TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Tawaran insentif fiskal hingga Rp1 triliun dari pemerintah pusat bagi daerah yang berhasil mengelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan menjadi prioritas Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar).
Bupati Aulia Rahman Basri sebenarnya melihat keberhasilan program tersebut dari sejauh mana kebutuhan gizi anak-anak di Kabupaten Kukar dapat terpenuhi, termasuk mereka yang tinggal jauh dari pusat kota.
“Kami ingin memastikan anak-anak di Kukar mendapat standar gizi sesuai pertumbuhannya,” ujarnya di Tenggarong, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, setiap daerah memiliki tantangan berbeda dalam melaksanakan program MBG. Kondisi geografis Kukar yang memiliki wilayah yang berjauhan membuat pemerataan pelayanan memerlukan upaya yang lebih besar.
Hasilnya, penerapan MBG di Kukar saat ini masih lebih optimal di wilayah perkotaan dan wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Sementara sejumlah wilayah pedalaman memerlukan penanganan khusus agar program dapat mencapai seluruh sasaran.
“Di tempat yang mudah dijangkau seperti di Pulau Jawa, kualitasnya sudah pada level perbaikan. Kalau di sini kita masih memikirkan bagaimana pemenuhan MBG bisa berjalan dengan baik,” jelasnya.
Aulia mencontohkan Kecamatan Kenohan dan Kembang Janggut yang sudah mendapat layanan MBG. Meski begitu, kedua wilayah ini masih menghadapi tantangan karena masuk dalam kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“Kalau kita bicara di Kenohan, di Kembang Janggut, pemenuhannya sudah ada,” jelasnya.
Jarak antar kecamatan yang cukup jauh, kata dia, membuat proses pemenuhan kebutuhan penerima manfaat di Kukar memerlukan upaya yang lebih besar dibandingkan di daerah yang aksesnya lebih mudah.
Tapi kondisi di sana masuk kategori daerah 3T. Daerah seperti ini perlu upaya khusus dalam proses pemenuhannya, lanjutnya.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu perhatian Bupati Aulia untuk terus melaksanakan program tersebut. Ia ingin memastikan layanan tidak hanya terkonsentrasi di wilayah yang mudah diakses, tetapi juga menjangkau anak-anak di wilayah yang aksesnya terbatas.
Namun pada dasarnya ia menilai MBG merupakan program yang mempunyai manfaat langsung bagi pemenuhan kebutuhan gizi generasi muda. Oleh karena itu, pelaksanaannya perlu terus diperhatikan agar tujuan program dapat tercapai.
“Kami melihat sendiri bahwa MBG merupakan program yang baik untuk pemenuhan gizi anak-anak kita. Hal ini untuk memastikan anak-anak mendapat asupan gizi sesuai standar pertumbuhannya,” tegasnya.
Selain mendukung program pemerintah pusat, Pemkab Kukar juga menyiapkan intervensi gizi bagi kelompok masyarakat lainnya melalui dana RT-Ku Terbaik. Salah satunya melalui program makan gratis bergizi yang menyasar balita dan lansia (lansia).
Menurut Aulia, langkah tersebut merupakan bentuk pelengkap agar perhatian terhadap kebutuhan gizi tidak hanya diberikan pada anak usia sekolah saja.
Ditegaskannya, Pemerintah Daerah Kukar dibawah kepemimpinan Aulia-Rendi akan terus melakukan upaya tersebut dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat di Kukar.
“Ini yang terus kita lakukan dan terus kita terapkan. Jadi, menurut kami, insentif bukan menjadi persoalan utama di tempat kami,” tutupnya.
Pengarang: Lydia Apriliani | Redaktur: Intoniswan | Adv Diskominfo Kukar
Tag: MBG
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














