Surabaya, CNN Indonesia —
Beberapa daerah Jawa Timurtermasuk kota Surabaya terendam banjir Hujan dan tertutup awan selama dua hari terakhir. Namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan hujan tersebut bukan pertanda datangnya musim hujan, melainkan akibat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan pemerintah.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo Taufiq Hermawan mengatakan musim kemarau panjang masih berlangsung di Jawa Timur. Hujan yang turun di berbagai daerah murni karena rekayasa cuaca.
Jadi di wilayah Pasuruan dan Probolinggo juga saya pastikan itu karena operasi modifikasi cuaca, kata Taufiq dalam Bimtek Cakupan Bencana Jatim di Surabaya, Rabu (28/10).
IKLAN
GULIR UNTUK MELANJUTKAN ISI
Taufiq menjelaskan, hujan buatan ini dilakukan melalui sejumlah penerbangan dengan rute khusus yang menyasar wilayah tertentu.
Karena sorti yang dilakukan memiliki lintasan yang mengarah ke wilayah Sidoarjo, lalu Probolinggo, dan sebagian Pasuruan, sehingga mengakibatkan hujan di wilayah tersebut, jelasnya.
Selain di wilayah tersebut, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan di Malang dan sebagian Bondowoso. Sementara wilayah Mataraman belum menjadi sasaran operasi.
Taufiq mengatakan, OMC ini merupakan hasil kolaborasi antar instansi yang bertugas memicu hujan di titik krisis air.
Hujan yang terjadi di wilayah tersebut dipicu oleh OMC yang dilakukan oleh tim BMKG, BRIN, dan teman-teman BPBD Provinsi, tambahnya.
BMKG memperkirakan musim kemarau di Jatim akan berlangsung lebih lama akibat kuatnya pengaruh fenomena El Nino.
Berdasarkan analisis terkini, sebanyak 68 dari 74 Zona Musim atau sekitar 90,6 persen wilayah Jawa Timur diprediksi memasuki musim hujan pada periode Desember hingga Februari 2027. (frd)
(frd/dmi)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














