BLORA – Operasional Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi Tertutup (SPPG), Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, dihentikan sementara selama 20 hari setelah puluhan siswa mengalami keluhan usai menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Penangguhan tersebut dilakukan menyusul meningkatnya jumlah siswa yang mengalami gejala usai mendapat makanan dari SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Pelita Gizi Makmur. Hingga Jumat (2/10/2026), sudah ada 24 siswa dari tiga sekolah yang melaporkan pengaduan tersebut.
Ketua Satgas MBG Kabupaten Blora Sri Setyorini atau akrab disapa Bude Rini membenarkan adanya peningkatan jumlah siswa yang mengalami keluhan tersebut.
Berdasarkan laporan yang diterimanya, para pelajar tersebut mengalami sejumlah gejala, mulai dari mual, sakit perut, diare, hingga pusing.
Sebanyak 13 siswa berasal dari SDN 1 Tutup, empat siswa dari SDN 3 Tutup, dan tujuh siswa dari SMK Bakti Husada.
“SDN 1 tutup 13 (siswa), SDN 3 tutup 4 (siswa), SMK Bakti Husada 7 (siswa),” jelas Bude Rini dalam keterangan tertulisnya, Jumat (2/10/2026).
Meski ada puluhan pelajar yang mengeluhkan kondisi kesehatannya usai mengonsumsi MBG, Bude Rini memastikan tidak ada korban yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Seluruh siswa yang mengalami keluhan telah mendapat pengobatan rawat jalan oleh Puskesmas Tunjungan.
Sementara kejadian serupa juga terjadi di SDN 3 Kunci. Kepala SDN 3 Kunci Sri Wulandari mengatakan, empat siswanya mengeluh setelah menyantap makanan MBG.
Salah satu siswa bahkan muntah di lingkungan sekolah setelah makan makanan tersebut.
Keluhan juga dirasakan sejumlah siswa kelas II saat meninggalkan sekolah sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka mengeluh sakit perut sehingga pihak sekolah memilih memulangkan siswanya.
Karena waktu di rumah jam 11.00 WIB, saya lalu menyuruhnya pulang. Lalu saya perintahkan wali kelas untuk menghubungi grup WhatsApp kelas dan menyuruh orang tua untuk mengawasi anaknya di rumah, kata Sri, Jumat (2/10/2026).
Pihak sekolah juga mengimbau para orang tua untuk segera menghubungi bidan desa jika anaknya mengalami gejala lebih lanjut.
Sri mengatakan, data sementara menunjukkan ada empat siswa di SDN 3 Kunci yang mengalami keluhan. Namun jumlah tersebut masih mungkin bertambah karena pemeriksaan oleh petugas Puskesmas Tunjungan masih terus dilakukan.
“Tadi sudah diperiksa ke Puskesmas, kami belum tahu datanya apa,” ujarnya.
Setelah mengetahui ada siswa yang mengeluh, pihak sekolah langsung menghentikan aktivitas makan siswanya. Langkah ini diambil sebagai upaya mencegah keluhan serupa muncul pada siswa lainnya.
Menurut Sri, kejadian tersebut merupakan kasus pertama yang terjadi di SDN 3 Kunci. Namun, sebelumnya dia pernah melihat kejadian serupa menimpa siswa SDN Sukorejo setelah makanan MBG dibawa pulang dan dikonsumsi di rumah.
“Dua siswa dan satu orang tua membawanya pulang, dimakan ibunya,” ujarnya.
Pihak sekolah selanjutnya berencana melakukan polling dengan orang tua untuk mengetahui penerimaan menu MBG.
Sri berharap kejadian ini bisa menjadi bahan evaluasi agar kasus serupa tidak terulang kembali.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Satgas MBG Blora melaporkan kejadian tersebut kepada Koordinator Wilayah SPPG. Evaluasi juga dilakukan terhadap operasional SPPG Tertutup.
Bude Rini mengatakan, tim sudah turun ke lapangan untuk menindaklanjuti laporan tersebut. Dari hasil evaluasi awal, diputuskan pengoperasian SPPG Tutup dihentikan sementara selama 20 hari.
“Kemarin saya ke luar kota, tim langsung lapor, dan hasilnya akan ditutup 20 hari ke depan sambil dievaluasi,” ujarnya.
Dengarkan berita terhangat dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp Anda!
Klik 👉
Saluran TIMES IndonesiaPastikan WhatsApp Anda sudah terinstal.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














