Sabtu 26-09-2026,18:10 WIB
Reporter:
Dhani Irawan|
Editor:
Syamsul Falaq
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini bukan hanya soal kecukupan gizi, tapi juga variasi menu dan dampaknya terhadap harga pangan. –FOTO: Dhani Irawan/diswayjogja.id
SLEMAN, diswayjogja.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Kali ini juga membahas tentang kecukupan gizi yaitu variasi menu dan dampaknya terhadap harga pangan. Selama ini menu protein hewani lebih banyak terdiri dari ayam dan telur, jarang sekali ikan. Tingginya permintaan telur dan daging ayam untuk menu MBG konon dirasakan oleh pelaku usaha kecil pangan yang kini harus menghadapi kenaikan harga bahan baku.
Seorang perempuan pedagang gudeg jajanan pinggir jalan di sekitar Alun-Alun Banyuraden, Gamping, Sleman, yang enggan disebutkan namanya, mengaku berada dalam posisi sulit. Kenaikan harga jual pangan dikhawatirkan akan memicu keluhan pelanggan, sedangkan mempertahankan harga lama akan membuat keuntungan semakin tipis.
“Kalau harga telur naik, kami ingin menaikkan harga jualnya agar pelanggan mengeluh. Tapi kalau harganya tetap, keuntungan kami berkurang,” ujarnya kepada Disway Jogja, Sabtu (26/9/2026).
Menurutnya, telur merupakan salah satu bahan penting dalam masakan gudeg sehingga perubahan harga telur berdampak langsung terhadap biaya produksi sehari-hari.
BACA JUGA: Hingga Saat Ini Ratusan Siswa MBG Keracunan di Sleman, Caksana Institute Soroti Perda yang Cocok untuk Anak
BACA JUGA: Kepala SPPG Dlingo Bantul Minta Maaf Usai Video Staf yang Diduga Ejek Korban MBG Viral
Persoalan harga telur juga menjadi salah satu kekhawatiran dalam pelaksanaan program MBG. Di sisi penerima manfaat, orang tua juga mulai menyoroti keragaman sumber protein hewani yang disajikan dalam menu.
Rindi Astika Yuliana, ibu sekaligus guru di kampus swasta Yogyakarta, mengatakan anaknya termasuk salah satu penerima menu MBG. Ia menilai menu yang disajikan masih sering menggunakan ayam dan telur, sedangkan ikan relatif jarang disajikan.
“Hampir tidak pernah ada menu sehat yang bervariasi, apalagi ikan. Padahal protein hewani dari ikan juga sangat baik untuk tumbuh kembang anak,” kata Rindi.
Menurut Rindi, memvariasikan sumber protein penting dilakukan agar anak mendapat asupan gizi yang lebih beragam. Ikan, kata dia, harus menjadi salah satu menu pilihan dalam program MBG, bukan hanya ayam dan telur.
BACA JUGA: Hasil Tes Lab MBG di SMK Negeri 2 Jogja Masih Ditunggu, Hanya 3-5 Siswa yang Mengalami Diare
BACA JUGA: 413 Orang di SMK Negeri 2 Yogyakarta Mengeluh Mual dan Diare Usai Makan MBG
Di sisi lain, peningkatan kebutuhan telur melalui program skala besar seperti MBG memang dapat memberikan peluang bagi peternak karena permintaan meningkat. Namun kondisi ini juga dapat memberikan tekanan pada pelaku usaha pangan yang setiap harinya membutuhkan telur sebagai bahan bakunya.
Situasi ini menunjukkan bahwa program MBG memberikan dampak yang cukup luas, tidak hanya bagi anak penerima manfaat, namun juga bagi para peternak, pedagang makanan, dan usaha kecil kuliner.
Periksa berita dan artikel lainnya di Google Berita
Sumber:
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














