RRI.CO.ID, Tarakan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Tarakan bersama Balai Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Tarakan terus memperkuat sinergi dalam optimalisasi sistem peringatan dini dan kecepatan respon evakuasi menghadapi potensi bencana gempa bumi dan tsunami.
Peramal BMKG Tarakan, Hermansyah menjelaskan, sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (Inatews) mampu mendeteksi dan mengirimkan informasi kekuatan gempa secara real-time kurang dari tiga menit setelah aktivitas tektonik terjadi.
Masyarakat diimbau memahami betul kategori peringatan dini yang dikeluarkan BMKG, mulai dari status waspada dengan tinggi gelombang kurang dari setengah meter, status waspada, hingga status waspada.
Jangan sampai masyarakat panik berlebihan karena tidak membaca informasi secara lengkap, kategori waspada artinya tinggi gelombang kurang dari 0,5 meter dan tetap harus mengikuti arahan pemerintah setempat, kata Hermansyah. (03/11/2026)
Dari sisi kesiapan operasional lapangan, Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Tarakan Dede Haryana menegaskan, pihaknya menerapkan standar waktu tanggap maksimal 25 menit untuk melakukan operasi penyelamatan.
Basarnas saat ini juga sedang menggencarkan pembentukan program “Kampung Selamat” di tingkat kecamatan, seperti di Tarakan Utara, untuk melatih kemandirian masyarakat agar memiliki keterampilan dasar evakuasi sebelum tim penyelamat tiba di lokasi.
“Melalui pembentukan Kampung Rescue ini bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan membentuk karakter masyarakat yang tangguh dan mandiri dalam menghadapi situasi darurat bencana,” tutupnya.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














