MALANG (Lentera) – Keberagaman agama, suku, dan budaya di Indonesia kerap dihadapkan pada tantangan perpecahan akibat perbedaan pandangan dan provokasi berbasis identitas.
Untuk memperkuat perdamaian di tengah keberagaman tersebut, Prof. Ali Mashuri, S.Psi., M.Sc., Ph.D., mengembangkan model psikososial bernama ANDAL (Arsitektur Penalaran Perdamaian Identifikasi Nasional) yang mendorong terbentuknya rasa memiliki dan cinta terhadap Indonesia sebagai perekat, bukan pemisah antar kelompok masyarakat.
Gagasan ini merupakan bagian dari karya ilmiah bertajuk “ANDAL: Promosi Perdamaian di Tengah Pluralitas Masyarakat” yang akan disampaikan Ali dalam prosesi pengukuhannya sebagai Guru Besar Ilmu Psikososial Departemen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Minggu (8/11/2026).
Apalagi di era saat ini, perkembangan teknologi digital semakin memudahkan masyarakat dalam menerima informasi dari berbagai sumber. Namun derasnya arus informasi juga membawa tantangan ketika konten yang beredar mengeksploitasi sentimen agama, suku, atau kelompok tertentu sehingga berpotensi memicu perpecahan.
“Sekarang kita sudah memasuki era disinformasi, lalu hoax. Dari sana kita melihat fenomena gesekan, perdebatan, yang tidak jelas dasar datanya dari mana,” kata Ali ditemui, Jumat (6/11/2026).
Diakuinya, kondisi ini menunjukkan kecenderungan masyarakat mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.
Melalui pengembangan ANDAL, Ali berharap model ini dapat berkontribusi dalam penguatan literasi digital masyarakat. Tidak hanya meningkatkan kemampuan menerima informasi, namun juga membangun kehati-hatian dalam menyikapi informasi yang beredar agar masyarakat tidak mudah terjebak oleh informasi yang tidak valid.
Meski demikian, Ali menegaskan ANDAL saat ini masih dalam proyeksi pengembangan teoritis. Kedepannya model ini juga diarahkan untuk diaktualisasikan menjadi suatu instrumen pengukuran. Namun pengembangan alat ukur ini masih terus dilakukan upaya penyempurnaan teorinya.
Patriotisme Konstruktif sebagai Perekat Keberagaman
Lebih lanjut, salah satu landasan penting dalam model ANDAL, kata Ali, adalah membentuk kohesi sosial melalui patriotisme konstruktif atau patriotisme konstruktif. Konsep ini menempatkan rasa cinta terhadap Indonesia bukan sekadar sebagai kebanggaan terhadap jati diri bangsa, namun juga sebagai kepedulian untuk mendorong kemajuan bangsa.
Menurut Ali, mencintai Indonesia tidak boleh membuat masyarakat menutup mata terhadap berbagai kelemahan, kesenjangan, atau kemunduran yang terjadi. Sebaliknya, rasa cinta ini perlu diwujudkan melalui keterbukaan dalam menyampaikan kritik yang berorientasi pada kemajuan bersama. Dengan demikian, kritik tidak serta merta dimaknai sebagai bentuk ketidaksetiaan terhadap bangsa. Padahal, keberanian memperbaiki kekurangan merupakan bagian dari kepedulian agar Indonesia bisa berkembang menjadi lebih baik.
“Mungkin kita semua sama-sama mencintai Indonesia. Tapi bagaimana kita bisa melihat ada kelemahan, ada kesenjangan, lalu diam saja. Idealnya kita lebih terbuka mengkritisi ANDAL karena kita sebagai bangsa tidak mau menerima pengurangan atau kemunduran. Padahal itu demi kebanggaan kita terhadap Indonesia,” jelasnya.
Ali juga menjelaskan keterikatan sosial yang terlalu ekstrim berpotensi melahirkan patriotisme buta. Dalam kondisi seperti ini, seseorang cenderung sulit menerima pandangan yang berbeda, termasuk ketika harus mengecek kembali kebenaran informasi yang diterimanya.
Sikap ini dapat memudahkan masyarakat mempercayai informasi yang sesuai dengan pandangannya tanpa terlebih dahulu memeriksa sumber atau keabsahannya. Padahal, rasa cinta terhadap Indonesia seharusnya mendorong masyarakat untuk lebih kritis dan berhati-hati dalam menyikapi berbagai informasi.
Identitas Indonesia Perlu Dirasa Setara
Dalam pengembangan lebih lanjut, ANDAL juga diarahkan untuk membentuk dan menguji konsensus empiris mengenai makna, kedudukan dan implikasi ketiga konstruk yang menjadi landasan model bagi masyarakat Indonesia.
Konsensus yang dimaksud, kata Ali, bukan sekedar kesepakatan normatif mengenai pentingnya jati diri bangsa. Namun perlu dilihat bagaimana jati diri Indonesia benar-benar dipahami, diakui, dan dialami secara merata oleh berbagai kalangan masyarakat.
Hal ini mencakup kelompok agama, etnis, budaya lokal, kelompok mayoritas dan minoritas, kelompok dominan dan subordinat, hingga masyarakat yang tinggal di pedesaan dan perkotaan.
Wartawan : Santi Wahyu
Redaktur: Lutfiyu Handi
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency













