Bisnis.comMEDAN – Paradigma visi pembangunan Indonesia sudah memasuki fase transformasi dan meninggalkan era revolusi, sehingga tipikal pemimpin yang dibutuhkan adalah pemimpin visioner, bertindak terukur, bekerja secara kolektif dan kolaboratif dalam pemahaman teknokratis.
Ciri ini berbeda dengan masa revolusi yang memanfaatkan sentimen penderitaan bersama, kemudian dimobilisasi dengan mengutarakan pendapat mengenai musuh bersama.
Dalam hal ini, menurut pengamat ekonomi politik Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, Presiden Prabowo Subianto harus menggunakan cara kerja yang terencana, terukur, sistematis, padat gagasan strategis dan agenda aksi serta didorong secara beriringan untuk mencapai tujuan kesejahteraan rakyat.
Dan Indonesia punya sumber daya yang unggul untuk membantu presiden melakukan gerakan-gerakan yang beriringan antara pemimpin dan lembaga,” kata Andrinof Chaniago, dalam kuliah umum “Political Leadership and Economic Transformation: Lessons from 7 Asian States” yang diselenggarakan Departemen Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, seperti rilis yang diterima Bisnis, Senin. (2/9/2026).
Untuk itu, lanjutnya, Presiden memerlukan pola kerja yang terencana, terukur, sistematis, sarat dengan gagasan dan agenda aksi strategis serta didorong secara bersamaan oleh pimpinan dan lembaga.
Dalam hal ini, menurutnya, ada tujuh negara ajaib yang perlu ditiru Indonesia yang telah berhasil melewati fase transformatif, yakni Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Tiongkok, Vietnam, dan India.
Ciri yang menonjol dari keberhasilan suatu negara menjalani fase transformatif ini adalah peningkatan PDB per kapita. Ia mengatakan negara-negara yang lebih awal mencapai fase industrialisasi dan transformasi ekonomi memiliki PDB per kapita yang jauh lebih tinggi, seperti Singapura yang mencapai sekitar US$70,7 ribu pada tahun 2025, disusul Jepang dan Korea Selatan masing-masing sekitar US$38,6 ribu dan US$37,5 ribu.
“Memimpin di era transformatif bukanlah mementingkan diri sendiri (one man show), bukan unggul, melainkan berkolaborasi dengan para intelektual yang akan membantunya dalam menjalankan tugasnya untuk meningkatkan hasil pembangunan.”
Ia mengatakan, keberhasilan Singapura dalam mengendalikan aktivitas perekonomian di Indonesia tidak lepas dari kolaborasi para pemimpin politik dengan para pemikir besar yang dimilikinya.
“Bagaimana Lee Kuan Yeuw sebagai pemimpin besar Singapura merangkul seluruh elemen dan pemikir besar di negara tersebut untuk bersama-sama membangun Singapura,” ujar Dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Sosial UI ini.
Sementara itu, lanjutnya, yang bisa ditiru dari Jepang adalah keberhasilannya merumuskan dan melaksanakan Program Ekonomi Prioritas yang terdiri dari industri baja unggulan, industri otomotif, industri elektronik rumah tangga, industri elektronika bangunan, serta industri konstruksi dan jasa.
“Keberhasilan Jepang dalam melaksanakan Program Ekonomi Prioritas berdampak pada tiga hal, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menghasilkan surplus perdagangan luar negeri termasuk dengan Amerika, dan menurunkan tingkat kejahatan masyarakat Jepang,” ujarnya lagi.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














