Jember (beritajatim.com) – Dua dosen Universitas Jember mengikuti aksi demonstrasi ‘Indonesia Sadar’ yang digelar Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (30/10/2026) sore.
Di bawah langit mendung, Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Budaya, Ikwan Setiawan membacakan dua puisi, yakni ‘Paman Doblang’ karya penyair Wahyu Sulaiman Rendra alias WS Rendra dan ‘Peringatan’ karya Wiji Thukul.
Puisi ‘Paman Doblang’ diciptakan Rendra pada 22 April 1984 yang terinspirasi dari pengalamannya saat ditahan di sel oleh rezim Orde Baru. Puisi ini kemudian dimusikalisasikan oleh grup musik Kantata Takwa pada tahun 1990.
Bait ikonik puisi ini terdapat di akhir puisi: Kesadaran adalah matahari / Kesabaran adalah bumi / Keberanian adalah cakrawala / Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata.
Sedangkan ‘Peringatan’ ditulis oleh Wiji Thukul pada tahun 1986. Thukul merupakan salah satu dari sekian banyak aktivis yang hilang menjelang runtuhnya rezim Orde Baru.
Bait ikoniknya juga ada di akhir puisi: jika usulan ditolak tanpa pertimbangan / suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan / dituduh subversif dan mengganggu keamanan / maka hanya ada satu kata: menentang!
Berbeda dengan Ikwan, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Muhammad Iqbal berpidato sambil mengacungkan tiga jari yang menjadi simbol perlawanan. Dalam orasinya, mantan aktivis tahun 1998 ini menyerukan revolusi sebagai upaya mengakhiri rezim Prabowo Subianto – Gibran Rakabuming Raka.
“Hari ini hujan. Saatnya pemerintah turun tangan. Saatnya kita tidak lelah untuk terus bersuara. Tapi suara terus-menerus tanpa aksi nyata tidak ada artinya. Makna sebenarnya adalah seruan revolusi. Saatnya mahasiswa ikut rakyat teriakkan revolusi,” kata Iqbal lantang.
Iqbal mengimbau generasi muda jangan pernah merasa takut dan gentar. Salut tiga jari bukan sekedar simbol. Ini wujud persatuan dan kesatuan perlawanan pemuda. Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan, ujarnya.
Saat ini sejumlah gerakan sosial untuk perubahan di berbagai belahan dunia didorong oleh generasi muda. “Gelombang demonstrasi di Eropa telah berhari-hari meneriakkan perjuangan melawan penindasan dan kesenjangan,” kata Iqbal.
Hal serupa juga terjadi di Indonesia. “Kalianlah yang akan memegang kuncinya. Salut tiga jari. Indonesia sadar: sadar dipukuli, sadar dibakar, dan sadar dimiskinkan. Hari esok adalah milik kita. Masa depan kita ambil dan sumpah pemuda untuk bangsa kita,” kata Iqbal. (wir/ian)
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














