SERANG,– Seorang jurnalis di Kabupaten Serang bernama Kosasih Sukmawijaya alias Aden diduga menjadi korban pengeroyokan petugas polisi saat meliput ricuh demonstrasi HUT ke-500 Kabupaten Serang, Kamis (09/10/2026) malam.
Akibat kejadian tersebut, Aden mengalami luka lebam di bagian wajah, tangan dan kaki terkilir hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang untuk mendapatkan perawatan medis.
“Saya diserang petugas polisi, ponsel saya juga disita,” kata Aden, Kamis (10/9/2026) malam.
Menurut Aden, peristiwa itu terjadi saat aksi unjuk rasa yang digelar Pengurus Pusat Himpunan Mahasiswa (Hamas) Serang di kawasan Pendopo Kabupaten Serang berakhir ricuh sekitar pukul 20.30 WIB.
Saat kericuhan terjadi, ia mengaku sudah menjelaskan identitasnya sebagai jurnalis yang bertugas melakukan peliputan.
“Saya sudah bilang saya jurnalis. Ada juga yang bilang saya jurnalis, tapi tetap dipukuli,” kata Aden.
Sementara itu, saksi yang juga jurnalis di Kabupaten Serang, Saepul Arifin mengatakan, sebelum mengeroyok Aden, petugas polisi mendatangi sejumlah pedagang di aula Bupati Serang untuk mengecek ponselnya.
“Saat itu Aden masuk ke pintu gerbang pendopo dan saya lihat dia langsung ditahan petugas polisi. Lalu mereka juga mendatangi saya, tapi saya langsung lari, karena saat itu dia sudah dalam masalah,” kata Saepul.
Sebelumnya, aksi penyampaian aspirasi Hamas di kawasan Pendopo Kabupaten Serang, Kamis (10/9/2026) malam, relatif kondusif. Situasi memanas setelah massa aksi membakar ban dan mengecat sebagian tembok Pendopo Kabupaten Serang.
Berdasarkan informasi dari salah satu anggota Hamas, Mamat, situasi semakin tegang setelah aparat memberikan instruksi kepada satpam untuk bersiap. Setelah itu, lampu di sekitar lokasi dikabarkan dimatikan.
“Yang pertama sudah ada pergerakan. Polisi sudah memberikan instruksi, ‘Siap bergerak, siap bergerak’. Dia sudah dengar,” kata Mamat.
Tak lama kemudian, menurutnya, lampu dimatikan dan terjadi kerusuhan.
Benar, siap bergerak, siap bergerak, segera matikan lampu. Ya, ricuh, jelasnya.
Dalam kondisi gelap dan situasi tak terkendali, sejumlah peserta aksi mengaku mendapat kekerasan dari aparat. Mamat mengatakan, seorang siswi bahkan menangis setelah diduga dipukul.
Kericuhan kemudian menjalar hingga ke luar pintu gerbang Pendopo Kabupaten Serang. Ketua Umum Hamas yang disebut-sebut dalam kondisi tidak berdaya juga diduga mendapat pengeroyokan dari sejumlah petugas.
Sejumlah petinggi Hamas yang hendak mengambil kendaraannya juga disebut dikejar dan ditahan petugas.
Sedikitnya lima petinggi Hamas, menurut keterangan Mamat, dibawa ke Polres Serang Kota.
“Awalnya cuma tiga. Adul dan Nedi sama-sama diperkirakan lima orang,” kata Mamat.
Ia mengaku baru mengetahui lebih jelas kondisi sejumlah rekannya setelah melihat rekaman video kerusuhan tersebut.
“Setelah kita lihat di video, parah, sampai ditinju seperti itu. Rata-rata teman-teman juga kecewa. Hampir semuanya luka-luka,” tutupnya.
Hingga berita ini diturunkan, Polres Serang Kota dan Polda Banten belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pengeroyokan terhadap jurnalis tersebut. Padahal, tugas jurnalis dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
*Penulis: David Nababan*
Tampilan Postingan: 0
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency















