Demonstrasi Kenaikan Biaya Pendidikan, 107 Orang di Belgia Ditangkap

- Redaksi

Jumat, 9 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

3 min baca

Aksi demonstrasi (magnific.com/storyset)

  • Ratusan murid dan pelajar di Liège memprotes rencana kenaikan biaya sekolah tahunan dari 835 euro menjadi 1,194 euro, dan menuntut perbaikan fasilitas pendidikan.
  • Aksi memanas di Place Saint-Lambert dengan pembakaran halte trem dan vandalisme toko; polisi membubarkan massa dengan menggunakan gas air mata dan meriam air dan menangkap 107 orang.
  • Setelah dilakukan blokade jalan, penutupan toko lebih awal, dan pemeriksaan barang bawaan, aksi selanjutnya di depan Athénée Léonie de Waha berlangsung tertib tanpa adanya gesekan lebih lanjut.

Ringkasan bagian ini dibantu oleh AI dan ditinjau oleh tim editorial kami.

Jakarta, IDN Times – Demonstrasi yang dilakukan ratusan pelajar dan mahasiswa di Kota Liège, Belgia, berakhir ricuh dan melumpuhkan sejumlah fasilitas umum. Gerakan protes besar-besaran ini dipicu oleh aksi serupa yang sebelumnya terjadi di Prancis terkait penolakan kebijakan pendidikan.

Aparat kepolisian setempat langsung dikerahkan ke titik berkumpulnya massa untuk membendung kerusuhan agar tidak meluas ke wilayah lain. Petugas mengambil tindakan pengamanan ketat setelah situasi di pusat kota dinilai tidak kondusif dan mengancam ketertiban umum.

  1. 1. Tuntutan untuk menolak kenaikan biaya pendidikan yang memberatkan

    Gelombang penolakan ini berakar pada kebijakan baru Pemerintah Federasi Wallonia-Brussels. Mahasiswa menentang keras rencana kenaikan biaya sekolah tahunan dari 835 euro (Rp 16,75 juta) menjadi 1.194 euro (Rp 23,95 juta) karena dianggap semakin memberatkan keuangan keluarga.

    Selain menolak kenaikan biaya pendidikan, massa juga menuntut perbaikan fasilitas penunjang pembelajaran di sekolah dan kampus. Peserta aksi mengeluhkan ruang kelas yang terlalu padat dan terbatasnya akses terhadap buku pelajaran. Mereka menekankan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara.

    Kemarahan mahasiswa komunitas berbahasa Prancis di Belgia semakin meningkat menyusul demonstrasi serupa di negara tetangga.

    “Saat kami menyadari tidak akan ada perubahan tanpa protes, kami memutuskan untuk turun ke jalan,” kata salah satu mahasiswa, Amelia Di Salve, seperti dilansir Al Jazeera.

  2. 2. Kerusuhan di pusat kota berujung pada penangkapan massal

    Situasi mulai memanas ketika beberapa pengunjuk rasa membakar halte trem dan merusak sejumlah toko di kawasan Place Saint-Lambert. Akibat kerusakan tersebut, manajemen terpaksa menutup sementara stasiun utama kereta Liège-Guillemins demi keselamatan penumpang.

    Petugas anti huru hara merespons aksi massa yang memanas dengan menembakkan gas air mata dan mengerahkan meriam air untuk membubarkan massa. Bentrokan di sekitar Universitas Liège menyebabkan kerusakan pada jendela toko dan kebakaran di jalan utama.

    Kerusuhan yang berlangsung hingga malam hari memaksa polisi mengambil tindakan tegas. Polisi menangkap 107 orang karena dicurigai merusak fasilitas dan membakar properti.

  3. 3. Situasi berangsur kondusif melalui aksi unjuk rasa yang damai

    Menanggapi situasi keamanan yang memburuk, sistem peringatan darurat nasional Belgia meminta pemilik bisnis untuk menutup toko lebih awal. Polisi juga memberlakukan blokade di jalan-jalan utama untuk menghalangi pergerakan kelompok demonstran.

    Aparat melakukan pemeriksaan ketat terhadap barang-barang milik peserta aksi guna menyita senjata tajam sebelum massa mendekati area kantor dan gedung pengadilan. Sehari setelah kejadian, konsentrasi massa di depan sekolah Athénée Léonie de Waha mulai kondusif tanpa ada gesekan lebih lanjut.

    Para mahasiswa memilih menyampaikan aspirasinya secara tertib agar tuntutannya mendapat respon positif dari pengambil kebijakan.

    “Saya berharap ketenangan akan kembali dan perundingan perdamaian dapat terjalin sehingga keinginan anak-anak muda ini dapat didengar,” kata Walikota Liège, Willy Demeyer.

Artikel ini ditulis oleh penulis komunitas kami dan telah ditinjau dengan cermat oleh tim editorial kami. Kami berusaha keras untuk memberikan informasi yang paling akurat dan andal, memastikan standar kualitas, kredibilitas, dan kepercayaan yang tinggi.

Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency

Berita Terkait

Prabowo-Gibran Dua Tahun: APBN Perkuat Program Prioritas
Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 180 Triliun di Maluku Utara
MK Tak Terima Gugatan Gibran Soal Syarat Pendidikan, Ini Tanggapan Jokowi
Klasemen Klub ASEAN Terbaru: Wakil Malaysia di Puncak, Persib Peringkat Kedua, Kalimantan Tercecer
Gibran Terus Diserang, Sebenarnya Siapa yang Diuntungkan Menuju 2029?
Honda SH Mode 125 Model Terbaru 2027 Dirilis, Masuk Eropa dengan Harga Rp 56 Jutaan!
MOTOGP DAN PRESIDEN JOKOWI | Pendapat
Prabowo Menjadi Jagoan Golkar di Pilpres 2029
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:50 WIB

Prabowo-Gibran Dua Tahun: APBN Perkuat Program Prioritas

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:30 WIB

Prabowo Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp 180 Triliun di Maluku Utara

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:10 WIB

Demonstrasi Kenaikan Biaya Pendidikan, 107 Orang di Belgia Ditangkap

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:50 WIB

MK Tak Terima Gugatan Gibran Soal Syarat Pendidikan, Ini Tanggapan Jokowi

Jumat, 9 Oktober 2026 - 08:30 WIB

Klasemen Klub ASEAN Terbaru: Wakil Malaysia di Puncak, Persib Peringkat Kedua, Kalimantan Tercecer

Berita Terbaru

Headline

Prabowo-Gibran Dua Tahun: APBN Perkuat Program Prioritas

Jumat, 9 Okt 2026 - 09:50 WIB