TVRINews – Paris, Perancis
Ribuan Siswa Turun ke Jalan Menuntut Perbaikan Fasilitas Sekolah dan Mengatasi Krisis Guru
Gelombang demonstrasi besar-besaran yang dipimpin oleh siswa sekolah menengah di seluruh Prancis telah memasuki hari kesepuluh pada Kamis 8 Oktober 2026. Aksi yang dipicu oleh krisis kekurangan guru, rusaknya fasilitas sekolah, dan jam belajar yang panjang, kembali diwarnai ketegangan setelah bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan kembali terjadi di sejumlah kota besar, antara lain Paris, Lyon, dan Marseille.
Di ibu kota, sekitar 25.000 pelajar memadati Place de la Bastille sambil mengibarkan bendera nasional dan menyanyikan lagu kebangsaan Marseille. Menjelang malam, situasi meningkat ketika petugas polisi anti huru hara menggunakan gas air mata, peluru dan pentungan untuk membubarkan massa setelah beberapa pengunjuk rasa melemparkan botol dan batu ke arah petugas.
Eliane, siswi berusia 16 tahun yang ikut aksi di Paris, menegaskan tekadnya untuk bertahan kepada The Guardian. Ia datang untuk membela sekolah yang kondisinya jauh lebih memprihatinkan.
“Kami datang untuk membela dan menyemangati sekolah-sekolah yang kondisinya lebih buruk dari saya,” ujarnya. Ia menambahkan, aksi ini akan terus berlanjut hingga tercapai kemajuan konkrit.
Menanggapi meningkatnya tekanan publik, Menteri Pendidikan Édouard Geffray mengumumkan tindakan darurat. Kepada stasiun televisi TF1, Geffray menyatakan, 3.000 guru pengganti akan segera dikerahkan ke sekitar 100 sekolah menengah yang mengalami kekurangan tenaga pengajar paling parah, mulai Jumat 9 hingga Selasa 13 Oktober 2026. Selain itu, pemerintah juga berencana merekrut ratusan guru baru.
Namun respon pemerintah dinilai kurang memadai oleh perwakilan mahasiswa. Ryad Rani, ketua salah satu serikat siswa sekolah menengah, mengatakan para pengunjuk rasa belum melihat adanya langkah konkrit atau jawaban yang memuaskan atas tuntutan mereka.
Senada dengan itu, Sabrine Kharbach dari himpunan mahasiswa lainnya menegaskan, gerakan protes ini tidak akan berhenti sebelum ada komitmen anggaran yang jelas.
Tindakan tersebut akan dilakukan selama 10 miliar euro belum dialokasikan ke meja perundingan, jumlah yang menurut para pelajar dan politisi sayap kiri sangat mendesak untuk menyelamatkan sistem pendidikan Prancis.
Di sisi lain, jajak pendapat Elabe untuk BFM TV mencatat 72% masyarakat Prancis menganggap tuntutan mahasiswa tersebut sah, sementara 55% berpendapat demonstrasi harus dihentikan.
Di tengah situasi politik yang sensitif menjelang pemilihan presiden, ketegangan ini membuat pemerintah berada dalam dilema antara tuntutan masyarakat untuk meningkatkan pelayanan publik dan tekanan untuk mengurangi defisit anggaran negara.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














