Prakiraan Cuaca Indonesia Minggu Ini Periode 20 – 26 Oktober 2026: Cuaca Panas dan Kemarau Masih Berlanjut, Peluang Hujan Masih Ada di Sejumlah Daerah – Potensi Hujan Seminggu Depan

- Redaksi

Selasa, 20 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Cuaca panas dan kemarau terus berlanjut, peluang hujan masih ada di sejumlah wilayah

Kondisi cuaca panas dan relatif kering masih terus terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia pada pertengahan Oktober 2026. Suhu udara maksimum tercatat 38,5°C di Jawa Barat dan 38°C di Lampung dan Jawa Tengah pada 17 Oktober 2026, sedangkan di Jawa Timur suhu maksimum mencapai 38°C pada 16 Oktober 2026. Kondisi ini terjadi di tengah minimnya tutupan awan di Indonesia akibat pengaruh fenomena El Niño dan India yang sangat kuat. Dipol Laut (IOD). positif. Berkurangnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan di sejumlah wilayah dapat meningkatkan pemanasan permukaan di siang hari dan mempercepat pengeringan vegetasi sehingga meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Sejalan dengan kondisi tersebut, perkembangan titik panas pada periode 16–19 Oktober 2026 menunjukkan angka yang fluktuatif dengan tren meningkat, khususnya di Kalimantan. Berdasarkan pantauan 19 Oktober 2026, jumlah titik panas dengan tingkat keyakinan tinggi di Kalteng melonjak 157 menjadi 937 titik, Kalbar 31 menjadi 231 titik, dan Sumsel 19 menjadi 66 titik dibandingkan hari sebelumnya. Peningkatan juga terjadi di Jatim dari 10 menjadi 36 poin. Peningkatan jumlah titik panas juga terjadi bersamaan dengan terdeteksinya asap di sejumlah wilayah di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Perkembangan ini menunjukkan perlunya kewaspadaan ekstra terhadap kebakaran hutan dan lahan, khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Di sisi lain, dinamika atmosfer regional dan lokal masih mendukung terbentuknya awan hujan di sejumlah wilayah di Indonesia. Aktivitas MJO, Gelombang Rossby Khatulistiwa, Gelombang Kelvin, dan Gelombang Campuran Rossby-Gravity (MRG) yang didukung oleh angin yang melambat dan menyatu, serta suhu permukaan laut yang relatif hangat, juga meningkatkan aktivitas konvektif terutama di wilayah Sumatera bagian utara dan barat, serta sebagian Kalimantan. Hal ini tercermin dari kejadian hujan lebat hingga sangat deras yang masih terjadi pada periode 16–18 Oktober 2026. Curah hujan tercatat 105 mm/hari di Papua, 66 mm/hari di Sumatera Utara, dan 51 mm/hari di Kalimantan Tengah akibat pengaruh fenomena atmosfer regional dan lokal tersebut.

Dinamika Atmosfer Minggu Depan

Berdasarkan prakiraan curah hujan periode III Oktober s/d II November 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan masih mengalami curah hujan rendah hingga sedang (0–150 mm/basis). Kondisi yang relatif kering masih berpotensi berlanjut terutama di sebagian wilayah Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua Selatan. Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan fenomena El Niño dan Dipole Mode Index (DMI) positif yang secara umum cenderung menurunkan aktivitas konvektif di Indonesia. Namun kondisi tersebut tidak menghilangkan peluang terjadinya hujan lokal akibat pengaruh dinamika atmosfer regional dan lokal.

Aktivitas Osilasi Madden-Julian (MJO) secara spasial diprediksi aktif pada 20–21 Oktober 2026 di sekitar Aceh, Kalimantan bagian utara, dan perairan utara Papua. Sedangkan Gelombang Rossby Khatulistiwa diperkirakan aktif di Samudera Hindia sebelah barat Aceh dan Laut Andaman, sedangkan Gelombang Kelvin diperkirakan aktif di sebagian wilayah selatan Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Aktivitas gelombang atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan, terutama di wilayah yang didukung oleh kondisi atmosfer yang tidak stabil dan konsentrasi massa udara, meskipun secara umum curah hujan diperkirakan masih berada pada kategori rendah hingga sedang.

Selain itu, adanya sirkulasi siklon di Laut Andaman, Laut Cina Selatan, dan perairan utara Kalimantan Barat, serta pengaruh tidak langsung Siklon Tropis Champi di timur Filipina juga mempengaruhi pola pergerakan angin regional. Daerah berkumpul dan melambatnya angin diperkirakan akan terbantu di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Papua sehingga dapat meningkatkan konsentrasi massa udara dan mendukung tumbuhnya awan hujan. Kondisi tersebut diperkuat dengan labilitas atmosfer yang cukup kuat di sebagian wilayah Sumatera bagian utara hingga tengah, Kalimantan, dan Papua. Kombinasi faktor tersebut berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun akumulasi curah hujan secara umum cenderung rendah dalam skala harian, namun kejadian curah hujan signifikan masih berpotensi terjadi dalam skala harian, terutama di wilayah yang dipengaruhi oleh dinamika atmosfer regional dan lokal.

Potensi Hujan dalam Seminggu Kedepan
Periode 20 – 22 Oktober 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi cerah, berawan hingga hujan ringan. Membutuhkan Hati-Hati terjadi peningkatan hujan intensitas sedang terjadi di Sumbar, Kep. Riau, Bengkulu, Banten, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan potensi wilayah terjadinya sebagai berikut:

  • Waspada (hujan lebat – sangat lebat): Aceh dan Sumatera Utara.
  • Angin kencang: Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Papua dan Papua Selatan.

Periode 23 – 26 Oktober 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi cerah, berawan hingga hujan ringan. Membutuhkan Hati-Hati terjadi peningkatan hujan intensitas sedang terjadi di Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, Sumsel, Kep. Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua Tengah, dan Papua Selatan.
Selain itu, hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang dapat terjadi dengan kategori tingkat peringatan dini dan potensi wilayah kejadian sebagai berikut:’

  • Waspada (hujan lebat – sangat lebat): Pegunungan Aceh dan Papua.
  • Angin kencang: Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan.

Menarik
Masyarakat diimbau terus mengantisipasi dampak cuaca panas dan kondisi udara yang semakin kering seiring berlanjutnya musim kemarau. Penggunaan tabir surya diperlukan untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung. Masyarakat juga diimbau untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi dan kelelahan.

Ketika kondisi kekeringan semakin parah, masyarakat dan pemerintah daerah disarankan untuk menghemat penggunaan air dan meningkatkan kesadaran akan ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. BMKG meminta masyarakat untuk tidak membakar sampah atau membuka lahan sembarangan, terutama di kawasan yang mudah terbakar seperti lahan gambut, semak belukar, dan hutan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi titik api.

Meski musim kemarau masih dominan, namun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang yang dapat disertai petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi secara lokal. Oleh karena itu, masyarakat dan pemangku kepentingan perlu tetap mewaspadai potensi genangan, longsoran material, dan sambaran petir yang mungkin terjadi.

Masyarakat diharapkan terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini resmi melalui laman aplikasi InfoBMKG dan media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi risiko cuaca ekstrem, kekeringan, dan kebakaran hutan dan lahan.

Catatan:
Informasi ini telah melalui proses penyuntingan dan pemutakhiran pada tanggal 19 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB.

Jakarta, 19 Oktober 2026
Direktorat Meteorologi Publik BMKG

– Klik link ini jika PDF diatas tidak muncul.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

PDIP Ungkap Lima Kegagalan Fatal Prabowo-Gibran Selama 2 Tahun Menjabat
Hasil Survei Indef Temukan Manfaat Program MBG dan KDKMP Belum Optimal bagi UMKM
2 Tahun Prabowo-Gibran, Program MBG Dinilai Perkuat Gizi Santri
2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, ASI: Kepercayaan Masyarakat 61,4 persen
Aliansi Cipayung Plus Demo di DPRD Jambi, Desak Transparansi Dana Hutan dan Kebakaran Rp 30 Miliar
Virus! Greenpeace Memanjat Patung Bundaran HI
Pernyataan Trump Tidak Menyelamatkan Netanyahu
Update Demo 20 Oktober 2026 di Jakarta: Tuntutan Mahasiswa dan Situasi Terkini Malam Ini
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 00:36 WIB

PDIP Ungkap Lima Kegagalan Fatal Prabowo-Gibran Selama 2 Tahun Menjabat

Rabu, 21 Oktober 2026 - 00:15 WIB

Hasil Survei Indef Temukan Manfaat Program MBG dan KDKMP Belum Optimal bagi UMKM

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:55 WIB

2 Tahun Prabowo-Gibran, Program MBG Dinilai Perkuat Gizi Santri

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:35 WIB

2 Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo, ASI: Kepercayaan Masyarakat 61,4 persen

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:15 WIB

Aliansi Cipayung Plus Demo di DPRD Jambi, Desak Transparansi Dana Hutan dan Kebakaran Rp 30 Miliar

Berita Terbaru

Headline

2 Tahun Prabowo-Gibran, Program MBG Dinilai Perkuat Gizi Santri

Selasa, 20 Okt 2026 - 23:55 WIB