MAJALENGKA, Aktualita.co – Video seorang pasien wanita lanjut usia yang tergeletak di teras Puskesmas Bantarujeg, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, viral di media sosial. Rekaman ini menuai tudingan bahwa Puskesmas menolak memberikan pelayanan kepada pasien yang membutuhkan perawatan medis.
Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (31/10/2026) itu menjadi perhatian publik setelah keluarga pasien mengungkapkan kekecewaannya melalui video yang beredar di internet.
Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang perempuan berada di luar gedung fasilitas kesehatan dalam kondisi lemas. Pihak keluarga mempertanyakan pelayanan yang diberikan petugas, apalagi setelah mendapat informasi ruang rawat inap sudah penuh.
Namun pihak Puskesmas Bantarujeg membantah tudingan penolakan atau kelalaian pasien. Pihak puskesmas menyatakan pasien telah mendapat pemeriksaan awal dan disarankan menjalani pemeriksaan lanjutan di rumah sakit.
Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka pun menindaklanjuti kejadian tersebut dengan meminta informasi kepada petugas medis dan memeriksa kamera pengawas atau rekaman CCTV.
Kronologi Pasien Datang ke Puskesmas Bantarujeg
Dokter Puskesmas Bantarujeg, dr. Tika Ayu Valentina menjelaskan, kejadian tersebut bermula sekitar pukul 17.45 WIB saat seorang pasien perempuan berinisial M (61) datang bersama keluarganya dengan menggunakan sepeda motor.
Berdasarkan penjelasan yang diberikan pada Minggu (1/11/2026), petugas langsung membantu pasien yang menggunakan kursi roda untuk masuk ke Ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Petugas kemudian melakukan pemeriksaan awal dan mendalami riwayat keluhan pasien.
Pasien diketahui menderita batuk selama kurang lebih satu bulan, disertai keringat dingin pada malam hari, mual, pusing, muntah, dan penurunan berat badan.
Hasil pemeriksaan yang disampaikan pihak puskesmas menunjukkan, tekanan darah pasien mencapai 172/82 mmHg, detak jantung 106 kali per menit, frekuensi pernapasan 24 kali per menit, dan saturasi oksigen 96 persen.
Tika menjelaskan, pemeriksaan awal dilakukan saat pasien menggunakan kursi roda karena tempat tidur pemeriksaan baru digunakan untuk merawat korban kecelakaan lalu lintas dan masih harus dibersihkan.
Setelah tempat tidur siap digunakan, pasien kemudian dipindahkan untuk menerima pemeriksaan lebih lanjut.
Dokter Sarankan Rujukan, Keluarga Ingin Pasien Diobati di Puskesmas
Sekitar pukul 17.58 WIB, perawat yang bertugas berkonsultasi dengan dokter terkait kondisi pasien.
Berdasarkan gejala yang ditemukan, dokter mencurigai TBC atau TBC paru. Namun dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dan belum menjadi diagnosis pasti.
Oleh karena itu, dokter menyarankan pasien dirujuk ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan rontgen dan pengobatan sesuai kebutuhan medis.
Menurut Tika, keluarga pasien tidak menerima anjuran tersebut karena menilai jarak rumah sakit yang cukup jauh.
Namun pihak keluarga menolak rujukan ke RS dan ingin berobat ke puskesmas karena jaraknya yang jauh, jelas Tika dalam klarifikasinya.
Petugas kemudian berkoordinasi dengan bagian rawat inap untuk memastikan ketersediaan tempat tidur.
Berdasarkan informasi dari pihak Puskesmas, saat itu seluruh tempat tidur rawat inap sudah terisi. Bahkan, ada dua pasien lainnya yang masih menjalani observasi di IGD sembari menunggu ketersediaan kamar.
Penjelasan ini disebut-sebut menjadi awal kesalahpahaman antara keluarga pasien dan petugas kesehatan.
Ruang Tanya Keluarga Disebut Penuh
Di sisi lain, keluarga pasien mempertanyakan alasan tidak tersedianya kamar rawat inap.
Dalam pemberitaan yang beredar pada 1 November 2026, pihak keluarga disebut melihat tiga ruangan yang tampak kosong dan mempertanyakan alasan pasien tidak bisa ditempatkan di ruangan tersebut.
Perbedaan informasi mengenai kapasitas pengobatan menjadi salah satu persoalan yang memicu ketegangan di lokasi.
Namun keberadaan ruangan yang terlihat kosong tidak serta merta menandakan bahwa tempat tidur perawatan tersedia atau dapat digunakan untuk pasien.
Kondisi ruangan, kesiapan fasilitas, dan kebutuhan medis pasien juga perlu diperhatikan.
Informasi mengenai tiga kamar kosong tersebut masih merupakan klaim pihak keluarga yang belum dapat dikonfirmasi secara mandiri.
Situasi kemudian memanas hingga pasien sudah berada di teras luar Puskesmas, seperti terlihat dalam video yang beredar.
Puskesmas Bantah Mengabaikan Pasien
Dalam klarifikasinya, Tika mengatakan pihak keluarga membawa pasien keluar dari IGD.
Ia mengatakan, baru tiba langsung di puskesmas sekitar pukul 18.15 WIB dan mendapati pasien sudah tidak ada lagi di ruang pemeriksaan.
Berdasarkan keterangannya, pasien dibawa pihak keluarga ke teras tanpa sepengetahuan petugas.
Tika mengaku sudah meminta pihak keluarga untuk mengembalikan pasien ke IGD agar bisa diperiksa kembali, namun permintaan tersebut tidak diterima.
Pihak puskesmas juga memperlihatkan rekaman CCTV untuk mendukung penjelasan rangkaian layanan yang diberikan.
Atas keributan tersebut, Tika meminta maaf kepada pasien dan keluarga.
“Kami memang tidak ada niat sedikit pun untuk menolak pasien, apalagi menelantarkannya,” ujarnya.
Klarifikasi ini merupakan penjelasan pihak puskesmas terkait tudingan yang beredar. Sementara itu, perbedaan informasi mengenai kondisi di lokasi tetap menjadi bagian penting dalam memahami kejadian secara keseluruhan.
Dinas Kesehatan Majalengka Periksa CCTV dan Petugas
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka Agus Suratman menyatakan, pihaknya sudah melakukan penyelidikan setelah video tersebut ramai diperbincangkan.
Pemeriksaan dilakukan dengan meminta penjelasan kepada kepala puskesmas, petugas terkait, dan dokter yang menangani kejadian tersebut.
Agus mengatakan, pemeriksaan rekaman CCTV dan keterangan petugas tidak menunjukkan adanya tindakan sengaja yang mengabaikan pasien.
“Saya sudah minta klarifikasi dan penjelasan. Dilihat dari rekaman CCTV, ternyata tidak ada yang namanya penelantaran,” kata Agus, Minggu (1/11/2026).
Meski menyampaikan hasil pemeriksaan, Dinas Kesehatan tetap menganggap keluhan masyarakat sebagai masukan penting untuk peningkatan pelayanan.
Agus pun menyampaikan apresiasi kepada warga yang mengunggah video tersebut karena kritik masyarakat dapat dijadikan bahan evaluasi fasilitas kesehatan.
Perawatan dan Komunikasi Pasien yang Menjadi Sorotan
Kasus Puskesmas Bantarujeg menunjukkan pentingnya komunikasi yang jelas antara petugas kesehatan dan keluarga pasien, terutama ketika fasilitas rawat inap memiliki keterbatasan.
Keputusan merujuk pasien perlu disertai dengan penjelasan mengenai kondisi medis, alasan pemeriksaan lebih lanjut, dan kemungkinan pilihan layanan.
Di saat yang sama, kekhawatiran keluarga terhadap kondisi anggota keluarganya juga perlu ditangani dengan pendekatan empati.
Hingga informasi tersebut diverifikasi pada 2 November 2026, belum diperoleh informasi lebih lanjut mengenai kondisi terkini pasien setelah keluar dari wilayah puskesmas atau apakah pasien akhirnya mendapat perawatan di fasilitas kesehatan lain.
Kejadian ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya dinilai dari prosedur medis yang diberikan, namun juga bagaimana informasi disampaikan ketika pasien dan keluarganya menghadapi situasi sulit.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














