KAMAR.ID – Darah aktivis rupanya mengalir deras di nadi Noor Shalima Zamaiya Hakim. Putri sulung artis sekaligus politikus senior Wanda Hamidah dan Cyril Raoul Hakim kembali mencuri perhatian publik usai tampil berapi-api dalam aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Rabu, 28 Oktober 2026. Tepat di peringatan Hari Sumpah Pemuda, alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) berusia 24 tahun itu menyuarakan kritik tajam terkait penanganan krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla). di Indonesia.
Aksi bertajuk #IndonesiaSadar ini diprakarsai oleh aliansi mahasiswa seperti BEM UI bersama Komite Penyelamatan Kedaulatan Rakyat (SADAR) dan elemen masyarakat sipil. Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan lima tuntutan utama kepada pemerintahan Prabowo-Gibran. Poin krusial tersebut antara lain mendesak agar karhutla ditetapkan sebagai bencana nasional, perbaikan pengelolaan anggaran negara, penyesuaian biaya pendidikan, pemberantasan korupsi, dan diakhirinya militerisasi ruang sipil. Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah telah menyatakan sikapnya menghormati kemajuan aksi penyampaian aspirasi tersebut.
Orasi yang berapi-api
Dikutip dari video yang beredar di media sosial yang memperlihatkan sosok Shalima Hakim, putri Wanda Hamidah, tampak menyampaikan orasinya dengan penuh haru. Sorotan tajam ini ditujukan langsung kepada Presiden Prabowo agar tak tinggal diam.
“Pak Prabowo, jangankan uang ratusan triliun, ayolah Pak, disalurkan ke karhutla! Apa bapak tega melihat anak-anak mati karena asap? Begitulah hidup! Bayi berumur satu tahun meninggal karena karhutla! Jangan bilang kalau masyarakat hanya bilang tidak ada solusi, karena semua ada solusinya, semua ada kajiannya..tapi anda tidak mendengarkan rakyat!” Shalima berteriak di depan para pengunjuk rasa.
Tak hanya mendorong alokasi anggaran, Shalima juga dengan tegas mengoreksi argumen yang kerap menyederhanakan bencana ekologis ini sebagai fenomena alam murni akibat El Nino. Berbekal latar belakang pendidikannya di bidang hukum, ia menegaskan persoalan karhutla memiliki landasan ilmiah serta kajian mitigasi yang komprehensif dari para ahli dalam negeri dari tahun ke tahun.
“Dan jangan membodohi masyarakat. Katakanlah itu bencana alam. El Nino itu fakta. Itu ilmiah yang sudah dipelajari oleh para ilmuwan dari Indonesia. Dan kajiannya sudah bertahun-tahun. Coba sampaikan kepada Anda. Lengkap dengan solusinya. Lengkap dengan mitigasinya. Tapi Anda tidak mendengarkan. Jadi jangan bohongi masyarakat. Katakan itu wajar. Karena ini fakta ilmiah. Jangan pernah berbohong lagi kepada masyarakat. Jangan bilang masyarakat hanya membual. Tidak ada solusinya karena semua sudah ada. Semua ada kajiannya, tegasnya.
Ambang Batas Darurat Krisis Ekologis
Berdasarkan data Kementerian Kehutanan RI, krisis lingkungan hidup ini memang berada di ambang keadaan darurat, dimana sekitar 202.004 hektar lahan telah terbakar di berbagai wilayah hingga Juli 2026. Statistik tersebut bukan sekedar rangkaian angka, namun merupakan representasi nyata dari hilangnya habitat satwa liar, ancaman terhadap keseimbangan ekosistem, dan penderitaan masyarakat—terutama anak-anak dan bayi—yang kesulitan mendapatkan udara bersih untuk bernafas.
Aksi vokal Shalima pun langsung menarik perhatian netizen di berbagai negara platform digital. Keberanian dan keteguhan Shalima disamakan dengan rekam jejak sang ibu, Wanda Hamidah, yang dikenal sebagai tokoh sentral gerakan reformasi tahun 1998 dan mantan anggota DPRD DKI Jakarta periode 2009-2014. Sebagai generasi muda yang cerdas dan peduli, Shalima telah membuktikan bahwa kepedulian terhadap nasib masyarakat di ruang publik kini kembali menemukan peran kepemimpinannya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














