INDOPOSCO.ID – Meninggalnya seorang siswa SD di Lampung Tengah akibat tersedak saat menyantap menu makanan bergizi gratis (MBG) di lingkungan sekolah dinilai merupakan bentuk kelalaian fatal dan bukti nyata pengabaian aspek keselamatan anak.
Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyampaikan belasungkawa yang mendalam dan mengecam keras kejadian tersebut. Tragedi ini tidak bisa disederhanakan sebagai bencana biasa, melainkan merupakan akibat kelalaian penyelenggara program MBG, khususnya Badan Gizi Nasional (BGN) dan Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ini jelas kelalaian yang fatal. Memberi makan jutaan anak sekolah setiap hari tanpa menyiapkan sistem keamanan dan mitigasi bahaya fisik adalah bentuk kecerobohan yang sangat berbahaya, kata Ubaid dalam keterangannya, Jakarta, Rabu (23/9/2026).
JPPI mencatat bentuk-bentuk kelalaian mendasar yang dilakukan BGN dan SPPG dalam tata kelola program MBG. Ceroboh dalam memilih dan menyusun standar keamanan pangan (Physical Hazard).
BGN dan SPPG dinilai ceroboh karena membiarkan penyediaan dan konsumsi makanan/buah dengan risiko tinggi bahaya tersedak di lingkungan anak-anak tanpa ada pedoman pemotongan, tekstur, atau penyajian yang aman sesuai kelompok umur siswa sekolah dasar.
“Ini merupakan bentuk kelalaian dalam merencanakan standar keamanan pangan,” kritik Ubaid.
Selain itu, kecerobohan juga membuat program terlaksana tanpa SOP penanganan darurat. BGN dan SPPG membebankan biaya pendistribusian dan pengolahan makanan ke sekolah tanpa pernah memberikan SOP penanganan darurat medis, pelatihan pertolongan pertama (manuver Heimlich), atau pendidikan teknik makan yang aman.
“Membiarkan program besar-besaran berjalan tanpa jaring pengaman medis adalah bentuk kelalaian operasional yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya.
Teledor absen mempersiapkan tim medis pendamping di lapangan. BGN dan SPPG bertindak asal-asalan dengan menganggap urusannya akan selesai setelah makanan diantar ke sekolah.
“Tanpa petugas medis atau pengawas K3 kesehatan dari BGN/SPPG yang mendampingi siswa saat makan, anak-anak akan menghadapi risiko kematian medis tanpa pendampingan profesional di lokasi,” imbuhnya.
Seorang siswa kelas 3 SD berinisial RAP (9) di Lampung Tengah meninggal dunia setelah tersedak biji kelengkeng pada Selasa (22/9/2026). Buah kelengkeng tersebut merupakan bagian dari menu hidangan penutup program MBG yang dibagikan di sekolahnya, SDN 03 Poncowarno, Kalirejo. (Dan)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














