Makassar, JurnalPost.com — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Sulawesi Selatan untuk mewaspadai kombinasi angin kencang dan udara panas dalam beberapa hari ke depan. Tiga peringatan dini harian berlaku mulai 21–23 September 2026 dengan wilayah terdampak berbeda setiap harinya.
Kondisi ini muncul saat sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan masih dalam masa kemarau. Cuaca cerah hingga mendung membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih optimal, sekaligus penguatan angin timur dapat meningkatkan kecepatan angin di sejumlah wilayah.
Untuk Senin (21/9/2026), BMKG memperkirakan suhu udara di Sulsel berkisar 19-37 derajat Celcius dengan kelembapan 45-100 persen. Angin umumnya bertiup dari Timur Laut ke Tenggara dengan kecepatan sekitar 10–40 kilometer per jam.
Angin kencang berpotensi mencapai 46 km/jam
Dalam tiga peringatan dini harian BBMKG Wilayah IV Makassar, potensi angin kencang dengan status waspada berada pada kisaran 20-25 knot atau sekitar 37-46 kilometer per jam.
Pada Senin, wilayah yang perlu diwaspadai angin kencang antara lain Barru, Bantaeng, Bulukumba, Gowa, Jeneponto, Kepulauan Selayar, Maros, Pangkep, Parepare, Pinrang, Sidrap, Soppeng, dan Takalar.
Peringatan serupa berlanjut pada Selasa (22/9/2026) di Barru, Bantaeng, Bulukumba, Gowa, Jeneponto, Kepulauan Selayar, Maros, Pangkep, Parepare, Pinrang, Sidrap, Soppeng, Takalar, dan Wajo.
Sedangkan pada Rabu (23/9/2026), wilayah yang masih perlu diwaspadai antara lain Barru, Bantaeng, Bulukumba, Gowa, Jeneponto, Kepulauan Selayar, Maros, Pangkep, Soppeng, dan Takalar.
Prakiraan BMKG Wilayah IV Makassar, Nur Asia Utami sebelumnya menjelaskan penguatan angin timur menjadi salah satu faktor utama pemicu peningkatan kecepatan angin di Sulawesi Selatan.
Potensi angin kencang di Sulsel dalam beberapa hari ke depan dipengaruhi oleh angin timur yang semakin kencang, kata Nur Asia.
Selain pola angin regional, menurut BMKG, perbedaan tekanan udara dan kondisi topografi dapat menyebabkan penguatan angin secara lokal. Fenomena tersebut juga tidak serta merta menjadi pertanda Sulsel sudah memasuki pergantian musim.
Makassar hingga Pangkep dalam peringatan udara panas
Selain angin kencang, perhatian juga tertuju pada udara panas. Untuk Senin, kategori waspada meliputi Bantaeng, Barru, Bulukumba, Enrekang, Gowa, Jeneponto, Kepulauan Selayar, Makassar, Maros, Palopo, Pangkep, Parepare, Sinjai, dan Takalar.
Sedangkan Bone, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Pinrang, Sidrap, Soppeng dan Wajo masuk kategori waspada udara panas.
Kategori ini perlu dibaca dengan cermat. Peringatan “udara terasa panas” tidak sama dengan pernyataan bahwa suhu termometer di seluruh kawasan akan mencapai 40-45 derajat Celcius.
BMKG Wilayah IV Makassar sebelumnya menjelaskan, indikator udara panas tidak hanya mempertimbangkan suhu yang tercatat di termometer. Kondisi kelembapan dan angin juga menentukan seberapa panas udara terasa bagi tubuh.
Kepala Tim Meteorologi dan Subkoordinator Pelayanan BBMKG Wilayah IV Makassar Rizky Yudha Pahlawan mengatakan, minimnya tutupan awan membuat radiasi matahari bisa menjangkau dan memanaskan permukaan bumi dengan lebih optimal.
Karena kondisi cuaca cerah, tutupan awan berkurang bahkan nihil, kata Rizky.
Secara nasional, BMKG mencatat musim kemarau dan kondisi atmosfer kering masih dominan. Pada pertengahan September, suhu maksimum lebih dari 36 derajat Celcius juga tercatat di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Selatan. Kondisi kering tersebut diperkuat dengan kategori El Niño sangat kuat yang diperkirakan masih berlaku hingga awal tahun 2027.
Hujan lokal masih mungkin terjadi
Meski udara panas menjadi perhatian utama, namun peluang turunnya hujan belum sepenuhnya hilang. Pada Senin siang hingga malam, hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian Enrekang, Gowa, Luwu, Luwu Timur, Luwu Utara, Sidrap, Tana Toraja, Toraja Utara, dan Wajo.
Pada malam hari, potensi hujan ringan lebih terbatas terutama di sebagian Luwu Timur dan Luwu Utara. Sementara wilayah lainnya umumnya kondisinya berawan.
Outlook nasional BMKG periode 21–24 September juga menempatkan Sulawesi Selatan sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan hujan dengan intensitas sedang. Namun Sulawesi Selatan tidak masuk dalam kategori waspada hujan lebat hingga sangat deras pada periode tersebut.
Artinya, masyarakat tetap perlu mengantisipasi perubahan cuaca setempat. Kondisi panas dan cerah pada siang hari tidak menutup kemungkinan terbentuknya awan hujan di wilayah tertentu.
BMKG meminta masyarakat mengurangi paparan panas
BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi mereka yang bekerja atau beraktivitas di luar pada siang hari. Penggunaan perlindungan dari paparan sinar matahari langsung juga disarankan untuk mengurangi dampak cuaca panas.
Waspada terhadap angin kencang juga penting. Ranting atau pohon yang rapuh, baliho, atap bangunan yang ringan dan benda-benda yang tidak terpasang erat berpotensi terdampak bila kecepatan angin meningkat.
Masyarakat juga diminta terus memantau perkembangan prakiraan dan peringatan dini BMKG karena kondisi cuaca dan wilayah terdampak dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer.
Dengan masih dominannya kekeringan, perhatian tidak hanya diarahkan pada angin dan panas. Kondisi kemarau yang berkepanjangan juga meningkatkan risiko kekurangan air dan kebakaran lahan. Oleh karena itu, masyarakat diminta menghindari aktivitas pembakaran terbuka dan lebih berhati-hati terhadap sumber api di daerah kering.
Konten di atas dibuat oleh pihak ketiga. Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi maupun akibat yang ditimbulkan oleh konten ini. Agregator artikel oleh JetMedia Digital Agency














