Penulis asal Mojokerto, Hasyim Muhammad, meminta mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tampil lebih galak di depan publik jika ingin tetap relevan jelang Pilpres 2029.
Menurutnya, Anies harus kreatif mencari isu untuk meningkatkan elektabilitas, karena Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dipastikan akan memanfaatkan posisinya untuk memenangkan kontestasi politik.
Seperti yang saya sampaikan di artikel saya sebelumnya, Gibran tidak akan tinggal diam. Modal kursi wakil presiden akan terus digunakan untuk meningkatkan elektabilitas, tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Senin (30/8).
Di sisi lain, Anies Baswedan saat ini kandas panggung. Bahkan tidak punya pekerjaan, kata Pandji. Kalau ingin mempertahankan – bahkan meningkatkan – elektabilitasnya, Anies harus kreatif “mencari masalah” agar terus tampil di media,” imbuhnya.
Hasyim menilai gaya Anies yang kalem membuat masyarakat sulit mengingatnya. Ia menyarankan agar Anies berani memimpin gerakan, turun ke jalan, bahkan marah-marah jika diperlukan.
Saya akan memberikan contoh kalimat yang bisa digunakan Anies saat memegang mikrofon di tengah aksi demonstrasi, “Maaf, kesabaran saya sudah habis. Saya tidak bisa lagi menggunakan cara biasa. Kondisinya sangat keterlaluan. Betapa bodohnya kita jika kita diam melihat kondisi negara seperti ini!” kata Hasyim.
Ia menegaskan, kalimat tersebut bukan soal benar atau salah, melainkan strategi agar Anies tampil bergerak dan menggalang dukungan.
Sayang sekali jika peraih peringkat 2 Pilpres 2024 itu kini tertinggal jauh dari elektabilitas KDM menurut survei Tempo, tambahnya.
“Pak Anies, apakah Anda tidak mau lagi mencalonkan diri?” dia menekankan.
Baca juga: Gibran Rekat ke Anies, Selisihnya Hanya 0,5%
Berdasarkan survei pemilu nasional Tempo Data Science pada Agustus 2026, Dedi Mulyadi (KDM) memimpin dengan elektabilitas 42%, disusul Prabowo Subianto dengan 15%. Anies Baswedan di peringkat ketiga dengan 10%, sedangkan Gibran Rakabuming Raka 6%.
Survei ini melibatkan 1.260 responden di 38 provinsi, dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pemerintah tercatat sebesar 37%.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














