Titik terang muncul di tengah kuatnya angin kencang rumor yang menyebutkan adanya keretakan kemitraan politik antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Ketua Umum Militan Gibran 08 Nusantara Andi Azwan blak-blakan membeberkan hubungan personal dan politik antara Presiden Prabowo dan Jokowi. Menurutnya, keduanya saat ini dalam kondisi sangat solid. Bukannya bermusuhan, hubungan kedua tokoh nasional ini diklaim sangat erat, layaknya sahabat karib.
Baca juga: Survei SMRC: Gibran Jauh Lebih Populer, Tapi Publik Lebih Memilih AHY
“Karena apapun itu, itulah kenyataannya, dia dan presiden ketujuh adalah sesuatu yang bisa kami sampaikan sahabat untuk itu,” kata Andi Azwan, dikutip Kamis (22/10/2026).
Penggunaan istilah saat ini “sahabat(teman dekat) yang disampaikannya bertujuan untuk meredam kepanikan pasar dan konstituen di akar rumput. Status sebagai ‘sahabat‘ menegaskan, segala bentuk keputusan negara, termasuk rotasi jabatan yang menyentuh orang-orang terdekat mantan presiden, telah dikomunikasikan dengan baik dan dilandasi semangat saling percaya (saling percaya).
Bagi Andi, tidak masuk akal jika masyarakat mengasosiasikan pergantian pejabat tinggi sebagai bentuk serangan terhadap kelompok Jokowi. Dijelaskannya, rotasi tersebut merupakan kebutuhan administratif (tur tugas) yang wajar terjadi pada setiap era kepemimpinan.
“Jika kita melihat ini, kan? tur tugas. Pak Listyo Sigit sudah menjabat selama 5 tahun, dan paling lama menjabat sebagai Kapolri, kata Andi Azwan.
Dia menekankan bahwa sebagai ‘sahabat‘, Mantan Presiden itu sangat menghormati kewenangan dan hak prerogatif yang kini dipegang penuh oleh Prabowo. Tidak ada intervensi ego sektoral ketika Presiden memutuskan untuk menyegarkan jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri, atau Kementerian Koordinator.
Misalnya ada penyegaran dan itu hak prerogratif presiden yang menentukan, ujarnya
Andi pun mencontohkan penempatan sosok kuat seperti Dudung Abdurachman. Ia menjadi bukti nyata bahwa pemerintah bekerja berdasarkan prinsip meritokrasi dan kebutuhan negara, bukan atas dasar pembagian kue politik atau faksionalisme.
Baca juga: SMRC: Tak Ada Bukti Kuat Gibran Lebih Unggul dari AHY
Jadi bukan satu-satunya, Pak Dudung dipromosikan menjadi Menko Polhukam. Tidak ada kata-kata soal pemberantasan geng Solo dan sebagainya, jelas Andi Azwan.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














