#Gibranisme,
“RELAWAN ASING DAN PEMBATASAN 2026, SIAPA YANG DIANGGAP TIDAK ADA!?”
.
SIAPA DIA, SIAPA KAMU
Dia absen dari TV, media cetak, dan studio podcast.
Dia tidak ada di Instagram sebagai pejabat yang sedang memanen gambar. Tak seorang pun di podium ber-AC mengatakan “penanganan karhutla terkendali”. Itu tidak ada dalam berita. Tapi dia ada di sana. Dalam asap.
.
SIAPA DIA?
Beliau merupakan relawan kebakaran hutan dan lahan. Pria dan wanita muda yang berpenampilan biasa saja. Wanita yang sedang jongkok menggendong bayi orangutan yang gemetar, matanya basah seolah bertanya: “Di mana ibuku?”. Dan pemuda itu memasang wajah marah. Marah karena bendera merah putih di tangannya lebih lusuh dibandingkan janji dan pernyataan pejabat pusat dan daerah yang mengatakan, “Tidak ada kebakaran hutan! Semuanya baik-baik saja!”

Ketulusan dan kesukarelaan mereka luput dari pemberitaan media. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Setiap kali mereka memejamkan mata, yang mereka dengar bukanlah dengkuran, melainkan jeritan hutan. Jeritan monyet dibakar hidup-hidup. Jeritan induk orangutan yang tak sempat lari karena sedang menggendong anaknya. Relawan tersebut terbangun di tengah malam, berkeringat, memeriksa apakah api sudah padam. Meski dia tahu, apinya tidak pernah benar-benar padam. Api berpindah begitu saja ke lahan yang lebih kering.

Terkadang, 9 rekan relawan yang meninggal di wilayah Kalimantan dan Sumatera seolah datang untuk memberi semangat, bahwa yang mereka lakukan adalah ‘jihad’. Rasa bersalah semakin bertambah ketika mereka hanya mampu menyelamatkan seekor anak orangutan tanpa mengetahui keberadaan orang tuanya. “Kenapa saya tidak bisa lebih cepat? Kenapa saya hanya bisa menyelamatkan satu orangutan?” Padahal mereka sudah memberikan segalanya, bahkan sisa oksigen yang mereka punya.

.
Mereka adalah bagian kecil dari empati yang otentik—sebuah gerakan moral murni yang menuntut pengorbanan jiwa dan raga. Sebuah gerakan yang lahir dari kepedulian, kasih sayang dan ibadah. Mereka mewakili lebih dari 12.880 relawan lainnya yang sudah 4 bulan hidup dalam kisruh pengelolaan Hutan dan Kehutanan Indonesia.

.
Mereka tidak lagi peduli dengan kurangnya standar APD dan tidak jelasnya perlindungan kesejahteraan. Mereka juga muak mendengar banyak ‘perut buncit’ yang mulai berbicara: “Mau tanam apa selanjutnya? Sawit? Atau pertambangan? Berapa hektar lagi yang bisa dibuka?”
.
DIA, MEREKA DAN KAMU?
Para relawan memikirkan bagaimana cara mencegah api meluas, menyelamatkan hewan, dan mengubur bangkai hewan yang hangus agar tidak membusuk. Namun sebaiknya Anda lebih memikirkan bagaimana cara mengubur kasus pembakaran tersebut agar tidak menjadi viral.
.
…Semua agama sepakat bahwa relawan bergerak di tengah asap kebakaran hutan dan lahanmengorbankan kenyamanan demi keselamatan manusia, hewan, dan bumi, adalah melakukan tindakan spiritual tertinggi dalam agama masing-masing. Mereka adalah pahlawan pendiam yang namanya harum di langit, meski sering diabaikan di muka bumi…….

RELAWAN HAK ASING
Ada dan dianggap tidak ada.
Jangan tanya lagi siapa dia, siapa mereka. Tanyakan saja siapa Anda, siapa yang bisa tidur nyenyak saat masih dalam asap. Tanyakan saja siapa saja mereka yang sibuk menghitung keuntungan bisnis kelapa sawit, selagi lahan ini masih terbakar.
#Pecatmenofhut #Menteri Kehutananmengundurkan diri
(Merah-01/Foto.ist)
#sahabat KPK! | @squad-sahabatkpk | #fabelismJurnalisme | #Fabjour
| #FabelianoRepublik | #Gibranisme | #DariBandungWeFight!
(Semua karakter binatang dalam artikel ini merupakan personifikasi sindiran untuk ikut serta dalam kampanye antikorupsi)










“Saat manusia takut untuk bersuara menentang korupsi, hewan akan mengambil alih!”
“Saat manusia bingung dan takut bicara anti korupsi, hewanlah yang mengambil alih!”



CATATAN REDAKSI:
Pada kesempatan kali ini juga. kami, atas nama manajemen dan tim editorial Koranprabowo.id, Aku minta maaf untuk saat ini, Jumat, Tanggal. 23 Oktober 2026 sejak hari Sabtu, tanggal. 2 Mei 2026 website Koranprabowo.id ‘tidak dapat diakses / mati total’ karena kelalaian perusahaan penyedia jasa (PT. QCI) – yang juga diakuinya. Terakhir tanggal 6 Mei 2026. Jadi untuk sementara kami akan memigrasikan/menampilkan semua informasi teman relawan disini, di Koranjokowi.com. Dua kali pemanggilan tidak digubris, kami juga sudah meminta 9 lembaga negara untuk mengurus kasus ini (KSP, Sekretariat Negara RI, KumHAM, Komdigi, Mabes Polri, Polda Jabar, BPKN dan BPSK), tenang saja kawan. Harap menghindari isu-isu terkait tudingan ‘pembunuhan’ yang disengaja terhadap media relawan Prabowo-Gibran, atau tudingan ‘konspirasi politik’. Santai saja kawan..Semua akan indah pada waktunya. Dan saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.
Hiu berkeliaran, Sampai jumpa nanti!





=====
- #NonaJokowi, “Tepuk tangan yang BENAR & MISS JOKOWI!?”
- #RepublikFabeliano, “SIAPA YANG BISA MENIRU ANISSA DAN RALINE SHAH?”
- #Gibranisme , “ADA APA DENGAN DEMOKRAT DAN KABAKOM REPUBLIK INDONESIA?”
- Feri Manurung, #RepublikFabeliano, “Rp 10 TRILIUN UNTUK DANAU SIOMBAK, MEDAN MARELAN, NUMUT!?”
- #FbelianoRepublic, “MARI SErang SOLO!”
- #RepublikFabeliano, “PESAN DARI BALIMANTAN Owl UNTUK IRFAN HAKIM”
- Budi D.Ginting, #RepublikFabeliano, “SUMMIT ZERO RESTRICTIONS, DAPATKAN BONUS Rp 70 MILIAR!”
- #RepublicFabeliano, “NAMA SAYA ROCKY!”
- Saudara Nasution, #RepublikFabeliano, “TENTANG PETI, PRESIDEN TERTARIK GEN Z KABUPATEN MADINA!?”
- #RepublikFabeliano, “LEBIH 3 TRILIUN SERANGGA KEMATIAN KARENA PEMBATASAN, KECELAKAAN?”
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














