Peta Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menunjukkan sejumlah kemungkinan, termasuk bagi Partai Golkar. Partai politik tersebut dinilai berada pada posisi yang menyulitkannya untuk mengambil jalur berbeda dengan Presiden Prabowo Subianto.
Peneliti Senior Citra Institute Efriza mengatakan kalkulasi politik partai saat ini masih lebih fokus untuk melanjutkan kerja sama dengan Prabowo. Apalagi jika politisi tersebut memutuskan untuk kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden pada 2029.
Baca juga: Tunggu Proses Politik, Nusron Wahid Tak Akan Bisa Lepas dari KPK: Aliran Dana Begitu Kuat…
“Kalau melihat posisi Golkar saat ini, skenario paling realistis tetap pada Prabowo, bukan membentuk porosnya sendiri,” kata Efriza, dikutip Selasa (22/9/2026).
Efriza mengatakan, alih-alih membangun poros baru dan mengusung calon lawan presiden saat ini, partai politik tersebut dinilai lebih realistis dalam menjaga hubungan politik dengan pemerintahan saat ini. Posisi tersebut membuat partai berlambang pohon beringin itu kecil kemungkinannya menjadi tandingan Prabowo di Pilpres 2029.
Menurutnya, Golkar mempunyai kepentingan politik yang cukup besar dalam menjaga hubungan dengan Prabowo. Kondisi ini pun membuat langkah partai yang tiba-tiba menjadi oposisi atau membangun kekuatan tandingan bukanlah pilihan yang paling menguntungkan.
“Kalau Prabowo maju lagi, kemungkinan besar mereka akan menyusul (Prabowo),” ujarnya.
Meski peluang untuk menjadi bagian dari barisan pendukung cukup besar, namun bukan berarti partai akan kehilangan posisi tawar. Sebagai salah satu partai yang memperoleh suara signifikan pada pemilu sebelumnya, pihaknya tetap berkepentingan untuk memastikan kader dan kepentingannya mendapat ruang dalam konfigurasi politik menuju tahun 2029.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memperkuat posisi kader internal di pasar calon wakil presiden. Dengan demikian, Golkar tidak hanya sekedar menjadi partai pendukung, namun tetap memiliki nilai tawar ketika koalisi Pilpres mulai terbentuk.
Artinya, Golkar masih punya ruang untuk memainkan sejumlah skenario tanpa harus terburu-buru menentukan posisi akhir. Partai bisa terus menjaga kedekatan dengan presiden dengan tetap menjaga daya tawar hingga dinamika politik 2029 jelas.
Efriza sendiri menggambarkan posisi parpol sebagai partai yang terus mengawal pemerintahan sekaligus membangun daya tawar politik. Menurutnya, Golkar saat ini lebih tepat dipahami sebagai kekuatan yang menjaga hubungan dengan pusat kekuasaan sekaligus mempersiapkan berbagai kemungkinan.
Baca juga: Mendampingi Denny Indrayana, Akhirnya Terungkap Parpol yang Ingin Memakzulkan Gibran Melalui Mahkamah Konstitusi
Golkar saat ini lebih tepat dibaca sebagai partai yang menjaga hambatan sekaligus membangun daya tawar, ujarnya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency













