Artikel Terbaru | Ganto.co

- Redaksi

Jumat, 2 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh:

Rizky Hariyanto

Biasanya masyarakat Indonesia khususnya generasi milenial dan Gen Z menggunakan pariwisata sebagai medianya pelepasan stres yang wajib masuk dalam agenda akhir pekan. Orang-orang datang ke tempat wisata untuk mencari pemandangan yang indah. Bawa kamera untuk mengabadikan momen, ajak keluarga, jelajahi berbagai kuliner, nikmati udara segar, lalu pulang dengan membawa foto dan kenangan untuk diunggah ke media sosial. Namun ada hal yang sering tertinggal setelah kita pulang yaitu sampah. Botol plastik di pinggir jalan. Gelas sekali pakai tersebar di fasilitas umum. Bungkus makanan di antara rumput. Jumlahnya mungkin tidak selalu besar. Namun hal tersebut cukup mengganggu salah satu hal terpenting dalam sebuah destinasi, yakni pengalaman menyenangkan.

Ketika kita melihat kondisi seperti itu, biasanya reaksi kita cepat. Wisatawan disalahkan karena tidak menjaga kebersihan. Namun stigma tersebut tidak sepenuhnya salah. Wisatawan yang membawa botol minuman, makanan, atau kemasan sekali pakai tentu bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkannya. Tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan. Namun, ketika sampah terus bermunculan dan menjadi permasalahan berulang di suatu destinasi, apakah permasalahannya masih sebatas perilaku wisatawan?

Sampah berserakan di tangga objek wisata Gunung Padang

Penulis merasa tidak mudah mengambil kesimpulan dari permasalahan yang muncul, destinasi wisata bukanlah ruang kosong yang hanya berisi wisatawan. Meliputi pengelola, pedagang, pelaku usaha, masyarakat lokal, petugas kebersihan, pemerintah, fasilitas, peraturan, dan sistem transportasi. Semua bagian ini membentuk suatu ekosistem. Oleh karena itu, ketika sampah terus bermunculan, kita tidak boleh hanya bertanya, “Siapa yang membuangnya?”. Kita juga perlu bertanya, “Mengapa sistem di suatu destinasi belum mampu mengelola sampah yang timbul dari aktivitas wisata?” Kedua pertanyaan ini menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Pertanyaan pertama mencari pelakunya, pertanyaan kedua mencari masalahnya.

Sumbar berupaya memperkuat sektor pariwisatanya. Data Badan Pusat Statistik mencatat jumlah perjalanan wisatawan domestik ke Sumbar sepanjang tahun 2025 mencapai 22,3 juta perjalanan. Angka tersebut meningkat 16,51 persen dibandingkan tahun 2024. Angka tersebut tentu menggembirakan bagi sektor pariwisata, namun setiap pertumbuhan memiliki konsekuensi.

Semakin banyak orang yang datang, semakin banyak pula makanan yang dikonsumsi, kemasan yang digunakan, fasilitas yang digunakan, dan potensi sampah yang dihasilkan. Di sinilah kita perlu sedikit mengubah cara berpikir kita. Kami sering bertanya bagaimana cara mendatangkan lebih banyak wisatawan. Kita jarang bertanya apakah negara tujuan kita siap menerimanya. Kesiapan bukan hanya soal hotel, restoran, tempat parkir, jalan atau objek wisata. Ada satu hal yang jauh lebih sederhana namun sering diabaikan, yaitu kemampuan destinasi dalam mengelola dampak keramaian itu sendiri.

Pada bulan Juni 2021 terjadi fenomena yaitu keluhan warga Alahan Panjang terkait tumpukan sampah di sekitar kawasan wisata Danau Diatas. Sampah dilaporkan menumpuk di pinggir jalan dekat kawasan wisata dan terdiri dari sampah basah dan plastik. Saat itu, warga meminta pemerintah tidak hanya menyediakan tempat penyimpanan, tapi juga membangun pengelolaan sampah yang lebih baik.

Beberapa tahun kemudian, masalah serupa kembali menjadi perhatian penelitian. Dalam penelitian yang diterbitkan pada tahun 2025 oleh Islamiyenti, Nefilinda, dan Rozana Eka Putri, ditemukan bahwa permasalahan sampah di kawasan wisata tepi Danau Di Atas semakin meningkat, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Sampah yang dominan antara lain plastik, botol, kemasan makanan, dan sampah organik. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa persoalan pengelolaan sampah tidak hanya terkait dengan kesadaran pengunjung. Keterbatasan fasilitas dan koordinasi antar instansi juga menjadi permasalahan dalam pengelolaan sampah di kawasan wisata. Artinya permasalahan sampah di destinasi wisata tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan mengatakan bahwa wisatawan perlu lebih waspada. Ada masalah sistem yang juga perlu didiskusikan.

Ada perbedaan antara membersihkan sampah dan mengelola sampah. Bersih-bersih berarti memungut sesuatu yang berserakan, sedangkan mengelola berarti memikirkan seluruh proses mulai dari munculnya sampah hingga akhirnya diambil. Di suatu daerah tujuan wisata, pengelolaannya harus dimulai bahkan sebelum wisatawan datang. Apakah tempat sampah tersedia? Apakah lokasinya sesuai dengan pola pergerakan pengunjung? Apakah sampah sudah dipilah? Siapa yang bertanggung jawab untuk mengangkutnya? Seberapa sering transportasi dilakukan? Dan pertanyaan lain yang mungkin bersifat teknis. Namun justru permasalahan teknis seperti inilah yang menentukan apakah suatu destinasi mampu bertahan dalam jangka panjang.

Kampanye “jangan membuang sampah sembarangan” masih diperlukan. Namun kampanye saja tidak cukup untuk mengatasi masalah ini. Kita tidak bisa meminta masyarakat disiplin membuang sampah jika fasilitasnya tidak memadai. Kita juga tidak bisa terus menyalahkan wisatawan jika sistem transportasi tidak mampu mengimbangi lonjakan aktivitas wisata. Sebaliknya fasilitas yang lengkap tidak serta merta menyelesaikan masalah jika perilaku pengunjung tetap buruk, keduanya harus bekerja sama.

Pertanyaan siapa sebenarnya yang bertanggung jawab, Hal ini akhirnya membawa kita pada sebuah jawaban yang mungkin tidak sesederhana yang kita inginkan. Wisatawan bertanggung jawab atas sampah yang mereka hasilkan. Pelaku usaha bertanggung jawab atas limbah dari kegiatan usahanya.

Namun jangan gunakan istilah “tanggung jawab bersama” untuk mengaburkan tanggung jawab individu. Tanggung jawab bersama tidak berarti setiap orang bertanggung jawab atas segalanya. Padahal, masing-masing pihak harus punya peran yang jelas. Wisatawan tidak bisa membuang sampah sembarangan karena pemerintah menyediakan petugas kebersihan. Pemerintah juga tidak bisa menyelesaikan masalah hanya dengan memasang papan larangan. Manajer destinasi tidak terlalu bergantung pada staf kebersihan. Pedagang juga tidak bisa menganggap sampah sebagai urusan pemerintah karena mereka sudah membayar retribusi. Setiap orang mempunyai kewajiban yang berbeda-beda. Dan semuanya saling berhubungan.

Ada satu hal yang mungkin perlu kita evaluasi dalam cara kita berbicara tentang keberhasilan pariwisata. Terlalu mudah bagi kita untuk menganggap tujuan yang sibuk sebagai kesuksesan. Antrean kendaraan menjadi tanda kedatangan wisatawan. Restoran penuh dianggap sebagai pertumbuhan ekonomi. Hotel yang terisi dianggap sebagai promosi yang sukses. Semua itu penting, namun keberhasilan pariwisata tidak hanya diukur dari berapa banyak orang yang datang. Kami juga perlu melihat apa yang terjadi setelah mereka tiba. Apakah lingkungan tetap terjaga? Apakah komunitas lokal mendapat manfaat? Apakah kualitas pengalaman wisata tetap terjaga? karena wisatawan sebenarnya tidak datang untuk melihat tong sampah. Mereka datang untuk menikmati apa yang ada di sekitar mereka. Jika lingkungan yang menjadi daya tarik rusak akibat aktivitas wisata, maka permasalahannya bukan lagi sekedar kebersihan. Kita berbicara tentang keberlanjutan destinasi.

Kita tidak perlu memilih antara pariwisata dan lingkungan. Kita juga tidak perlu menganggap wisatawan sebagai musuh lingkungan. Yang dibutuhkan adalah cara pandang yang lebih matang. Wisatawan perlu bertanggung jawab, pengelola perlu bekerja, pelaku usaha perlu menanggung dampak kegiatan ekonominya, masyarakat perlu terlibat. Dan pemerintah perlu memastikan seluruh sistem berfungsi.

Pariwisata yang baik bukan sekedar pariwisata yang bisa mendatangkan orang. Pariwisata juga harus mampu mengelola dampak kedatangan orang-orang tersebut. Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengubah pertanyaan mengenai sampah di destinasi wisata kita. Ini tidak lagi hanya:

“Siapa yang membuang sampah ini?” Namun: “Mengapa destinasi ini tidak memiliki sistem yang cukup kuat untuk mencegah, mengurangi, dan mengelola limbah ini?”

Pertanyaan pertama membuat kita sibuk mencari kesalahan. Pertanyaan kedua memaksa kita untuk memperbaiki sistem. Ujung-ujungnya wisatawan akan pulang. Foto akan disimpan di telepon.

Kisah perjalanan akan selesai. Namun masyarakat setempat masih tinggal di sana. Mereka yang akan melihat sungai yang sama, danau yang sama, pantai yang sama, jalan yang sama, dan lingkungan yang sama setiap hari. Maka dari itu, ketika kita berbicara tentang pariwisata, jangan hanya bertanya berapa banyak wisatawan yang datang, tanyakan juga: “Apa yang mereka tinggalkan saat mudik?” Jika jawabannya adalah pengalaman, cerita dan manfaat ekonomi, maka kita sedang membangun pariwisata yang memberikan nilai. Tapi kalau yang tertinggal mungkin sampah, mungkin yang perlu kita perbaiki bukan hanya perilaku wisatawan, mungkin cara kita mengelola pariwisata saja yang perlu dipertanyakan.


Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

BMKG Ingatkan Hujan Lebat dan Petir di Sumut, Medan Berpotensi Terdampak
Keluhan pelajar usai makan MBG di Blora bertambah menjadi 24 orang, demikian kata Satgas MBG
Basarnas Gelar Pelatihan Operator Tingkat Lanjut
Prabowo Lantik Ketua dan Anggota Wantimpres
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Wilayah Sumbar – KlikPositif.com
Update Peringkat FIFA: John Herdman Lampaui Prestasi STY
BMKG Ingatkan El Nino Berlangsung Hingga 2027, Musim Hujan Berpotensi Mundur
Dua Rakit PETI di Desa Petai Dihancurkan Polsek Singingi Hilir
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 19:16 WIB

BMKG Ingatkan Hujan Lebat dan Petir di Sumut, Medan Berpotensi Terdampak

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Keluhan pelajar usai makan MBG di Blora bertambah menjadi 24 orang, demikian kata Satgas MBG

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:35 WIB

Artikel Terbaru | Ganto.co

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:15 WIB

Basarnas Gelar Pelatihan Operator Tingkat Lanjut

Jumat, 2 Oktober 2026 - 17:55 WIB

Prabowo Lantik Ketua dan Anggota Wantimpres

Berita Terbaru

Headline

Artikel Terbaru | Ganto.co

Jumat, 2 Okt 2026 - 18:35 WIB

Headline

Basarnas Gelar Pelatihan Operator Tingkat Lanjut

Jumat, 2 Okt 2026 - 18:15 WIB

Headline

Prabowo Lantik Ketua dan Anggota Wantimpres

Jumat, 2 Okt 2026 - 17:55 WIB