SURABAYA (Lentera) Minggu (13/9/2026), Dermaga Marina di Pantai Carita, Pandeglang, Banten, ramai pengunjung. Warga menikmati liburan dengan memandangi laut. Seorang penjual buah jambu biji merah menawarkan dagangannya dengan dibungkus plastik. Barang dagangan tersebut dengan cepat berpindah tangan ke tangan wisatawan. Di tengah teriknya cuaca, makan buah menjadi aktivitas yang menyegarkan.
Di sudut dermaga, sejumlah jurnalis foto asal Jakarta terlihat duduk bersama di bangku-bangku yang dinaungi bayang-bayang dedaunan pohon. Suasana tersebut tak jauh berbeda dengan yang terjadi di Pos Polisi Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, tempat para jurnalis foto Jakarta nongkrong sambil menunggu atau usai meliput berita. Mereka mengobrol tentang topik di sana-sini. Namun, terlihat ada yang berbeda dibandingkan saat berada di Bundaran HI. Mereka yang biasanya curang, tertawaaku, seolah-olah bersembunyi dalam perasaan mereka. Hanya percakapan datar yang muncul.
Pasalnya, ada lima jurnalis yang meliput dampak letusan Gunung Anak Krakatau, yakni Arie Basuki (fotografer Merdeka.com), Yudistiro Pranoto (fotografer iNews.com), Muhammad Bagus Khoirunas (fotografer antarafoto), Donal Husni (fotografer freelance), dan Firdaus Wajidi (videografer freelance Anadolu Agency), dinyatakan hilang dan dilakukan penggeledahan tim SAR mulai Selasa (8/9/2026), Bundaran HI sepertinya sudah “pindah” ke Dermaga Marina.
Pagi, siang, malam, secara bergantian sejumlah rekan profesional hadir. Tidak ada satu hari pun yang berlalu tanpa jurnalis foto. Mereka berasal dari Jakarta, Bogor, dan Tangerang. Rekan jurnalis foto, Dasril Rozsandi yang kini tinggal di Purworejo, Jawa Tengah, memberanikan diri mengendarai sepeda motor menuju Pantai Carita untuk berkumpul dengan jurnalis foto.
Para jurnalis foto datang dalam diam. Terkadang, jika ditanya motivasinya, mungkin saja karena ingin berada di tempatnya sekarang. Ada yang mampu mengendalikan emosinya, namun terkadang rasa sakit itu muncul. Seorang jurnalis foto tiba-tiba menangis setelah memandangi laut beberapa saat. Dari situ terlihat ikatan emosional yang sangat dalam.
Setiap kapal tim SAR merapat, selalu ada harapan agar korban yang hilang dapat ditemukan. Tidak ada usaha yang sia-sia, semua dilakukan untuk menemukan titik terang. Mereka selalu membangkitkan energi positif untuk kembalinya rekan-rekannya.
Agus Susanto, jurnalis foto Kompas yang sangat dekat dengan Arie Basuki, selalu mengunggah status di Instagram Story yang berisi kerinduan terhadap Arie Basuki. Dalam salah satu unggahannya, Agus mengunggah foto secangkir kopi dengan kalimat menunggu kepulangan Arbas, sapaan akrab Arie Basuki.
“Bas, aku belum membuat kopi, aku tunggu di sini.”
Agus berada di Carita selama dua malam dan sekembalinya ke rumah ia berpamitan dengan Arbas melalui unggahan Instagram Story. Selepas berada di Jakarta, kerinduan Agus terhadap Arbas sepertinya tak kunjung hilang. Agus menutupi Sungai Cileungsi, Bogor yang tercemar dan dipenuhi busa. Arie Basuki berhasil meraih penghargaan dalam kompetisi foto jurnalistik terbesar dunia, World Press Photo, atas fotonya seorang pencari ikan di tengah buih Sungai Cileungsi, tempat yang juga dikunjungi Agus beberapa hari lalu.

Tidak semua jurnalis foto mengenal kelima jurnalis yang hilang itu secara pribadi, namun mereka semua memiliki ikatan emosional. Pekerjaan yang mereka lakukan pun sama, meliputi dan merilekskan suasana hingga kondisi yang dapat membahayakan keselamatan. Terkadang pemberitaannya “keren” pada acara peluncuran mobil terbaru atau rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), terkadang juga ada pemberitaan yang “keren” seperti demonstrasi berbagai bencana alam. Dan kini, ketika beberapa temannya hilang, tidak ada alasan untuk tidak hadir di tempat hilangnya mereka.
Mengutip Di antaraOperasi SAR terhadap rombongan jurnalis dan awak kapal cepat Arupadathu 1 resmi dihentikan pada Kamis (17/9/2026) malam. Penutupan operasi tersebut diumumkan oleh Gubernur Banten Andra Soni.
“Sudah tidak efektif lagi, sehingga dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini dinyatakan dihentikan,” kata Andra Soni.
Bagi kita manusia, hal yang bisa kita lakukan adalah saling menguatkan dan juga memanjatkan doa. Dari arah manapun, doa merupakan bentuk penyerahan diri manusia kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Satu doa akan memancarkan energi berkali-kali lipat untuk kekuatan.
Arbas, Yudis, Bagus, Donal, Daus, aku tidak tahu kamu dimana sekarang. Tapi, saya yakin Anda kini berada dalam pelukan alam semesta, dan mereka akan menjaga Anda dengan terhormat. Pulanglah menuju indahnya mimpi dan segala kenangan indah yang akan dikenang oleh semua sahabatmu. Meski pencarian resmi tim SAR telah berakhir, kerinduan kami terhadap Anda tidak akan pernah hilang.
Bagi jurnalis, menjadi garda terdepan dalam sebuah peristiwa merupakan tugas yang wajib dijalani. Segala macam risiko selalu menghadang kita dan harus kita pertimbangkan.
Satu hal yang pasti, tidak ada foto yang lebih berharga dari kehidupan.
Selamat tinggal, teman-teman
Redaktur : Arifin BH
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency













