NGAWI, babel.terbitan.com – Penyajian menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) dari Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngancar, Kecamatan Pitu, Kabupaten Ngawi, menuai keluhan dari para penerima manfaat. Menu berupa ketan mangga yang disajikan dengan flan dinilai kurang sesuai dengan selera anak sekolah sehingga banyak siswa yang tidak tertarik untuk mengonsumsinya.
Salah satu penerima manfaat di SD Desa Ngancar berinisial AN, saat dikonfirmasi, Selasa (3/11/2026), mengungkapkan banyak siswa yang tidak menyantap menu MBG berupa ketan dan mangga yang dibagikan Jumat (30/10/2026) lalu.
“Setiap hari Jumat dikasih menu non nasi seperti ketan mangga plus flan. Kalau dikasih seperti itu anak-anak tidak mau makan. Apakah SPPG tidak bisa memberikan menu yang menarik untuk anak sekolah?” kata AN.
Menurut dia, sajian ketan, mangga, flan, sedikit keju, sebutir telur, dan selembar selada dinilai kurang menarik. Ia berharap dengan anggaran yang sama, SPPG dapat menyajikan menu yang lebih variatif, menarik, dan memenuhi kebutuhan gizi siswa.
AN menambahkan, makanan MBG yang tidak dikonsumsi siswa biasanya dimasukkan kembali ke dalam wadah untuk dibawa pulang. Namun, dia belum mengetahui apakah makanan tersebut akhirnya dikonsumsi di rumah atau terbuang.
Ia juga menyoroti ragam lauk pauk yang dinilai monoton. Menurutnya, jika menunya hanya terdiri dari tempe, tahu, dan telur, sebenarnya orang tua bisa menyediakan makanan serupa di rumah. Oleh karena itu, program MBG diharapkan mampu menyediakan hidangan bergizi dengan kandungan protein yang cukup.
“Hari ini menunya juga ada telur, tahu kukus, kol, dan kacang panjang rebus. Banyak anak yang tidak mau makan,” jelasnya.
Keluhan lain berkaitan dengan deskripsi menu. AN mengaku pernah menemukan ompreng MBG yang bertuliskan sambal lalapan, namun setelah dibuka ternyata hanya berisi sambal sambal bungkus.
Ia mengaku sudah beberapa kali mengadu ke SPPG, bahkan mengirimkan contoh menu dari dapur SPPG lain untuk dijadikan perbandingan. Namun tanggapan yang diterima hanya akan dipertimbangkan.
“Sudah dikeluhkan, tinggal dijadikan pertimbangan. SPPG lain di luar Ngawi bagus. Jadi anak-anak tertarik makan,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Kepala Desa Ngancar, Nurhadi Hamdani. Ia menyayangkan sajian ketan mangga dan telur MBG yang dinilai tidak sesuai selera anak sekolah.
Menu seperti itu terlalu banyak. Ke mana nalurimu? Seharusnya SPPG menyajikan menu yang bergizi, kata Nurhadi.
Menurut Nurhadi, menu ketan mangga merupakan salah satu varian makanan yang belum biasa dikonsumsi oleh anak-anak di desanya. Ia berharap penyelenggara MBG lebih memperhatikan karakteristik penerima manfaat, termasuk kebiasaan makan dan kesukaan siswa.
Sementara itu, Asisten Lapangan SPPG Ngawi-Pitu-Ngancar, Ahmad Khudhori saat dikonfirmasi mengatakan, menu ketan mangga merupakan salah satu varian yang disajikan atas permintaan penerima manfaat melalui akun media sosial SPPG.
“Menunya (ketan mangga) itu varian. Dan itu permintaan penerima manfaat melalui akun media sosial SPPG,” kata Ahmad.
Ahmad menjelaskan, SPPG Ngancar Pitu menyalurkan MBG ke 19 sekolah dan 14 posyandu. Terkait keluhan menu telur yang terlalu sering disajikan, dia berpendapat, lauk telur pada menu MBG disajikan paling banyak dua kali dalam seminggu.
Sementara terkait susu kotak, Ahmad mengatakan pihaknya tidak bisa lagi menyajikannya sebagai menu MBG karena adanya ketentuan dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Keluhan ini menjadi catatan penting bagi penyelenggara program MBG agar evaluasi menu tidak hanya memperhatikan komposisi dan kandungan gizi, tetapi juga rasa, variasi, dan tingkat penerimaan anak sebagai penerima manfaat.
Sebab, makanan bergizi yang telah disiapkan akan lebih optimal manfaatnya jika benar-benar dikonsumsi oleh siswa, tidak hanya dibagikan dan akhirnya dibawa pulang.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














