Dugaan Keracunan Massal MBG di Batang, Perwakilan BGN Sebut SPPG Bawang Terancam Skorsing Permanen – Halo Semarang

- Redaksi

Minggu, 27 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

HALO BATANG – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan Kepala Unit Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bela Batang Sejahtera di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang mengalami cacat, setelah ratusan orang diduga keracunan usai mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Hal itu disampaikan Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono saat menjenguk korban di Puskesmas Bawang, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, baru-baru ini.

Trenggono mengatakan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Batang pada pukul 07.00 WIB, terdapat sekitar 589 orang yang terkena dampak.

Dari jumlah tersebut, 127 orang masih menjalani perawatan yang tersebar di dua rumah sakit dan empat puskesmas.

“Untuk Kabupaten Batang, pemutakhiran data Dinkes Batang pada pukul 07.00 ada sekitar 589 orang. Kemudian mulai membaik. Yang masih dirawat hanya 127 orang, tersebar di dua RS dan empat Puskesmas,” ujarnya, seperti dirilis Batangkab.go.id.

Korban yang terdampak ada yang pelajar dan orang dewasa. Beberapa orang tua atau anggota keluarga diduga mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang oleh anaknya.

Kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu dievaluasi dalam pelaksanaan program MBG.

Menurut dia, jika MBG dibawa pulang oleh anak tersebut, pihaknya akan kesulitan melakukan pengecekan, termasuk kapan makanan tersebut dikonsumsi.

“BGN akan memberikan edukasi lebih lanjut mengenai mekanisme penyediaan pangan MBG,” ujarnya.

BGN juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), agar pangan MBG dapat dikonsumsi oleh penerima manfaat di sekolah.

“Keterlibatan sekolah diperlukan untuk memastikan makanan yang diberikan kepada penerima manfaat sesuai ketentuan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, sekolah perlu menunjuk petugas atau penanggung jawab untuk memastikan makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat yang ditunjuk.

Perlu juga keterlibatan dari guru-guru yang diberikan PIC di sekolah untuk mendisiplinkan bahwa makanan tersebut diperuntukkan bagi penerima manfaat, dalam hal ini siswa.

Terkait status Kepala SPPG Bela Batang Sejahtera yang sebelumnya disebut masih aktif, Trenggono menegaskan, kepala dapur langsung dinonaktifkan setelah kasus keracunan terjadi.

“Kebijakan ini berlaku otomatis setiap terjadi kejadian keracunan terkait operasional SPPG. Setiap ada kejadian, baik keracunan atau lainnya, otomatis kitchen head dan operasional dapur terhenti. Kitchen head langsung dinonaktifkan,” tegasnya.

Penonaktifan bukan berarti kitchen head langsung meninggalkan lokasi. Masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan selama proses evaluasi dan perbaikan dapur.

Sementara operasional SPPG untuk sementara dihentikan atau dihentikan. Status penghentian dapat ditingkatkan menjadi skorsing permanen, apabila hasil penyelidikan menunjukkan adanya pelanggaran.

Keputusan ini akan mempertimbangkan hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan pemeriksaan kepolisian.

“Apalagi dengan dampak seperti ini, mungkin nanti suspensi berat akan berujung pada suspensi permanen. Karena saya akan cek ke dapur dulu. Lalu selidiki juga dari lab, dari Dinkes, lalu dari kepolisian ada dari Dinkes, Labfor,” ujarnya.

Trenggono menambahkan, yayasan dan mitra mempunyai peran penting dalam penyediaan fasilitas dan operasional dapur.

Oleh karena itu, kerja sama yang tidak berjalan baik bisa menjadi alasan BGN menghentikan operasional dapur.

Ia pun mengapresiasi langkah cepat Pemkab Batang dalam menangani para korban.

Ia mengatakan, penanganannya melibatkan berbagai unsur mulai dari pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, kepolisian, TNI hingga BPBD.

“Kami berterima kasih kepada Pemda Kabupaten Batang yang begitu cepat, begitu sigap dibantu oleh jajarannya baik dari Polri, Kodim, BPBD dan lainnya sehingga penanganannya baik, cepat,” ujarnya.

Berdasarkan perkembangan terakhir, sebagian besar korban mulai menunjukkan perbaikan. Pemerintah daerah dan BGN masih melakukan pemantauan dan penyelidikan untuk mengetahui penyebab kejadian dan mencegah kasus serupa terulang kembali.

Coba lihat

Sementara itu, saat sidak di dapur SPPG Bela Batang Sejahtera, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Sabtu (26/9/2026), Trenggono menemukan sejumlah permasalahan.

“Bangunan yang dijadikan dapur SPPG ini dulunya bekas gedung koperasi. Kondisi ini menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menilai kesesuaian dapur. Ternyata bekas gedung koperasi ini dijadikan dapur. Jadi mungkin banyak yang kurang sesuai,” jelasnya.

Trenggono juga menyoroti pengolahan bahan makanan, khususnya telur, yang menurutnya tidak sesuai prosedur yang benar.

Dikatakannya, telur dimasak pada pukul 07.30 WIB, kemudian proses pengukusan dilakukan pada pukul 03.30 WIB.

“Temuan ini akan menjadi bahan evaluasi BGN terhadap operasional SPPG Bela Batang Sejahtera. Selain proses pengolahan makanannya, makanan MBG dibawa pulang oleh siswa untuk kemudian dikonsumsi oleh anggota keluarga,” jelasnya.

Menurutnya, pangan MBG diperuntukkan bagi penerima manfaat dan memiliki batasan waktu konsumsi yang harus dipatuhi. MBG apa pun tidak boleh dibawa pulang, itu tidak diperbolehkan. Jadi MBG sudah ada labelnya, jam berapa dimakan.

Ia juga menjelaskan, pangan yang sudah melewati batas konsumsi tidak boleh lagi dibagikan kepada pihak lain, karena dapat menimbulkan risiko.

Petugas dapur hendaknya mengambil kembali wadah makanan setelah waktu makan berakhir sesuai ketentuan.

Misalnya kalau pelabelannya sebelum jam 11.00 WIB, berarti jam 11.00 WIB petugas dapur harus datang ke sana untuk mengambil tempat yang sudah selesai makan. Jadi tidak bisa lagi dibagikan ke pihak lain karena berbahaya sekali kalau sudah lewat waktu, ”tegasnya.

Berdasarkan temuan tersebut, Trenggono mengatakan SPPG Bela Batang Sejahtera saat ini masuk dalam kategori suspensi berat. Keputusan mengenai kelangsungan operasional SPPG akan menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.

Yang jelas kita suspend, serius-serius kita suspend. Ke mana kita selanjutnya kita lihat penyidikannya.

Trenggono juga menegaskan, pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG bukan hanya tanggung jawab BGN saja. Pemerintah daerah, TNI-Polri, dan berbagai unsur terkait perlu ikut serta mengawasi pelaksanaan program ini di daerahnya masing-masing.

Dalam sidak tersebut, Trenggono juga menyoroti persoalan kekurangan personel atau relawan di dapur SPPG. Menurut dia, kepala dapur sebelumnya sudah menyampaikan kekurangan staf tersebut kepada mitra dan yayasan, namun belum menerima tindak lanjut.

“Koordinasinya memang kurang baik, kerjasama yang baik antara yayasan, mitra, dan kepala dapur. Kepala dapur sudah menyampaikan kekurangan personel. Jumlah penerima manfaat harus disesuaikan dengan kapasitas dapur, termasuk ketersediaan personel untuk menangani proses produksi dan distribusi pangan,” ujarnya.

Jangan memaksakan penerima manfaat dalam jumlah besar, padahal tenaga atau tenaga yang ada di dapur, para relawan, kurang memadai.

Ia berharap koordinasi antara yayasan, mitra, dan pengelola dapur ditingkatkan sehingga pelaksanaan MBG dapat memenuhi standar pelayanan dan keamanan pangan bagi penerima manfaat. (HS-08)

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Sinopsis A Prophet, Drama China Thriller Terbaru Li Xian di WeTV
Menteri Haji Minta Jemaah Mulai Mempersiapkan Fisik Sejak Dini — Batam Hari Ini
Basarnas Perpanjang Pencarian Korban Feri Virgo Hingga Tujuh Hari
Guntur Romli Sindir Jokowi: Diminta Tunjukkan Ijazah, Kenapa Malah Pamer Kartu Anggota PSI
Wapres Gibran Berikan Arahan Penanganan Bencana Banjir Bandang di Solok
Wakapolres Pelalawan Langsung Pimpin Patroli Malam Berantas Balapan Liar
BOBB XX Payakumbuh Diikuti 1.100 Peserta, SMAN 1 Payakumbuh Juara Umum
Mantan Kapolri Da’i Bachtiar Menjadi Komisaris Bank Mayapada
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 16:17 WIB

Sinopsis A Prophet, Drama China Thriller Terbaru Li Xian di WeTV

Minggu, 27 September 2026 - 15:51 WIB

Menteri Haji Minta Jemaah Mulai Mempersiapkan Fisik Sejak Dini — Batam Hari Ini

Minggu, 27 September 2026 - 15:34 WIB

Basarnas Perpanjang Pencarian Korban Feri Virgo Hingga Tujuh Hari

Minggu, 27 September 2026 - 14:51 WIB

Dugaan Keracunan Massal MBG di Batang, Perwakilan BGN Sebut SPPG Bawang Terancam Skorsing Permanen – Halo Semarang

Minggu, 27 September 2026 - 14:34 WIB

Guntur Romli Sindir Jokowi: Diminta Tunjukkan Ijazah, Kenapa Malah Pamer Kartu Anggota PSI

Berita Terbaru