Massa mulai bubar sekitar pukul 18.20 WIB.

Jalan Medan Merdeka Selatan yang sebelumnya tertutup bagi kendaraan kemudian dibuka kembali. Arus lalu lintas terpantau padat saat kendaraan mulai melintas.

Belum ada laporan terverifikasi mengenai kerusuhan besar di dua titik demonstrasi utama hingga update malam ini.

Lima Tuntutan Mahasiswa dalam Demo 20 Oktober 2026

Aksi yang terjadi hari ini membawa lima tuntutan utama kepada pemerintah.

Pertama, penanganan kebakaran hutan dan lahan. Mahasiswa mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, menindak korporasi yang terbukti bertanggung jawab, serta memulihkan ekosistem dan kondisi masyarakat terdampak.

Kedua, perbaikan tata kelola ekonomi. Para pengunjuk rasa meminta pemerintah memperbaiki kebijakan ekonomi yang dianggap tidak mampu mengatasi kesenjangan sosial. Persoalan harga kebutuhan pokok, daya beli masyarakat, dan stabilitas perekonomian menjadi perhatian mahasiswa.

Ketiga, perlindungan kebebasan sipil. Massa mendesak pemerintah menghentikan praktik-praktik yang menurut mereka mempersempit ruang kebebasan berekspresi dan meningkatkan militerisasi kehidupan sipil.

Keempat, memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Mahasiswa menuntut penegakan hukum yang konsisten dan langkah konkrit untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dalam pemerintahan.

Kelima, mengurangi biaya pendidikan. Para pengunjuk rasa meminta pemerintah menjamin pendidikan yang lebih terjangkau, inklusif, dan dapat diakses oleh masyarakat dari berbagai kelompok ekonomi.

Kelima tuntutan ini merupakan bagian dari evaluasi yang disampaikan mahasiswa terkait dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

BEM UI Beberkan Alasan Mahasiswa Tak Pakai Almamater

Salah satu yang menarik perhatian saat aksi di Tugu Tani adalah keputusan sejumlah mahasiswa untuk tidak mengenakan jaket almamater kampus.

Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda menjelaskan, keputusan ini merupakan bagian dari upaya membangun gerakan bersama masyarakat sipil.

Menurutnya, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa aspirasi yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan kepentingan kelompok kampus saja.

“Sehingga kita bisa lebih inklusif dan berbaur lebih baik dengan masyarakat sipil,” kata Hafidz saat menjelaskan alasannya, Selasa (20/10/2026).

Dalam demonstrasi ini, mahasiswa tergabung dalam berbagai kelompok masyarakat yang membawa perhatian pada isu lingkungan hidup, keadilan sosial, dan kebijakan publik.

Keterlibatan lintas kelompok ini menunjukkan bahwa aksi tersebut tidak hanya menjadi ruang kritik mahasiswa, namun juga menjadi sarana penyampaian aspirasi masyarakat secara lebih luas.

Keamanan Polisi dan Kondisi Lalu Lintas di Jakarta

Pengamanan aksi demonstrasi telah disiapkan sejak pagi oleh polisi.

Polda Metro Jaya sebelumnya mengantisipasi kegiatan ekspresi pendapat di sejumlah kawasan, antara lain Monas, Jalan Jenderal Sudirman–MH Thamrin, dan di sekitar Gedung DPR/MPR RI.

Sekitar 9.500 personel polisi disiapkan untuk mengamankan rangkaian aksi di Jakarta.

Pengaturan lalu lintas dilakukan secara situasional sesuai dengan perkembangan di lapangan.

Di kawasan IRTI Monas, penutupan Jalan Medan Merdeka Selatan berdampak pada mobilitas kendaraan. Namun jalur tersebut kembali dibuka setelah massa meninggalkan lokasi.

Sementara itu, arus kendaraan di sekitar Tugu Tani juga berangsur normal menjelang malam hari.

Masyarakat tetap diimbau untuk memperhatikan informasi lalu lintas resmi saat melintasi kawasan pusat Jakarta, mengingat kondisi jalan dapat berubah sesuai aktivitas masyarakat.

Mahasiswa Merencanakan Aksi Nasional pada 28 Oktober

Meski demonstrasi 20 Oktober telah berakhir, mahasiswa menyatakan kemungkinan mobilisasi lebih lanjut.

Salah satu perwakilan massa mengungkapkan rencananya akan menggelar aksi nasional pada Rabu 28 Oktober 2026 yang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Rencana tersebut disampaikan usai peserta demonstrasi membacakan pernyataan posisi di kawasan Tugu Tani.

Aksi lanjutan tersebut disebutnya akan menjadi ruang untuk kembali menyuarakan tuntutan terkait kedaulatan rakyat dan arah kebijakan pemerintah.

Namun hingga Selasa malam, rincian mengenai lokasi, jumlah peserta, dan teknis pelaksanaan aksi nasional tersebut belum dapat dipastikan secara lengkap.

Dengan demikian, rencana aksi unjuk rasa 28 Oktober masih harus menunggu pengumuman lebih lanjut dari pihak penyelenggara.

Bagaimana kondisi Jakarta pasca demo?

Hingga pemberitaan terakhir pada Selasa malam, aksi demonstrasi utama di Tugu Tani dan kawasan IRTI Monas telah berakhir dan massa membubarkan diri.

Kondisi keamanan di sekitar dua lokasi dilaporkan berangsur kondusif, sementara sejumlah ruas jalan yang sempat mengalami gangguan mulai bisa dilalui kembali.

Meski kegiatan hari ini telah usai, namun tuntutan mahasiswa terkait penanganan karhutla, kondisi perekonomian, kebebasan sipil, pemberantasan korupsi, hingga akses terhadap pendidikan masih menjadi isu yang mereka minta untuk ditindaklanjuti.

Fokus selanjutnya adalah respon pemerintah terhadap aspirasi tersebut dan kepastian rencana aksi nasional pada 28 Oktober mendatang.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

PDIP Ungkap Lima Kegagalan Fatal Prabowo-Gibran Selama 2 Tahun Menjabat
Hasil Survei Indef Temukan Manfaat Program MBG dan KDKMP Belum Optimal bagi UMKM
2 Tahun Prabowo-Gibran, Program MBG Dinilai Perkuat Gizi Santri
2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, ASI: Kepercayaan Masyarakat 61,4 persen
Aliansi Cipayung Plus Demo di DPRD Jambi, Desak Transparansi Dana Hutan dan Kebakaran Rp 30 Miliar
Virus! Greenpeace Memanjat Patung Bundaran HI
Pernyataan Trump Tidak Menyelamatkan Netanyahu
Prakiraan Cuaca Indonesia Minggu Ini Periode 20 – 26 Oktober 2026: Cuaca Panas dan Kemarau Masih Berlanjut, Peluang Hujan Masih Ada di Sejumlah Daerah – Potensi Hujan Seminggu Depan
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 00:36 WIB

PDIP Ungkap Lima Kegagalan Fatal Prabowo-Gibran Selama 2 Tahun Menjabat

Rabu, 21 Oktober 2026 - 00:15 WIB

Hasil Survei Indef Temukan Manfaat Program MBG dan KDKMP Belum Optimal bagi UMKM

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:55 WIB

2 Tahun Prabowo-Gibran, Program MBG Dinilai Perkuat Gizi Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:35 WIB

2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, ASI: Kepercayaan Masyarakat 61,4 persen

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:15 WIB

Aliansi Cipayung Plus Demo di DPRD Jambi, Desak Transparansi Dana Hutan dan Kebakaran Rp 30 Miliar

Berita Terbaru

Headline

2 Tahun Prabowo-Gibran, Program MBG Dinilai Perkuat Gizi Santri

Selasa, 20 Okt 2026 - 23:55 WIB