Titik Panas di Kalteng Fluktuasi Bmkg mengingatkan ancaman karhutla yang belum usai

- Redaksi

Sabtu, 31 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

KLIK. PALANGKA RAYA – Distribusi hot spot atau hotspot di Kalimantan Tengah (Kalteng) mengalami perubahan signifikan pada peralihan musim hujan. Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah, namun ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum sepenuhnya berakhir.

Data satelit menunjukkan jumlah titik panas pada 24 Oktober 2026 mencapai 8.053 titik. Angka tersebut turun tajam menjadi 11 titik pada 27 Oktober setelah hujan turun dan dilakukan upaya pemadaman.

Namun jumlahnya kembali bertambah menjadi 1.130 titik pada 30 Oktober 2026. Perubahan ini menunjukkan perlunya pemantauan terus menerus terhadap wilayah yang masih berpotensi mengalami kebakaran.

Peramal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Chandra Mukti Wijaya mengingatkan pentingnya mitigasi kebakaran hutan dan lahan meski hujan sudah mulai turun di sejumlah wilayah.

Ia meminta pemadaman dilakukan secara tuntas di setiap titik panas yang terindikasi titik api aktif. Pemantauan titik api, pembasahan lahan gambut, dan kesiapsiagaan petugas juga perlu terus dilakukan.

“Pemadaman tuntas seluruh titik api yang terindikasi kebakaran aktif dengan terus memantau HS dari BMKG, melakukan pembasahan gambut secara intensif dan menjaga kesiapsiagaan menghadapi hujan terus-menerus hingga ancaman karhutla berakhir,” kata Chandra.

Menurutnya, kondisi lahan gambut masih perlu mendapat perhatian. Permukaan tanah yang terlihat basah setelah hujan belum tentu menunjukkan bahwa lapisan gambut di bawahnya cukup lembab.

Sebelumnya, kombinasi suhu udara yang tinggi, kelembapan yang rendah, dan curah hujan yang minim membuat lapisan permukaan gambut mudah mengering. Kondisi tersebut dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Di sisi lain, dinamika atmosfer juga mendukung tumbuhnya awan hujan di wilayah Kalimantan. Faktor labilitas lokal, kelembaban udara, dan melambatnya kecepatan angin atau konvergensi merupakan bagian dari kondisi meteorologi yang mempengaruhi pembentukan awan hujan.

Perubahan cuaca tersebut perlu dibarengi dengan kesadaran akan potensi cuaca ekstrem. Masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan terus memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dari BMKG.
(KLIK-MERAH)


Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Sekretariat MBG Sampang Percepat Peningkatan Aplikasi Pengaduan Warga
Kementerian Haji Dompu Temukan Travel Umrah Masih Berstatus Cabang, Ini Penegasannya
Aulia Tak Ukur Kesuksesan MBG dari Insentif Rp 1 Triliun – Niaga.Asia
Klasemen Terbaru BRI Super League: Persija Dibayangi Bali United dan Madura United, Persaingan Puncak Makin Panas
Kemendikbud Perluas Ekosistem Digital pada Program MBG
Buku Paradoks Indonesia: Dua Tantangan Besar yang Diserukan Prabowo Agar Indonesia Menjadi Negara Maju
Polda Jabar Pastikan Hak Mahasiswa yang Ditangkap Saat Demo di Bandung
Penurunan angka stunting masih menjadi PR tertinggi di Lombok Timur
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:21 WIB

Sekretariat MBG Sampang Percepat Peningkatan Aplikasi Pengaduan Warga

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Kementerian Haji Dompu Temukan Travel Umrah Masih Berstatus Cabang, Ini Penegasannya

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:40 WIB

Aulia Tak Ukur Kesuksesan MBG dari Insentif Rp 1 Triliun – Niaga.Asia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:20 WIB

Klasemen Terbaru BRI Super League: Persija Dibayangi Bali United dan Madura United, Persaingan Puncak Makin Panas

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Titik Panas di Kalteng Fluktuasi Bmkg mengingatkan ancaman karhutla yang belum usai

Berita Terbaru