Mantan anggota Ketua Komisi III DPR sekaligus mantan anggota DPD RI Gede Pasek Suardika melontarkan kritik tajam terhadap sikap kubu Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya terlalu pasif dalam menyikapi polemik gugatan ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi (MK).
Pasek menduga ada motif politik tersembunyi berupa perebutan kekuasaan dan skenario suksesi di balik pembiaran tersebut.
Menurut Pasek, ada ironi besar antara agresivitas Prabowo saat berkolaborasi dengan Gibran di masa pencalonan dengan sikap apatis timnya saat ini.
Ia mengingatkan, Prabowo sudah empat kali merayu Gibran demi mendapatkan peruntungan politik dari Jokowi, setelah sebelumnya berulang kali gagal dalam kontestasi Pilpres.
“Sekarang Gibran sudah resmi jadi Cawapres lalu dikecam balik soal ijazahnya hingga ke Mahkamah Konstitusi, kubu Prabowo terkesan cuek dan tak mau tahu. Seharusnya tim pemenangan ikut ‘melawan’ penyerangan tersebut, bukan hanya menjadi penonton dan membiarkan pencalonan Wakil Presiden diacaukan,” kata Pasek dalam keterangannya, Rabu (23/9/2026).
Pasek juga turut meluruskan wacana konstitusi yang berkembang belakangan ini mengenai mekanisme pergantian wakil presiden jika gugatan dikabulkan Mahkamah Konstitusi. Ia menolak keras narasi yang memisahkan legitimasi Prabowo dan Gibran.
Ia menegaskan, konstitusi mengatur presiden dan wakil presiden dipilih sebagai satu pasangan. Apabila persyaratan pendaftaran awal bagi salah satu calon terbukti bermasalah atau cacat administratif, maka pencalonan keduanya harus dinyatakan tidak sah sekaligus.
Logika penggantian wakil presiden dengan menyiapkan dua calon untuk dipilih di MPR hanya berlaku jika wakil presiden yang menjabat meninggal dunia, sakit permanen, atau melakukan tindak pidana. Kalau ada kendala pada syarat pendaftaran awal, maka yang gugur adalah satu pasangan.
Bau Pengkhianatan dan Suksesi Terselubung
Lebih lanjut, Pasek mencium adanya indikasi kuat adanya pengkhianatan dari dalam koalisi pemerintah. Ia mengibaratkan dinamika saat ini seperti pihak-pihak yang berebut makanan, namun melupakan proses panjang mengumpulkan bahan dan memasak bersama.
Serangan besar-besaran terhadap posisi Gibran yang tidak dibarengi perlawanan maksimal dari internal koalisi dinilai sebagai bagian dari manuver yang dikendalikan elite ambisius yang mengincar kursi RI-2. Pasek menyinggung semakin banyaknya calon potensial yang melakukan manuver “menarik” di depan publik.
Goyangan Gibran seolah-olah bertujuan mempersiapkan suksesi di tengah jalan. Bahkan manuver menebar pesona telah dihasilkan oleh calon pengganti dalam berbagai paket. Pendapat terhadap pemecatan Wakil Presiden terus bermunculan namun perlawanan belum berjalan maksimal.
“Kalau mau dilihat secara kasat mata, sudah jelas sekali permainan ini dimainkan dari tiang mana. Tinggal urutkan latar belakang pemimpin yang bergerak, masyarakat akan tahu dari mana sebenarnya pemegang remote permainan itu berasal dan bagaimana guratan-guratan lukisan skenario itu dimulai. Saya hafal itu,” pungkas Pasek.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














